Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah

Mengharmonikan Akidah dan Akhlak

Mengharmonikan Akidah dan Akhlak
Bismillah...

Akidah merupakan suatu kemestian yang harus dipelajari oleh setiap muslim sebagaimana akhlak, adab, etika. 

Keduanya akidah dan akhlak memiliki hubungan yang sangat erat, keadaannya saling melengkapi satu sama lain, jika akidah diibaratkan raja maka akhlak mahkotanya.

Akidah atau i'tiqad adalah keyakinan hati yang terjaga di dalam batin dan yang paling fundamental adalah tauhid. Sedangkan akhlak artinya perangai yang tampak pada lahir atau perilaku sikap. Baik akhlak kepada Allah, kepada Rasul-Nya, maupun kepada sesama.

Pembekalan ilmu akidah dan akhlak akan memberi pengaruh pada diri seseorang yang tercermin pada keteguhan imannya, tawakkalnya, kualitas ibadahnya dan taqarrubnya kepada Allah, baiknya interaksi kepada sesama.

Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan,

أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. At-Tirmidzi 1162 beliau berkata hasan shahih)

Syaikh Al-'Allamah bin Baz rahimahullah ketika mensyarh hadits ini beliau menjelaskan, 

"Termasuk kesempurnaan iman seseorang adalah baik akhlaknya ketika berinteraksi dengan orang tua, keluarga, saudara, guru, tetangga, teman duduk, dan selain mereka, ucapannya tidak kasar atau berlaku yang tidak semestinya."

Inilah manhaj salaf yang paling mendasar. Siapa yang sungguh-sungguh mempelajari manhaj salaf dia akan menaruh perhatian yang besar kepada masalah akidah dan akhlak. 

Jangan seperti dua sisi mata uang yang saling berlawanan, kecenderungan kepada perkara akidah mengabaikan sisi akhlak atau kecenderungan kepada perkara akhlak mengabaikan sisi akidah. Tentu yang demikian itu menjadi timpang tidak sempurna.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02qh91AukHD8frc3BwAM7BzHaJ4SWQ17tqjL5fDkUK2W8SbVMwMoLehTLdyyX1APNUl&id=100001764454087


https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tidak perlu Saling Mendoakan Dan Memberi Selamat Tahun Baru Masehi

Tidak perlu Saling Mendoakan Dan Memberi Selamat Tahun Baru Masehi
Bismillah...

- Jalanilah malam tahun baru sebagaimana malam-malam biasanya. Tidak ada yang spesial di malam tahun baru.

- Apabila biasa kumpul keluarga, maka kumpul keluarga. Yang biasa baca buku, silakan baca buku, yang memang ada kajian RUTIN malam itu, silahkan kajian 

- Tidak perlu membuat “saingan” berupa kegiatan Islami DALAM RANGKA menyambut tahun baru masehi

Berikut ini adalah pernyataan yang kurang tepat:

“Daripada kumpul-kumpul malam tahun baru untuk bakar kembang api dan niup terompet seperti orang Yahudi, mendingan malam tahun baru kita berkumpul buat pengajian dan saling mendoakan”

“Saya ikut tahun baru sekedar formalitas aja kok, gak enak ama temen, gak niat merayakannya juga, saya sudah tahu hukumnya”

- Intinya tidak perlu membuat acara khusus dalam rangka menyambut tahun baru masehi. Tidak perlu membuat majelis dzikir atau pengajian dalam rangka tahun baru masehi

- Karena jelas tahun baru masehi bukan perayaan kaum Muslimin dan jelas itu adalah perayaan non-muslim serta memiliki sejarah yang terkait dengan agama kuno Romawi.

Sebagaimana dalam buku “The World Book Encyclopedia” vol.14 hal.237 dijelaskan: “Semenjak abad ke 46 SM raja Romawi julius caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun. Orang Romawi mempersembahkan hari 1 Januari kepada janus, dewa segala gerbang pintu-pintu dan permulaan (waktu)“.

- Mengenai ucapan selamat, ada ulama yang menjelaskan, ucapan selamat boleh-boleh saja, berdoa dengan doa mutlak (kapan saja boleh berdoa), hanya saja TIDAK boleh dikaitkan dengan momentum tahun baru

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Daud, shahih)


⭕️ Sumber: https://muslim.or.id/24091-bolehkah-saling-mendoakan-dan-memberi-selamat-tahun-baru-masehi.html


Penyusun: Ustadz Raehanul Bahraen


Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Meninggal Malam Jumat, Jaminan Aman dari Siksa Kubur?

Meninggal Malam Jumat, Jaminan Aman dari Siksa Kubur?
Bismillah...

Benarkah orang yang meninggal di malam jumat tidak mendapat pertanyaan kubur? 

Karena Raja Saudi, Raja Abdullah meninggalnya malam jumat. Apakah ini keistimewaan bagi beliau? Karena ada beberapa orang yang begitu bahagia dengan kematian beliau. Seperti ISIS.

✅ Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita perhatikan beberapa hadis berikut,

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

"Setiap muslim yang meninggal di hari jumat atau malam jumat, maka Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur". (HR. Ahmad 6739, Turmudzi 1074 dan dihasankan al-Albani).

🔰 Makna: ‘Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur’ dijelaskan al-Mubarokfury dalam Syarh Sunan Turmudzi,

أي حفظه الله من فتنة القبر أي عذابه وسؤاله، وهو يحتمل الإطلاق والتقييد، والأول هو الأولى بالنسبة إلى فضل المولى

"Artinya, Allah jaga dia dari fitnah kubur, yaitu pertanyaan dan adzab kubur. Dan hadis ini bisa dimaknai mutlak (tanpa batas) atau terbatas. Namun makna pertama (mutlak) lebih tepat, mengingat karunia Allah yang sangat luas". (Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Turmudzi, 4/160).

🟩 Cara Agar Bisa Meninggal Hari Jumat

Semua aktivitas kita diliputi ruang dan waktu. Dan dari dua ini, manakah yang lebih memungkinkan direncanakan? Kita sepakat, ruang (tempat) lebih memungkinkan. Karena lebih permanen. 

Berbeda dengan waktu yang terus berjalan secara dinamis.

Kita tarik untuk kasus kematian…

Ada orang merencanakan,

Saya ingin mati di usia 63 tahun

Saya ingin mati di jogja

Dari kedua pernyataan ini, mana yang lebih memungkinkan untuk direncanakan?

Jawabannya, yang kedua. Ketika ada orang yang bertekad ingin mati di jogja, dia bisa berusaha untuk selalu menetap di jogja apapun kondisinya. 

Meskipun bisa jadi, Allah menghendakinya meninggal di kota lain. Dengan Allah ciptakan sebab yang menggiring orang ini untuk meniggal di kota lain.

Dalam al-Quran, Allah menegaskan bahwa manusia tidak ada yang tahu DI MANA dia akan meninggal. 

Allah tidak berfirman, manusia tidak ada yang tahu KAPAN dia akan meninggal.

Allah berfirman,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

"Tidak ada satupun jiwa yang mengetahui di belahan bumi mana dia akan meninggal". (QS. Luqman: 34).

Artinya, jika tempat saja manusia tidak tahu, apalagi waktu. Sementara merencanakan tempat meninggal, itu lebih memungkinkan dari merencanakan waktu meninggal.

Karena itu, untuk bisa meninggal hari jumat atau malam jumat, manusia sama sekali tidak memiliki peran di atas. Semua itu murni kehendak Allah. 

Allah pilih siapa diantara hamba-Nya yang berhak mendapatkan keutamaan itu. 

Sementara manusia hanya bisa berdoa dan berharap.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menuliskan,

قال الزين ابن المنيِّر: تعيين وقت الموت ليس لأحد فيه اختيار، لكن في التسبب في حصوله مدخل؛ كالرغبة إلى الله لقصد التبرك، فمن لم تحصل له الإجابة أثيب على اعتقاده

"Az-Zain Ibnul Munayir menjelaskan: ‘Tidak ada seorangpun yang memiliki pilihan untuk menentukan waktu kematian. 

Hanya saja dia punya kesempatan untuk mengambil sebab agar bisa mendapatkannya. Seperti banyak berharap kepada Allah untuk tujuan mengambil berkah. 

Ketika harapannya tidak terwujud, dia mendapatkan pahala atas keyakinannya.’" (Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari, 3/253).

