Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah

Nikmat Yang Paling Agung

Diutusnya Nabi Muhammad, Nikmat Yang Paling Agung
Bismillah...

Diantara nikmat dan anugerah Allah yang paling agung atas umat ini adalah dengan DIUTUSNYA Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa petunjuk mengajarkan ilmu yang dengannya manusia keluar dari kegelapan kekufuran menuju kepada cahaya iman, membawa agama yang haq sebagai jalan keselamatan dan kebahagian dunia dan akhirat. 

Allah Ta’ala berfirman :

لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ 

Sungguh Allah telah menganugerahkan karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah (sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata". (QS Ali Imran : 164) 

Ibnu Rajab rahimahullah berkata tentang ayat diatas :

فَإِنَّ النِّعْمَةَ عَلَى الْأُمَّةِ بِإِرْسَالِهِ أَعْظَمُ مِنَ النِّعْمَةِ عَلَيْهِمْ بِإِيْجَادِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَالشَّمْسِ، وَالْقَمَرِ، وَالرِّيَاحِ، وَاللَّيْلِ، وَالنَّهَارِ، وَإِنْزَالِ الْمَطَرِ، وَإِخْرَاجِ النَّبَاتِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ؛ فَإنَّ هَذِهِ النِّعْمَةَ كُلَّهَا قَدْ عَمَّتْ خَلْقًا مِنْ بَنِيْ آدَمَ كَفَرُوْا باللَّهِ وَبِرُسُلِهِ وَبِلِقَاءِهِ، فَبَدَّلُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا. وَأَمَّا النِّعْمَةُ بِإِرْسَالِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَإنَّ بِهَا تَمَّتْ مَصَالِحُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَكَمُلَ بِسَبَبِهَا دِيْنُ اللَّهِ الَّذِيْ رَضِيَهُ لِعِبَادِهِ، وَكَانَ قَبُوْلُهُ سَبَبَ سَعَادَتِهِمْ فِيْ دُنْيَاهُمْ وِآخِرَتِهِمْ 

Sesungguhnya nikmat atas umat ini dengan diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah nikmat yang paling besar dari nikmat di ciptakannya langit, bumi, matahri, bulan, angin, malam, siang, turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, dan selainnya. Karena sesungguhnya semua nikmat ini mencakup untuk seluruh makhluk dari kalangan bani adam yang kufur kepada Allah, Rasul-Nya serta hari kiamat, maka mereka telah mengganti (membalas) nikmat dengan kekufuran. Adapun nikmat dengan diutusnya Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam didalamnya mencakup kebaikan dunia dan akhirat, serta menjadi sempurna dengannya agama yang Allah ridhai bagi para hamba-Nya, yang barang siapa menerimanya akan berbahagia hidupnya di dunia dan di akhirat." (Tafsir Ibnu Rajab 1/222) 

Secara umum wahyu agama ini dibangun diatas dua dasar yaitu ILMU dan AMAL. Dengan membawa dua dasar inilah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus ke muka bumi.

Sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ 

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai." (QS At Taubah : 33, As Shaf : 9) 

Al hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وَقَالَ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ ، فَالْهُدَى هُوَ: الْعِلْمُ النَّافِعُ، وَدِينُ الْحَقِّ: هُوَ الْعَمَلُ الصَّالِحُ 

Dan Allah Ta’ala berfirman, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk dan agama yang benar” maka yang di maksud petunjuk yaitu ILMU AGAMA YANG BERMANFAAT dan yang dimaksud dengan agama yang haq adalah AMAL SHALIH ” (Tafsir Ibnu Katsir 7/303) 

Ilmu agama adalah karunia dan nikmat Allah yang paling agung, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَأَنزَلَ اللّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكَ عَظِيماً 

"Dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah KARUNIA Allah sangat besar atasmu". (QS An Nisa’ : 113)

‎يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Allah menganugerahkan hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah: 269)

Syaikh As-Sa’di menyatakan bahwa hikmah akan membuahkan ilmu, bahkan amalan. Oleh karenanya, hikmah ditafsirkan dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan saleh. Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Hikmah adalah ilmu yang benar dan pengetahuan akan berbagai hal dalam Islam. Orang yang memiliki hikmah akan mengetahui rahasia-rahasia di balik syari’at Islam. Jadi, orang bisa saja ‘alim (memiliki banyak ilmu), tetapi belum tentu memiliki hikmah. Hikmah berkonsekuensi memiliki ilmu dan amal. Hikmah dapat diartikan dengan ilmu dan amal saleh.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 686)


April 25, 2023

Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie


🌐 https://abughozie.com/?p=1191

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Puasa Syawal Hendaknya Disembunyikan

Puasa Syawal Hendaknya Disembunyikan
Bismillah...

Untuk amalan sunnah, hendaknya disembunyikan rapat-rapat. Ini berlaku pula untuk puasa Syawal.

Sedangkan amalan wajib memang ditampakkan di hadapan orang lain.

Lihat contoh para salaf berikut ini …

Jika Ibrohim bin Ad-ham diajak makan (padahal ia sedang puasa), ia pun ikut makan dan ia tidak mengatakan, “Maaf, saya sedang puasa”.

Dalam rangka menyembunyikan amalan puasa sunnah, sebagian salaf senang berhias agar tidak nampak lemas atau lesu karena puasa.

Mereka menganjurkan untuk menyisir rambut dan memakai minyak di rambut atau kulit di kala itu.

Ibnu ‘Abbas mengatakan,

إِذَا كَانَ صَوْمُ أَحَدِكُمْ فَلْيُصْبِحْ دَهِينًا مُتَرَجِّلاً

Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka hendaklah ia memakai minyak-minyakan dan menyisir rambutnya.” Disebutkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya tanpa sanad (secara mu’allaq).

Daud bin Abi Hindi berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satupun orang, termasuk keluarganya yang mengetahuinya.

Ia adalah seorang penjual sutera di pasar. Di pagi hari, ia keluar ke pasar sambil membawa sarapan pagi. Dan di tengah jalan menuju pasar, ia pun menyedekahkannya. Kemudian ia pun kembali ke rumahnya pada sore hari, sekaligus berbuka dan makan malam bersama keluarganya. (Lihat Shifatus Shofwah, Ibnul Jauziy, 3: 300)

Jadi orang-orang di pasar mengira bahwa ia telah sarapan di rumahnya. Sedangkan orang-orang yang berada di rumah mengira bahwa ia menunaikan sarapan di pasar.

Masya Allah, luar biasa trik beliau dalam menyembunyikan amalan.

⬛️ Apa yang memotivasi para salaf menyembunyikan amalan?

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim no. 2965).

Mengasingkan diri berarti amalannya pun sering tidak ditampakkan pada orang lain.

Itulah para ulama, begitu semangatnya mereka dalam menyembunyikan amalan puasanya.

Namun yang patut diingat adalah perkataan Al Fudhail bin ‘Iyadh di mana ia berkata,

تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ

Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” (Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 23: 174).

Ulama Al Lajnah Ad Daimah ditanya mengenai perkataan Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, yaitu meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia itu syirik.

Kami dan saudara kami biasa meninggalkan amal sunnah karena khawatir pada manusia boleh jadi karena akan jadi bencana bagi diri kami atau merendahkan kami. Atau ada yang