🟩 Bahagia dengan Kematian Mukmin

Menampakkan kebahagiaan ketika ada sesama saudara muslim yang tertimpa musibah, disebut as-Syamatah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras tindakan ini.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ

"Janganlah kalian menampakkan syamatah di hadapan saudaramu. Bisa jadi Allah merahmati saudaramu, kemudian Allah membalik keadaan dengan memberikan ujian untukmu". (HR. Turmudzi 2694 dan dinilai al-Albani sebagai hadis Hasan Gharib).

Kita tidak tahu, apa kaitan mereka dengan raja Abdullah? 

Sehingga mereka begitu senang dan gembira dengan kematian beliau. 

Apakah raja Abdullah pernah mendzalimi mereka? Mereka bukan rakyat Saudi, bagaimana raja Saudi bisa mendzalimi mereka yang bukan rakyatnya.

Namanya manusia, pasti ada kesalahan dan kekurangan. 

Dan kita diperintahkan untuk tutup mulut, tidak memberikan komentar miring kepada orang yang melakukan kesalahan, ketika yang bersangkutan telah meninggal.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

"Janganlah kalian mencela orang yang telah mati, karena mereka telah medapat balasan dari amal mereka". (HR. Ahmad 26212, Bukhati 1393, dan yang lainnya)

Semoga kita bisa memahaminnya.


Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Shalat Dhuha: Membuka Pintu Rezeki?

Shalat Dhuha: Membuka Pintu Rezeki?
Bismillah...

Benarkah Shalat Dhuha Membuka Pintu Rezeki?

Apakah shalat dhuha memperlancar rezeki? trim’s

✅ Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Islam mengajarkan, agar kita berusaha mengejar kebahagiaan akhirat sebanyak-banyaknya, melebihi usaha kita dalam mengejar dunia.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi". (QS. Al-Qashas: 77)

Anda bisa perhatikan, Allah mengajak kita untuk menjadikan dunia ini kesempatan mencari kebahagiaan bagi akhirat, sebisa yang kita lakukan. Akan tetapi, jangan 100%. Jangan lupakan bagian dari kehidupan dunia.

Setiap muslim, pasti dia melakukan aktivitas dunia dan aktivitas akhirat. Berdasarkan ayat diatas, seharusnya aktivitas akhirat, lebih banyak dari pada aktivitas dunia. Dengan kata lain, orientasi akhirat, lebih dominan dari pada orientasi dunia.

Namun sangat disayangkan, di zaman ini, prinsip yang diajarkan pada ayat di atas dibalik. Orientasi dunia, jauh lebih dominan dari pada orientasi akhirat. 

Bahkan sampai amal ibadah yang seharusnya dilakukan untuk akhirat, turut dikorbankan untuk mendapatkan dunia.

Lebih dari itu, ada satu ayat yang selayaknya perlu kita ingat ketika kita sedang beramal. Yaitu firman Allah,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ . أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Siapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka akan Kami berikan imbalan amal mereka di dunia dan tidak dikurangi. Mereka itulah orang-orang yang hanya akan mendapatkan neraka di akhirat dan terhapuslah segala yang telah mereka lakukan dan batal perbuatan yang telah mereka lakukan.” (QS. Hud: 15 – 16).

Untuk itu, murnikan niat amal kita untuk mendapat ridha Allah, dan bukan tendensi dunia. Agar amal kita menjadi amal yang ikhlas.

🟩 Keutamaan Shalat Dhuha untuk Akhirat

Terdapat banyak keutamaan shalat dhuha. Dan jika perhatikan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak menekankan masalah akhirat.

Kita simak beberapa hadis berikut,

1️⃣ Pertama, hadis dari Abu Buraidah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فِى الإِنْسَانِ ثَلاَثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلاً فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ ». قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ « النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ

"Dalam diri manusia terdapat 360 ruas tulang, wajib bagi semua orang untuk mensedekahi setiap ruas tulangnya.” Para sahabat bertanya: “Siapakah yang mampu melakukan hal itu, wahai Nabi Allah?” Beliau bersabda: “Menutupi ludah di masjid dengan tanah, menyingkirkan sesuatu dari jalan (bernilai sedekah). Jika kamu tidak bisa mendapatkan amalan tersebut maka dua rakaat Dhuha menggantikan (kewajiban)mu.” (HR. Abu Daud 5242, Ahmad 23037 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

2️⃣ Kedua, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَعْثًا فَأَعْظَمُوا الْغَنِيمَةَ ، وَأَسْرَعُوا الْكَرَّةَ ، فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا رَأَيْنَا بَعْثًا قَطُّ أَسْرَعَ كَرَّةً ، وَلا أَعْظَمَ مِنْهُ غَنِيمَةً مِنْ هَذَا الْبَعْثِ ، فَقَالَ : أَلا أُخْبِرُكُمْ بِأَسْرَعَ كَرَّةً مِنْهُ ، وَأَعْظَمَ غَنِيمَةً ؟ رَجُلٌ تَوَضَّأَ فِي بَيْتِهِ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ، ثُمَّ تَحَمَّلَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَلَّى فِيهِ الْغَدَاةَ ، ثُمَّ عَقَّبَ بِصَلاةِ الضَّحْوَةِ ، فَقَدْ أَسْرَعَ الْكَرَّةَ ، وَأَعْظَمَ الْغَنِيمَةَ

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus sekelompok utusan perang, kemudian utusan ini membawa banyak harta rampasan perang dan pulangnya cepat. Kemudian ada seorang berkata: “Wahai Rasulallah, kami tidak pernah melihat kelompok yang lebih cepat pulang dan lebih banyak membawa ghanimah melebihi utusan ini.” Kemudian Beliau menjawab: “Maukah aku kabarkan keadaan yang lebih cepat pulang membawa kemenangan dan lebih banyak membawa rampasan perang? Yaitu seseorang berwudlu di rumahnya dan menyempurnakan wudlunya kemudian pergi ke masjid dan melaksanakan shalat subuh kemudian (tetap di masjid) dan diakhiri dengan shalat Dhuha. Maka orang ini lebih cepat kembali pulang membawa kemenangan dan lebih banyak rampasan perangnya.”

(HR. Abu Ya’la dalam Musnadnya no. 6559, Ibn Hibban dalam Shahihnya no 2535, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib wat Tarhib 664)

3️⃣ Ketiga, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُحَافِظُ عَلَى صَلاةِ الضُّحَى إِلا أَوَّابٌ، وَهِيَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ

"Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada yang menjaga shalat Dhuha kecuali para Awwabin” beliau mengatakan: “Shalat Dhuha adalah shalatnya para Awwabin”".

(HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya no. 1224, Hakim dalam Mustadrak 1182 dan dihasankan al-A’dzami)

Awwabiin berasal dari kata Awwab, artinya orang yang kembali. Disebut Awwabin, karena mereka adalah orang yang kembali kepada Allah dengan melakukan ketaatan. (simak Faidhul Qadir 1/408).

Dan masih ada beberapa hadis lainnya.

🟩 Shalat Dhuha Vs Rezeki Lancar

Ada satu hadis, yang mungkin karena hadis ini masyarakat mengkaitkan shalat dhuha dengan pintu rezeki. 

Hadis dari Uqbah bin Amir al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ‎shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ اكْفِنِى أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ

Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai ‎anak adam, laksanakan untukKu 4 rakaat di awal siang, Aku akan cukupi ‎dirimu dengan shalat itu di akhir harimu.” (HR. Ahmad 17390, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib wat Tarhib 666 dan Syuaib al-Arnauth).‎

▶️▶️ Keterangan:

Ulama berbeda pendapat tentang 4 rakaat di awal siang yang dimaksudkan ‎di hadis ini. Ada yang mengatakan: shalat dhuha, ada yang berpendapat: shalat ‎isyraq, dan ada juga yang mengatakan: shalat qabliyah subuh dan shalat subuh. ‎

Sebagaimana keterangan Mula Ali Al-Qori dalam Al-Mirqah (3/980). Dan ‎ditegaskan oleh Ibnu Abdil Bar bahwa para ulama memahami empat rakaat ‎tersebut adalah shalat dhuha (Al-Istidzkar, 2/267)‎

Tentang kalimat ’Aku akan penuhi ‎dirimu’ Imam as-Sindi menjelaskan ada beberapa kemungkinan makna,

  • Aku cukupi dirimu sehingga terhindar dari kecelakaan dan segala musibah
  • Aku cukupi dirimu dengan diberikan penjagaan dari dosa dan ampunan terhadap perbuatan dosa yang dilakukan di hari itu.
  • Aku cukupi dirimu dalam segala hal.

(Ta’liq Musnad Ahmad Syuaib al-Arnauth, 28/613).

Jika kita perhatikan, hadis diatas tidak secara tegas menunjukkan bahwa shalat dhuha membuka kunci pintu rezeki. 

Hadis ini hanya menjelaskan janji Allah bagi orang yang shalat 4 rakaat di pagi hari, baik shalat subuh, qabliyah subuh atau shalat dhuha, akan dicukupi di akhir hari. 

Itupun dengan syarat, shalat 4 rakaat di waktu pagi itu dilakukan ikhlas untuk Allah, bukan karena tendensi untuk dunia. 

Karena Allah berfirman, ”laksanakan untuk-Ku 4 rakaat..” kata untuk-Ku menunjukkan bahwa itu harus dilakukan dengan ikhlas.

Namun jika tendensinya untuk dunia, untuk melancarkan rezeki, berarti shalat ini dikerjakan bukan murni untuk mengharap ridha Allah. Tapi untuk yang lainnya.


Allahu a’lam


Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Siapa Pasanganmu di Surga, Hai Wanita Sholehah?

Siapa Pasanganmu di Surga, Hai Wanita Sholehah?
Bismillah...

🟩 QS Al Baqarah: 25

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ 

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, "Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu." Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.

🟩 Bagaimana pasangan wanita dunia ketika berada di dalam Surga?

Menurut Syeikh Utsaimin Rahimahulloh ta'ala, keadaan wanita dunia, tidak lepas dari 7 kondisi, yaitu:

1. Wanita sholehah yang meninggal dunia sebelum menikah.

Wanita ini ALLOH yg akan memilihkan jodohnya dan ALLOH yang langsung menikahkannya.

2. Wanita sholehah yang dicerai/ditalaq, dan wanita yg mengajukan khuluq.

Wanita ini tidak akan bertemu lagi dengan suaminya. ALLOH akan pilihkan dan nikah dia dgn laki2 penduduk Surga yang sekufu/sebanding dgnnya.

3. Wanita sholehah yang sudah menikah, tapi suaminya tidak termasuk  penduduk Surga.

Contohnya: 

Asiyah isteri Fir'aun.

Wanita yg masuk Surga lantaran kesabarannya memiliki suami yang dzolim. ALLOH akan menikahkan Asiyah dengan Rasulullah  صلى الله عليه وسلم  

- Satu lagi wanita mulia yang akan jadi isteri Rasulullah adalah Maryam binti Imran (ibu Nabi Isa 'alayhissalaam), wanita mulia yg sangat sabar ketika diberikan ujian yang teramat berat oleh ALLOH.

4. Wanita sholehah, tapi suaminya dholim.

Dia masuk Surga karena kesabarannya. ALLOH akan nikahkan dengan laki2 penduduk Surga yang amalannya setara dengannya.

5. Wanita sholehah yang sudah menikah, meninggal dunia.

Jika suaminya sholeh, maka dia akan dipertemukan lagi dengan suaminya. Jika suaminya tidak masuk Surga, maka ALLOH akan pilihkan laki2 penduduk Surga untuk dinikahkan dengannya 

6. Wanita sholehah yang suaminya meninggal dunia, dan dia tidak menikah lagi.

ALLOH akan pertemukan lagi dengan suaminya, jika suaminya masuk Surga.

ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS Az-Zukhruf (43:67))

7. Wanita sholehah yang suaminya meninggal, dia menikah lagi.

Dia akan dinikahkan dengan suaminya yang terakhir. Jika suaminya yang terakhir bukan termasuk penduduk Surga, maka ALLOH akan nikahkan dengan suaminya yang paling baik amalan dan akhlaqnya.

Dia diberi kebebasan memilih, jika semua suaminya masuk Surga.

✅ CATATAN:

1. Di Surga tidak ada orang yang tidak menikah/ tidak memiliki pasangan. Meskipun dia di dunia tidak/ belum pernah menikah. Satu2nya syariat yang masih dijalankan di surga adalah menikah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

Tidak ada orang yang melajang di surga.” (HR. Ahmad 7152 dan Muslim 2834).

2. Keadaan Wanita sholehah yang masuk Surga : 

- lebih cantik dari bidadari Surga.

- menjadi ketua bidadari.

3. Mencarikan jodoh yang sholeh, adalah kewajiban orangtua terhadap anaknya.

4. Di Surga tidak ada lagi kesedihan, yang ada hanya kesenangan dan kenikmatan.

Semoga kita dan keluarga kita termasuk orang2 yg mendapatkan rahmat dan ridhoNYA untuk menjadi penduduk jannahNYA. Aamiin ya Mujibassailin.

---------------

(Resume Kajian Tafsir Ibnu Katsir - QS Al Baqarah:25)

👤Ust. Oemar Mita. Lc

(Admin potong Muqadimah dan isi kajian lainnya, dan hanya menampilkan topik diatas)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Ketika Air Zam-zam Menjadi Istimewa di Mata Dunia

Bismillah...

Air Zam-Zam bukan air biasa, ia memiliki kandungan mineral yang baik bagi tubuh manusia. Zam-Zam diturunkan dengan sebab yang masyhur dan momen itu diabadikan dalam serangkaian ibadah sa'i dari Shafa ke Marwah. Sungguh perjuangan luar biasa dari seorang ibunda yang berikhtiar mencari air untuk putranya, Isma'il 'alaihissalam. Melihat dari sisi historis ini saja, seorang muslim bakal tergugah hatinya untuk mencintai air Zam-Zam lebih dari air lainnya. 

Air Zam Zam adalah air mulia. Sangat fenomenal dan ajaib. Air paling sakral sepanjang sejarah peradaban manusia.. Sudah tidak diragukan lagi bahwa air zam zam dapat menjadi penawar dari berbagai penyakit. Air zam zam yang kami jual asli langsung dari sumber mata air zam-zam itu sendiri di Makkah Al-Munawaroh.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Larangan Tasyabbuh Bil Kuffar (Menyerupai Orang Kafir) Apa Saja Batasannya?

Larangan Tasyabbuh Bil Kuffar (Menyerupai Orang Kafir) Apa Saja Batasannya?
Bismillah...

Ada batasan-batasan yang disebutkan oleh para ulama terkait tasyabbuh bil kuffar,

1). Meniru hal-hal yang menjadi ciri khas orang kafir baik menyangkut agama mereka maupun kebiasaan mereka maka ini termasuk tasyabbuh meski tidak bermaksud menyerupai mereka.

2). Menyelisihi orang kafir baik asal perbuatannya maupun cara yang dilakukannya. Contoh perbuatan yang berasal dari orang kafir seperti perayaan ulang tahun, perayaan tahun baru, perayaan hari ibu, perayaan valentine. Kaum muslimin tidak diperbolehkan melakukan hal tersebut karena termasuk tasyabbuh.

Cara-cara orang kafir contohnya seperti orang-orang Yahudi dan Nashoro berpuasa tanpa makan sahur maka Rosulullah ﷺ menyelisihi cara mereka dengan mensyariatkan makan sahur.

3). Meniru produk orang kafir, industri mereka, perdagangan mereka, makanan dan minuman mereka, pakaian mereka atau hal-hal menyangkut urusan dunia selama itu bukan ciri khas mereka dan tidak menyelisihi syariat maka itu tidak terlarang.

Hal ini harus diketahui oleh setiap muslim karena syariat Islam dibangun di atas penyelisihan atas agama-agama lain maupun kebiasaan yang menjadi ciri khas mereka.

Dari Ibnu Umar bahwa Rosulullah ﷺ bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum itu." (HR. Ahmad dan Abu Dawud Syaikh Nashir berkata "Hasan Shohih" dalam "Shohih Abi Dawud" 3401)


Fikri Abul Hasan


https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Mohonlah Selalu Hidayah Agar Tak Salah Langkah

Bismillah...

Tidak ada sosok yang paling berilmu, paling bertakwa, paling mendapat petunjuk, melebihi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam akan tetapi beliau selalu berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعفَافَ والغنَى

(Allaahumma inni as'alukal huda wat tuqa wal 'afaaf wal ghina)

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu hidayah tawfiq, ketakwaan, keterjagaan, dan hati yang kaya." (HR. Muslim 2721)

Hidayah yaitu petunjuk berupa ilmu dan tawfiq. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah agar ditambahkan ilmu serta tawfiq yakni petunjuk untuk mengamalkan ilmunya.

Hakikat takwa sebagaimana yang dikatakan Thalq bin Habib (ulama generasi tabiin) yaitu amalan ketaatan kepada Allah di atas cahaya Allah dan mengharap pahala Allah, serta meninggalkan kedurhakaan kepada Allah di atas cahaya Allah dan takut dari azab Allah. 

Takwa juga tidak menganggap diri lebih baik dari orang lain sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Umar.

Keterjagaan yaitu dari segala perkara yang tidak diizinkan oleh syariat dan menahan diri darinya.

(Syarh Shahih Muslim 17/63)

Hati yang kaya berupa qanaah yaitu ridha atas pemberian Allah, selalu merasa cukup, kaya jiwa dan lapang dada.

Selama hayat masih dikandung badan setiap kita butuh kepada hidayah Allah dan tawfiq dari-Nya karena tidak ada seorangpun yang dapat menjamin dirinya istiqamah di atas ilmu dan takwa. 

Syaikh Al-'Allamah Abdul Aziz bin Baz mengingatkan,

فأنت بحاجة إلى الهداية لو كنت أتقى الناس ولو كنت أعلم الناس أنت بحاجة إلى الهداية حتى تموت

"Sungguh engkau sangat membutuhkan hidayah Allah sekalipun engkau orang yang paling berilmu dan paling bertakwa, engkau tetap membutuhkan hidayah Allah hingga ajalmu tiba." (Majmu' Fatawa 7/163)


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0M5UG7YTjL85Darfn9igajqg8ATJrbVNcjpBPi1vTgpFE69svJ2BvV2C4y831wAhel&id=100001764454087

https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Musibah Turun Karena Dosa

Musibah Turun Karena Dosa
Bismillah...

Jika kita melihat catatan serangkaian musibah dan bencana yang terjadi, hampir hal itu terjadi setiap akhir tahun..

Entah itu Tsunami, gempa bumi, banjir, gunung meletus, pesawat jatuh dll..

Oleh karena itu kita sebagai orang yang beriman dan berakal, harus bisa menjadikan semua itu sebuah pelajaran dan renungan agar kita bersegera bertaubat dan berusaha keras meninggalkan segala bentuk kemaksiatan seperti zina, pesta miras, judi, musik dan nyanyian, perayaan tahun baru, kesyirikan dsbnya, sebab bisa jadi musibah dan bencana itu terjadi akibat dosa-dosa kita dan itu sebagai teguran dari Allah ﷻ..

• Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه mengatakan,

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat".

```(Al Jawabul Kaafi, hal. 87)```

Perkataan Ali رضي الله عنه diatas juga selaras dengan firman Allah ﷻ, 

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". 

```(QS. Asy Syuraa: 30)```

Demikian juga para ulama salaf mengatakan yang serupa dengan perkataan di atas..

• Ibnu Qoyyim Al Jauziyah رحمه الله تعالى mengatakan, 

Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa”.

```(Al Jawabul Kaafi, hal. 87)```

Orang yang beriman adalah orang yang pandai mengambil pelajaran dan hikmah, sehingga setiap kejadian menjadikannya semakin berusaha memperbaiki diri dan bertaqwa..

Semoga hal ini menjadi renungan bagi kita semua, sekaligus menjadi motivasi bagi kita semua untuk meninggalkan maksiat dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, karena kita tidak pernah tahu kapan musibah itu datang dan ajal kita akan tiba..


✍🏼 Habibie Quotes

Ig - www.instagram.com/habibiequotes_

Tg - https://t.me/habibiequotes

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Nasehat Tidak Harus Diterima

Nasehat Tidak Harus Diterima
Bismillah...

Jika yang dimaksud dengan "nasehat" adalah saran, maka benar bahwa saran tidak harus diterima.

Tapi kalau nasehat itu berisi amar ma'ruf (ajakan berbuat baik dalam agama) atau nahi munkar (ajakan meninggalkan kemungkaran dalam agama), maka wajib diterima dan diakui, walaupun dalam pelaksanaannya tidak selalu bisa langsung dijalankan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 55).

Allah Ta’ala telah mengumpulkannya sifat-sifat orang yang merugi dan akhlaknya yang tercela dengan menyebutkannya di dalam surat Al ’Ashr,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya tetap di atas kesabaran” (QS. Al-’Ashr [103]: 1-3).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده . فإن لم يستطع فبلسانه . فإن لم يستطع فبقلبه .وذلك أضعف الإيمان

Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim, no.49).

"Tidak boleh memaksakan nasehat ke orang lain", itu benar dan tepat jika yang mengatakannya adalah pemberi nasehat itu sendiri, sebagai prinsip pribadinya dalam memberi nasehat. 

Adapun jika yang mengatakan itu adalah yang diberi nasehat, padahal dia tahu nasehat itu benar adanya, maka itu lebih dekat ke pembenaran dan pembelaan diri yang tidak pada tempatnya.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.”

Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab: ’Urus saja dirimu sendiri.

(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, as-Shahihah, no. 2598).


Ristiyan Ragil Putradianto

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

AWAS, Manusia 'Pemakan Bangkai'!!

Bismillah...

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), "Dan janganlah kalian menggunjing satu dengan yang lain. Apakah salah seorang dari kalian senang apabila dia memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, maka tentunya kalian membencinya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hujurat : 12).

Ayat yang mulia ini memberikan pelajaran penting kepada kita, diantaranya :

■ PELAJARAN PERTAMA

Menggunjing atau ghibah merupakan dosa besar. Hal itu dikarenakan Allah menyerupakan perbuatan ghibah itu dengan memakan daging bangkai manusia sementara perbuatan itu termasuk dosa besar. Demikian papar Syaikh as-Sa’di rahimahullah (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 802)

■ PELAJARAN KEDUA

Hadits ini menunjukkan bahwa apabila seseorang menyebutkan kejelekan saudaranya ketika dia tidak hadir maka itu adalah perbuatan ghibah.

Hal itu sebagaimana telah dijelaskan sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Apakah kalian tahu apa yang dimaksud dengan ghibah?". Maka mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu". Beliau mengatakan, “Yaitu kamu menceritakan tentang saudaramu yang dia tidak senangi". Lalu ada yang bertanya, "Bagaimana kalau apa yang saya katakan itu benar ada pada diri saudaraku?". Maka beliau menjawab, "Kalau padanya terdapat apa yang kau katakan maka sungguh kamu telah menggunjingnya. Dan apabila tidak ada seperti yang kamu katakan maka itu berarti kamu telah berdusta atas namanya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Birr wa as-Shilah wa al-Aadab, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Sedangkan apabila dia menyebutkan kejelekan itu di depannya secara langsung maka itu berarti dia telah mencelanya. Namun, apabila ghibah itu dilakukan dalam rangka nasehat -misalnya menyebutkan kejelekan periwayat hadits- atau menerangkan keadaan orang ketika diperlukan -misal ketika dimintai pendapat sebelum menjalin pernikahan dengan seseorang- maka hal itu tidak mengapa (lihat Syarh Riyadhus Shalihin [4/79]).

■ PELAJARAN KETIGA

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa menjaga lisan agar tidak menggunjing merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Dan ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang tidak bisa menjaga lisannya dari ucapan-ucapan yang jelek – salah satunya adalah ghibah- menunjukkan bahwa ketakwaannya rendah (lihat Syarh Riyadhus Shalihin [4/79]).

Ketakwaan yang muncul secara lahir, dengan ucapan atau perbuatan itu pada hakikatnya merupakan cerminan apa yang ada di dalam hati.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), "Demikian itu, karena barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu muncul dari ketakwaan di dalam hati.” (QS. al-Hajj : 32).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berkata-kata baik atau diam.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Adab dan Muslim dalam Kitab al-Iman dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Pokok keimanan itu tertanam di dalam hati yaitu ucapan dan perbuatan hati. Ia mencakup pengakuan yang disertai pembenaran dan rasa cinta dan ketundukan. Sedangkan apa yang ada di dalam hati pastilah akan tampak konsekuensinya dalam perbuatan anggota badan. Apabila dia tidak melakukan konsekuensinya maka itu menunjukkan bahwa iman itu tidak ada atau lemah. Oleh karena itu maka amal-amal lahir itu merupakan konsekuensi dari keimanan di dalam hati. Ia merupakan pembuktian atas apa yang ada di dalam hati, tanda dan saksi baginya. Ia merupakan cabang dari totalitas keimanan dan bagian dari kesatuannya. Walaupun demikian, apa yang ada di dalam hati itulah yang menjadi pokok/sumber bagi apa-apa yang muncul pada anggota-anggota badan…” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah [2/175] as-Syamilah).

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Angin Membawa Rahmat dan Azab

Angin Membawa Rahmat dan Azab
Bismillah...

Ranting dan batang pohon mangga dibelakang rumah banyak yang patah akibat angin dan hujan yang begitu besar dan deras, beberapa hari ini. 

Pohon singkong tetangga depan rumah saya, sebagian besar pada tumbang. Imam masjid kampung tanaman jagungnya banyak yang sujud, bahkan ada yang terangkat akarnya. Begitu pula orang kampung yang lain yang tanam jagung, pohonnya banyak yang rebah. Tetangga kampung, sekitar beberapa rumah tertimpa pohon kelapa. Kemungkinan juga terjadi ditempat-tempat lainnya. 

Ini menunjukkan bahwa kadang angin itu membawa rahmat, dan kadang pula mendatangkan azab.

Kalau angin itu membawa azab, janganlah marah dan mencaci maki angin. Introspeksi diri sajalah, mungkin banyak dosa yang dilakukan dan banyak ketaatan yang ditinggalkan. 

Cukuplah berdoa jika angin datang, mudah-mudahan angin membawa kebaikan dan terhindar dari keburukannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

لَا تُسُبُّوا الرِّيحَ فَإِنَّهَا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ تَأْتِي بِالرَّحْمَةِ وَالْعَذَابِ وَلَكِنْ سَلُوا اللَّهَ مِنْ خَيْرِهَا وَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا

"Janganlah kalian mencela angin, sebab ia merupakan hembusan Allah yang dapat mendatangkan rahmat dan azab, akan tetapi mohonlah kepada Allah dari kebaikannya dan berlindunglah kepada Allah dari kejahatannya." (Shahihul Jami'). 

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

لا تسبوا الريح، فإنها تجيء بالرحمة والعذاب، ولكن سلوا الله خيرها وتعوذوا به من شرها. رواه أحمدوأبو داودوابن ماجه، وصححه الألباني والأرنؤوط.

"Janganlah kalian mencaci angin, karena sesungguhnya ia datang membawa rahmat dan siksaan. Akan tetapi memohonlah kepada Allah kebaikan angin itu dan berlindunglah kepada Allah dari keburukan angin itu." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dan Al-Arnauth).

Berkata Imam Syafii rahimahullah :

لا ينبغي لأحد أن يسب الريح، فإنها خلق الله عز وجل مطيع، وجند من أجناده يجعلها رحمة ونقمة ـ إذا شاء. اهـ.

"Tidak sepantasnya seseorang memaki angin, karena sesungguhnya itu ciptaan Allah Azza Wa Jalla yang menaati-Nya, dan juga salah satu tentara Allah yang Dia jadikan sebagai rahmat atau niqmat (bencana)". (Kitab Al Umm).

Berkata Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzahullah,

تعلمون عباد الله أن الله لم يخلق شيئا عبثا فلم يرسل هذه الرياح إلا لينبهكم ويذكركم بذنوبكم بقدرته على عقوبتكم

"Kalian mengetahui wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu perkara itu dengan sia-sia. 

Maka tidaklah Dia mengirim angin yang sangat kencang melainkan untuk peringatan bagi kalian dan Dia (Allah) mengingatkan kalian dengan dosa-dosa kalian. Dengan kekuasaanNya (Allah Mampu) menghukum kalian." (Al-Khuthob al-Mimbariyah fil Munasabah al-Ashriyah 1/372). 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02xgCMPCDmVmGHZhDhq6PkLiNgFu5Bhib8GRcCSTuoRja2cLAxYgvTbVkMifLJBWUbl&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Do'a Ketika Hujan Deras

Do'a Ketika Hujan Deras
Bismillah...

Ada Do'a yang bisa diamalkan ketika hujan deras. Dan perlu dipahami bisa saja hujan deras atau lebat tersebut adalah musibah dengan banjir besar atau banjir bandang. 

Akhirnya, itu jadi teguran dari Allah.

🟩 Cerita Turunnya Hujan Lebat di Masa Nabi

Dari Anas bin Malik, beliau menceritakan: Ada seorang laki-laki memasuki masjid pada hari Jum’at melalui arah Darul Qodho’. 

Kemudian ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkhutbah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menghadap kiblat sambil berdiri. 

Kemudian laki-laki tadi pun berkata, “Wahai Rasulullah, ternak kami telah banyak yang mati dan kami pun sulit melakukan perjalanan (karena tidak ada pakan untuk unta, pen). Mohonlah pada Allah agar menurunkan hujan pada kami”. 

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, lalu beliau pun berdo’a,

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami.

Anas mengatakan, “Demi Allah, ketika itu kami sama sekali belum melihat mendung dan gumpalan awan di langit. Dan diantara kami dan gunung Sal’i tidak ada satu pun rumah. 

Kemudian tiba-tiba muncullah kumpulan mendung dari balik gunung tersebut. Mendung tersebut kemudian memenuhi langit, menyebar dan turunlah hujan. 

Demi Allah, setelah itu, kami pun tidak melihat matahari selama enam hari. 

Kemudian ketika Jum’at berikutnya, ada seorang laki-laki masuk melalui pintu Darul Qodho’ dan ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri dan berkhutbah. Kemudian laki-laki tersebut berdiri dan menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, sekarang ternak kami malah banyak yang mati dan kami pun sulit melakukan perjalanan. Mohonlah pada Allah agar menghentikan hujan tersebut pada kami.” 

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, lalu berdo’a,

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا ، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan

Setelah itu, hujan pun berhenti. Kami pun berjalan di bawah terik matahari. Syarik mengatakan bahwa beliau bertanya pada Anas bin Malik, “Apakah laki-laki yang kedua yang bertanya sama dengan laki-laki yang pertama tadi?” Anas menjawab, “Aku tidak tahu.” (HR. Bukhari no. 1014 dan Muslim no. 897)

🟩 Do'a Ketika Hujan Deras

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, ketika hujan tidak kunjung berhenti, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a,

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].” (HR. Bukhari no. 1014 dan Muslim no. 897)

Ibnul Qayyim mengatakan, ”Ketika hujan semakin lebat, para sahabat meminta pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam untuk memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Akhirnya beliau membaca do’a di atas.” (Zaadul Ma’ad, 1: 439)

Syaikh Sholih As Sadlan mengatakan bahwa do’a di atas dibaca ketika hujan semakin lebat atau khawatir hujan akan membawa dampak bahaya. (Lihat Dzikru wa Tadzkir, hal. 28)

Berarti dapat kita ambil pelajaran bahwa Do'a di atas dibaca saat hujan itu deras dan membawa dampak bahaya seperti banjir besar atau banjir bandang. 

Ini bisa terjadi curah hujan itu kecil namun berlangsung dalam waktu yang cukup lama, 3 atau 4 jam di daerah yang rawan banjir. Wallahu a’lam.

🟩 Renungan: Barangkali Musibah Datang

Yang patut direnungkan bisa jadi hujan deras atau lebat yang turun ini adalah teguran dari Allah. 

Barangkali itu adalah musibah. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menceritakan,

وَكَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ فِى وَجْهِهِ . قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْغَيْمَ فَرِحُوا ، رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ ، وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عُرِفَ فِى وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةُ . فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ مَا يُؤْمِنِّى أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ ، وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا ( هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ) »

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mendung atau angin, maka raut wajahnya pun berbeda.” ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasululah, jika orang-orang melihat mendung, mereka akan begitu girang. Mereka mengharap-harap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau. Jika melihat mendung, terlihat wajahmu menunjukkan tanda tidak suka.” Beliau pun bersabda, “Wahai ‘Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adaah azab. Dan pernah suatu kaum diberi azab dengan datangnya angin (setelah itu). Kaum tersebut (yaitu kaum ‘Aad) ketika melihat azab, mereka mengatakan, “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.” (HR. Bukhari no. 4829 dan Muslim no. 899)

Yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah siksaan yang menimpa kaum ‘Aad sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut,

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)

Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS. Al Ahqaf: 24-25)

🟩 Jika itu Musibah...

Jika itu musibah, maka patut direnungkan bahwa musibah itu datang bisa jadi karena dosa dan maksiat yang kita lakukan. 

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Lihat Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). 

Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Idem)

Semoga Allah menurunkan pada kita hujan yang membawa manfaat, bukan hujan yang membawa musibah. Semoga kita dimudahkan untuk kembali taat pada Allah dan diangkat dari berbagai macam musibah. Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami, Ya Allah.


Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Disusun saat hujan mengguyur Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 6 Safar 1436 H

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Mengubur Jenazah dengan Peti

Mengubur Jenazah dengan Peti
Bismillah...

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. 

Bolehkan mengubur jenasah dengan menggunakan peti mati? Trimakasih jawabannya, Jazakallah Khair

✅ Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Tidak ada perselisihan diantara para ulama tentang terlarangnya mengubur mayit didalam peti, jika tidak ada kebutuhan untuk melakukan hal itu

Lain halnya jika ada kebutuhan untuk mengubur jenazah didalam peti, seperti tanahnya mudah longsor atau dikhawatirkan akan dibongkar binatang buas, sebagian ulama membolehkannya.

Dalam kumpulan Fatwa Lajnah Daimah dinyatakan:

"Tidak dikenal adanya kebiasaan mengubur mayit dengan peti di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat. Sementara prinsip hidup terbaik yang seharusnya ditempuh kaum muslimin adalah prinsip hidup mereka. 

Karena itu, dilarang mengubur mayit dengan peti. Baik tanahnya keras, biasa, atau mudah longsor. Jika mayit pernah berwasiat agar dia dikuburkan dengan peti maka wasiatnya tidak boleh ditunaikan. 

Hanya saja, ulama syafi’iyah membolehkan menggunakan peti jika tanahnya berlumpur atau mudah longsor. 

Jika dia berwasiat, tidak boleh dilaksanakan, kecuali dalam kondisi seperti ini". (Fatawa Lajnah Daimah, 2:312)

Ibnu Qudamah mengatakan, “Tidak ada anjuran memakamkan mayit dengan peti. Karena tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula dari para sahabat. Disamping itu, perbuatan ini termasuk meniru kebiasaan orang sombong. Sementara tanah ini cukup kering untuk menampung jenazahnya". (Al-Mughni, 2:379)

Dalam kitab Al-Inshaf dinyatakan:

"Dilarang mengubur dengan peti. Meskipun mayitnya seorang wanita". (Al-Inshaf, 4:340)

Sementara Imam Asy-Syarbini Asy-Syafii mengatakan, “Dilarang mengubur mayit dengan peti dengan sepakat ulama. Karena ini adalah perbuatan bid’ah, kecuali di tanah lembek atau berlumpur. 

Dalam kondisi ini tidak dilarang karena ada maslahat. 

Wasiat untuk mengubur dengan peti tidak boleh ditunaikan, kecuali untuk keadaan tanah tersebut. 

Keadaan yang sama adalah ketika jasad mayit rusak karena terbakar, sehingga jasadnya tidak bisa dibungkus kecuali dengan peti.” (Mughni Al-Muhtaj, 4:343). 

Allahu a’lam


Disadur dari: Fatawa Islam, tanya jawab, no.34511. 

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Buktikan Cintamu Yang Benar Kepada Nabimu Muhammad ﷺ

Buktikan Cintamu Yang Benar Kepada Nabimu Muhammad ﷺ
Bismillah...

(01). Melaksanakan perintah2nya, baik perkara yang wajib maupun sunnah

(02). Menjauhi larangan-larangannya, baik perkara yang haram atau makruh

(03). Marah karena Allah, jika pribadinya, kehormatannya, keluarga, sahabat, serta agama yang dibawanya direndahkan

(04). Memuliakannya, dan tidak pernah memberikan pujian2 serta sanjungan2 yang melampaui batas, atau disetarakan dengan Allah 'Azza wa Jalla

(05). Tidak menyebut dengan namanya semata, tapi dengan cara menisbatkan kpd Nabi dan Rasul, serta menyertakan shalawat dan salam atasnya

(06). Senantiasa berusaha menyebarkan sunnah2nya, serta membersihkan hal2 baru yang tidak termasuk dalam syariat

(07). Tidak mengejek dan merendahkan, atau pun meremehkan orang2 yang telah mengamalkan sunnah-sunnahnya (yang telah beliau contohkan dan ajarkan)

(08). Memperbanyak shalawat & salam kepadanya, dan memohon kepada Allah agar kelak di hari Kiamat mendapatkan syafa'atnya

(09). Sering mengingatnya, rindu serta berharap bertemu dengannya di dalam mimpi ataupun kelak di Surga Firdaus

(10). Mencintai siapa saja yang telah beliau cintai dari manusia (yaitu seluruh keluarganya dan para sahabatnya yang mulia), serta membenci orang-orang yg telah memusuhi dan melecehkannya

(11). Berakhlak dengan akhlak mulia yg dimilikinya, dan meniti jalan hidup yang telah ditempuhnya

(12). Rela dalam mengorbankan jiwa dan raganya, hartanya dan tenaganya, pikiran dan waktunya untuk selalu mempelajari, mengajarkan dan mendakwahkan, serta memperjuangkan tegaknya ISLAM dan SUNNAH (ajaran Nabi ﷺ yang murni)


Ustadz Najmi Umar Bakkar

https://telegram.me/najmiumar

Instagram : @najmiumar_official

Youtube : najmi umar official

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Uang Tips, Uang Khianat

Uang Tips, Uang Khianat
Bismillah...

Ada cerita: 

Seorang pekerja yang bekerja di sebuah tempat servis motor. Setiap bulan memang dia sudah mendapat gaji dari majikannya. Dan mungkin ada beberapa tunjangan lagi yang dia peroleh. Namun suatu saat menservis motor, pelanggan seperti biasa membayar biaya servis kepada majikannya. Kemudian pelanggan tadi menemui pekerja tadi dan memberinya uang tambahan (alias uang tips).

Demikian ceritanya. Apakah memang uang tambahan atau uang tips seperti ini boleh diambil? Apakah termasuk uang halal? Atau malah uang khianat?

Itulah yang akan kami bahas pada posting kali ini. Semoga Allah selalu memudahkan urusan hamba-Nya dalam kebaikan.

⬛️⬛️ Meninjau dalam Kitab Induk Hadits

Awalnya marilah kita melihat dalam kitab induk hadits. 

Didalam Shohih Bukhari yang sudah kita kenal, dibawakan bab “Hadayal “Ummal”. Begitu pula dalam Shohih Muslim, An Nawawi rahimahullah membawakan bab “Tahrimu hadayal “ ummal (diharamkannya hadayal “ummal)”. 

Hadaya berarti hadiah, bentuk plural dari kata hadiyah. Sedangkan “Ummal berarti pekerja, bentuk plural (jamak) dari kata aamil".

⬛️⬛️ Hadits Hadayal “Ummal

Dalam bab tadi dibawakan hadits berikut dan ini adalah lafazh dari Bukhari yang sengaja kami ringkas. Perhatikanlah hadits tersebut.

Dari Abu Humaid As Sa”idiy, beliau berkata, “Nabi shallallahu “alaihi wa sallam mempekerjakan seorang pria dari Bani Asad yang bernama Ibnul Utabiyyah untuk mengurus sedekah (maksudnya: zakat). Ketika laki-laki tadi datang dari mengurus zakat, dia lantas mengatakan,

“Ini bagian untuk kalian dan ini hadiah untukku.”

Lalu setelah itu Nabi shallallahu “alaihi wa sallam berceramah diatas mimbar (Sufyan juga mengatakan bahwa Nabi shallallahu “alaihi wa sallam naik mimbar), kemudian beliau shallallahu “alaihi wa sallam memuji Allah lalu mengatakan,

“Mengapa ada pekerja yang kami utus, kemudian dia datang lalu mengatakan, “Ini bagian untukmu dan ini hadiah untukku”? Silakan dia duduk di rumah ayah atau ibunya. Lalu lihatlah, apakah dia akan dihadiahi atau tidak? Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidaklah seseorang datang dengan sesuatu (maksudnya mengambil hadiah seperti pekerja tadi, pen) kecuali dia datang dengannya pada hari kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika yang dipikulnya adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika yang dipikulnya adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.” Kemudian Nabi shallallahu “alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya sampai kami melihat warna debu di ketiak beliau. Lalu beliau mengatakan, “Bukankah aku telah sampaikan (Beliau menyebutnya sebanyak tiga kali).” (HR. Bukhari no. 7174)

Inilah teguran keras Nabi shallallahu “alaihi wa sallam terhadap orang tadi. Dia sebenarnya telah mendapatkan upah juga dari beliau shallallahu “alaihi wa sallam. 

Namun, disamping itu dia mendapatkan upah lagi dari orang lain ketika dia memungut pajak yaitu ketika dia melakukan pekerjaannya. 

Inilah upah yang beliau shallallahu “alaihi wa sallam tegur dan tidak suka. Bahkan setelah itu beliau menyebutkan keadaan pekerja semacam ini di hari kiamat.

⬛️⬛️ Uang Tips adalah Uang Khianat

Ada hadits pula dari Abu Humaid As Sa”idiy. Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam bersabda,

Hadiah bagi pekerja adalah ghulul (khianat).” (HR. Ahmad. Sebagian ulama mengatakan bahwa sanad hadits ini dho”if semacam Ibnu Hajar di Fathul Bari. Namun, Syaikh Al Albani menshohihkan hadits ini sebagaimana disebutkan dalam Irwa”ul Gholil)

An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (6/304) mengatakan,

Dalam hadits ini (hadits Abu Humaid yang pertama tadi) terdapat penjelasan bahwa hadayal “ummal (hadiah untuk pekerja) adalah haram dan ghulul (khianat). Karena uang seperti ini termasuk pengkhianatan dalam pekerjaan dan amanah. Oleh karena itu, dalam hadits di atas disebutkan mengenai hukuman yaitu pekerja seperti ini akan memikul hadiah yang dia peroleh pada hari kiamat nanti, sebagaimana hal ini juga disebutkan pada masalah orang yang berkhianat.

Dan beliau shallallahu “alaihi wa sallam sendiri telah menjelaskan dalam hadits tadi mengenai sebab diharamkannya hadiah seperti ini, yaitu karena hadiah ini sebenarnya masih karena sebab pekerjaan, berbeda halnya dengan hadiah tadi bagi selain pekerja (atau hadiah karena bukan sebab pekerjaannya, pen). 

Hadiah yang kedua ini adalah hadiah yang dianjurkan (mustahab). Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan mengenai hukum pekerja yang diberi semacam ini dengan disebut hadiah. 

Pekerja tersebut harus mengembalikan hadiah tadi kepada orang yang memberi. Jika tidak mungkin, maka diserahkan ke Baitul Mal (kas negara).”

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan hal ini dalam fatwanya. Beliau mengatakan,

“Hadiah bagi pekerja termasuk ghulul (pengkhianatan) yaitu jika seseorang sebagai pegawai pemerintahan, dia diberi hadiah oleh seseorang yang mempunyai kaitan dengan muamalahnya. Hadiah semacam ini termasuk pengkhianatan (ghulul). Hadiah seperti ini tidak boleh diambil sedikitpun walaupun dia menganggapnya baik.”

Lalu beliau mengatakan lagi,

“Tidak boleh bagi seorang pegawai di wilayah pemerintahan menerima hadiah berkaitan dengan pekerjaannya. Seandainya kita membolehkan hal ini, maka akan terbukalah pintu riswah (suap/sogok). Uang sogok seperti ini amatlah berbahaya dan termasuk dosa besar (karena ada hukuman yang disebutkan dalam hadits tadi, pen). Oleh karena itu, wajib bagi setiap pegawai jika dia diberi hadiah yang berkaitan dengan pekerjaannya, maka hendaklah dia mengembalikan hadiah tersebut. Hadiah semacam ini tidak boleh dia terima. Baik dinamakan hadiah, shodaqoh, dan zakat, tetap tidak boleh diterima. Lebih-lebih lagi jika dia adalah orang yang mampu, zakat tidak boleh bagi dirinya sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama.” (Majmu” Fatawa wa Rosa”il Ibni Utsaimin, 18/232)

*****

Inilah penjelasan para ulama mengenai uang tips. Betapa banyak perilaku semacam ini di tengah-tengah kita terutama –maaf- pada lingkungan pemerintahan. Misalnya, kita hendak membuat KTP, kartu kuning untuk cari kerja, pasti ada saja uang tips. 

Sebenarnya biaya untuk bayar KTP cuma Rp.5000,-. Namun, karena pegawai pemerintahan tadi berisyarat atau memang sudah kebiasaan seperti itu, akhirnya dia diberi uang Rp.5000,-, plus hadiah Rp.5000,-. 

Bukankah perilaku semacam ini sama dengan pekerja yang Nabi shallallahu “alaihi wa sallam sebutkan?

Kita sebagai pegawai atau pekerja, hendaklah mengembalikan uang tersebut kepada orang yang memberikan hadiah tadi. Lihatlah saran dari dua ulama di atas.

Janganlah khawatir dengan masalah rizki. Mungkin ada yang mengatakan, “Sayang sekali uang tips tersebut ditolak.”

Saudaraku, cukup nasehat Nabi shallallahu “alaihi wa sallam berikut sebagai wejangan bagimu.

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu”aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih)

Semoga pembahasan kali ini bisa menjadi nasehat bagi setiap pekerja dan pegawai di setiap pekerjaannya. 

Semoga Allah memperbaiki kondisi kaum muslimin. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat, membuahkan amal yang sholih dan semoga kita selalu diberkahi rizki yang thoyib.


Pangukan, Sleman, 24 Muharram 1430 H

Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Memang Dipikirnya Perayaan Natal Baru Ada Di Abad 21 Kah?

Bismillah

Dipikirnya perkara Natal baru ada di abad 21 kah ? Perkara perayaan Natal itu sudah ada sejak tahun 300an Masehi ketika terjadi sinkretisme antara ajaran Kristen dan Romawi yang menyebabkan berubahnya ajaran Nabi Isa alaihissalam dan hilang, MAKA BERARTI Perayaan Natal juga sudah dilakukan oleh Kafir Kristen pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

Pertanyaannya ? Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Para Sahabat radhiyallahu 'anhu jami'an mengucapkannya ?

Jawabannya TIDAK

Pertanyaan lagi Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Para Sahabat radhiyallahu 'anhu jami'an MENJADIKAN DALIL-DALIL YANG DIBAWAKAN OLEH KAFIR LIBERAL DAN MUNAFIK DI ABAD KE 21 INI UNTUK MENGUCAPKANNYA ?

Jawabannya TIDAK

Jadi siapa yang kalian ikuti, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Para Sahabat radhiyallahu 'anhu jami'an atau Kafir Liberal dan Munafik ?

Baca dibawah :

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا  (31)

Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah

- QS Al Ahzab [33] : 21

Tafsir Muyassar,

Sungguh telah ada pada diri Rasul, pada sabdanya, perbuatannya, dan keadaannya suri tauladan yang baik bagi kalian, wahai orang-orang yang beriman (Mukmin), sebagai teladan yang baik yang kalian teladani Maka peganglah Sunnahnya, karena Sunnahnya dipegang dan dijalani oleh orang-orang yang berharap kepada Allah dan kehidupan akhirat, memperbanyak mengingat Allah dan beristighfar kepada-Nya, serta bersyukur dalam setiap keadaan

- Tafsir Muyassar, II/358

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 774 H) berkata,

Ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang mencontoh (Sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berbagai perbuatan, perkataan dan perilakunya, maupun hal ihwal beliau Karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan manusia supaya meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

- Tafsir min Ibnu Katsir, VI/461

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di (wafat 1376 H) berkata,

Para ulama ushuliyyun (ahli ushul Al Fiqh) berargumen dengan ayat ini atas kehujjahan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Baca : Perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah dalil syar’i) Dan bahwa hukum asalnya, umat Islam itu bersuri tauladan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam semua hukum

Keteladanan yang baik ada pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Orang yang meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan Allah, yaitu jalan yang lurus Sedangkan bersuri tauladan kepada selain beliau –apabila menyalahi beliau-, maka itulah teladan yang buruk Seperti perkataan kaum musyrikin saat mereka diseru oleh Para Rasul untuk meneladani mereka,

بَلْ قَالُوٓا۟ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّهْتَدُونَ

Bahkan mereka berkata “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka” (QS Az-Zukhruf [43] : 22)

Suri tauladan yang baik (mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) ini hanya akan ditelusuri dan diikuti oleh orang yang menginginkan Allah dan Hari Akhir Hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takut kepada Allah dan mengharap pahala kepada-Nya, takut akan siksa-Nya yang semuanya mendorongnya untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

- Taisir Al Karim Ar Rahman, V/599

Sufyan bin Uyainah rahimahullah (wafat 198 H) berkata,

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tolak ukur terbesar, segala sesuatu diukur dengannya, diukur dengan akhlak, perjalanan hidup serta petunjuk beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam- Segala yang menyamai atau sejalan dengannya maka itu merupakan kebenaran sementara segala yang menyelisihinya maka itu adalah kebatilan

- Al Khatib Al Baghdadi, Al Jami li Akhlaqir Rawi Wa Adabis, I/79

Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah (wafat 792 H) berkata,

Tidak ada THARIQAH (JALAN) kecuali THARIQAH (JALAN) yang ditempuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada HAKIKAT kecuali HAKIKAT yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada SYARIAT kecuali SYARIAT yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada AQIDAH kecuali AQIDAH yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Setiap mahluk, setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka TIDAK AKAN mendapatkan ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan tidak akan sampai ke Surga dan kemuliaannya MELAINKAN DENGAN ITTIBA’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lahir dan batin

Dan barangsiapa yang tidak membenarkan apa yang diberitakan dan disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak berpegang teguh dan tidak taat terhadap apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dalam perkataan yang bathin maupun yang zhahir, MAKA ia tidak termasuk orang yang beriman Kalau ia tidak membenarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak tunduk, tidak taslim hatinya dan anggota tubuhnya tidak melaksanakan sesuai ketentuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, MAKA ia bukan termasuk orang mukmin apalagi SAMPAI dikatakan wali meskipun ia terbang di udara atau berjalan di atas air

- Syarh al Aqidah Ath Thahawiyyah, I/ 507

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَيِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ (1) 

Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-nya dan bertakwalah kepada Allah Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui

- QS Al Hujurat [49] : 1

Tafsir Muyassar

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-nya, janganlah kalian memutuskan sebuah perkara mendahului Allah dan Rasul-nya dalam syariat agama kalian, karena dengan itu kalian terjatuh ke dalam tindakan membuat bid’ah Takutlah kalian kepada Allah dalam perkataan dan perbuatan kalian, jangan sampai menyelisihi Allah dan Rasul-Nya Sesungguhnya Allah Maha Mendengar perkataan-perkataan kalian, Maha Mengetahui niat dan perbuatan kalian Ini merupakan peringatan kepada orang-orang yang beriman agar tidak melakukan bid’ah dalam agama, atau membuat syariat dalam agama yang tidak Allah izinkan

- Tafsir Muyassar, II/667

Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat 728 H) berkata,

Allah telah memerintahkan orang-orang beriman agar mengikuti Allah dan Rasul-Nya pula Karena manusia tidak mendengar firman Allah langsung dari-Nya, tetapi antara mereka dengan Allah terdapat perantara seorang Rasul dari kalangan manusia Karena itu, hendaklah mereka tidak mengucapkan suatu perkataan sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan apa yang disampaikannya kepada mereka dari Allah dan hendaklah mereka tidak melakukan amal kecuali yang diperintahkan kepada mereka Janganlah seorang mukmin berbicara mengenai suatu masalah agama pun kecuali mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Jangan mendahului beliau, tetapi hendaklah melihat apa yang diucapkan oleh beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam-, sehingga ucapannya mengikuti ucapan beliau dan amalnya mengikuti perintah beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam-  Karena itu tidak ada seorang pun Sahabat, Tabi’in dan imam umat Islam yang mengikuti Manhaj (jalan) Para Sahabat radhiyallahu ‘anhu ajma’in dan Tabi’in, menolak nash dengan penalarannya (akal logika) Jika ingin mengetahui atau berbicara tentang satu persoalan agama, ia melihat kepada firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Darinya ia belajar, dengannya ia berbicara, di dalamnya ia melihat dan berpikir, dan dengannya ia berdalil Inilah prinsip para pengikut (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Manhaj Para Sahabat radhiyallahu ‘anhu ajma’in)

Sedangkan para Ahlu Bid’ah, secara batin mereka tidak mendasarkan persoalan agama pada apa yang mereka terima dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, melainkan berdasarkan pandangan dan perasaan mereka sendiri, kemudian jika mereka menemukan sunnah itu cocok dengan pandangan dan perasaan mereka, mereka menggunakannya, dan jika tidak demikian, maka mereka tidak memperdulikannya jika mereka menemukan sunnah tidak cocok (dengan hawa nafsu) mereka, mereka berpaling darinya dengan melakukan tafwidh, tahrif (penyimpangan) atau takwil

- Al Furqan Bainal Haq Wal Bathil, hlm 69-70

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 774 H) berkata,

Janganlah kalian tergesa-gesa melakukan segala sesuatu sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi jadikanlah kalian semua pengikutnya (ittiba) dalam segala hal Mengenai firman-Nya, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya” Ali bin Abu Thalhah rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu : “Janganlah kalian mengucapkan hal-hal yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah” (Al Musamma Shahifah Ali bin Abu Thalhah an Ibni Abbas fi Tafsir al Qur’an al Karim, hlm 692) Mujahid rahimahullah mengatakan : “Janganlah kalian mendahului Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sesuatu hal, sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkannya lewat lisan beliau” Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan : “Dalam bentuk ucapan dan perbuatan

- Tafsir min Ibnu Katsir, VII/470-471

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (wafat 1376 H) berkata,

Ayat ini mencakup etika terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta mengagungkan, menghormati dan memuliakannya Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan tuntunan keimanan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta harus berjalan di belakang perintah-perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam semua hal, agar tidak mendahului Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Tidak mengatakan sesuatu pun hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan, dan tidak memerintah apa pun hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah

Inilah hakikat etika wajib terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya dan itulah alamat kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba Jika etika tersebut tidak dimiliki oleh seorang hamba, maka dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan abadi dan kenikmatan kekal

Dalam hal ini terdapat larangan keras untuk mendahului perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum beliau mengucapkan

Manakala Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah jelas, maka ia wajib diikuti dan harus didahulukan atas yang lainnya, tidak peduli siapa orangnya

- Taisir Al Karim Ar Rahman, VI/598


https://mfacebookcom/storyphp?story_fbid=pfbid02Z85v95gZAJq8tJTy7rzAbBUszGqqGWUjHJW5E9aAEet22wTJzSyw8is3tcccogF9l&id=100081182600047


Atha bin Yussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“ [HR Muslim, 3509]

Jazaakumullahu khairan


Share:

Perumpamaan Orang Yang Tergoda Dengan Dunia

Perumpamaan Orang Yang Tergoda Dengan Dunia
Bismillah...

Ada sesendok madu yang jatuh ke lantai, lalu datanglah semut mencicipinya dari PINGGIRNYA.. setelah itu dia pergi meninggalkannya.

Namun rasa madu itu terlalu nikmat baginya, maka dia pun kembali untuk melahapnya.. kemudian dia berusaha meninggalkannya lagi.

Belum jauh dia meninggalkannya, dia merasa belum cukup dengan apa yang dinikmatinya dari PINGGIRAN madu itu, akhirnya dia pun memutuskan masuk ke TENGAH madu itu untuk menikmati manisnya lebih banyak lagi.

Maka sampailah dia di pertengahannya, dan mulai menikmati manisnya madu itu dengan lebih leluasa…

Tapi, ketika dia ingin keluar, ternyata dia tidak bisa, kaki-kakinya telah masuk lengket dalam madu itu… dan keadaannya terus seperti itu hingga dia mati.

========

Begitulah dunia, manisnya akan terus menggoda… jangan sampai kita terlena dengannya.

Tapi, gunakanlah dia untuk mendapatkan PAHALA akherat, bukan HANYA untuk menikmatinya SAJA.

Semoga kita selalu mendapat taufiq-Nya dalam memperlakukan dunia.


Ditulis oleh, Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى


Ref :  http://bbg-alilmu.com/archives/8179

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


 

Share:

Padahal...

Bismillah...

Bagaimana bisa kasih selamat, padahal Allah katakan tentang diriNya di ayat yg sudah kita hapal sejak kecil?!

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

"Allah tidak punya anak dan tidak pula dilahirkan." (Al Ikhlas: 3)

====

Bagaimana bisa kasih selamat, padahal Allah suruh kasih peringatan?!

وَيُنذِرَ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدًا

"Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, “Allah memiliki seorang anak.” (Al Kahfi: 4)

Ayat yg sering kita baca tiap jumat.

====

Bagaimana bisa kasih selamat, padahal langit & bumi pun hampir runtuh mendengarnya?!

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91)

"Hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung2 runtuh, karena mereka menganggap Allah Ar Rahman mempunyai anak!" (Maryam: 90, 91)

=====

Bagaimana bisa kasih selamat, padahal Allah beri gelar yg sangat buruk: kufur?!

لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ

"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam"

لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun."

لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ

"Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan, bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa" (Al Maidah: 73)

====

Bagaimana bisa ucapkan selamat, padahal Nabi Isa pun mendustakan perkataan itu?!

وَإِذْ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِى وَأُمِّىَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِىٓ أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِى بِحَقٍّ

"Dan ingatlah ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” Isa menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku!" (Al Maidah: 116)

====

Bagaimana bisa ucapkan selamat, padahal Allah melaknat mereka?!

وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ عُزَيْرٌ ٱبْنُ ٱللَّهِ وَقَالَتِ ٱلنَّصَٰرَى ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ ٱللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَٰهِهِمْ ۖ يُضَٰهِـُٔونَ قَوْلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن قَبْلُ ۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

"Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?" (at Taubah: 30)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts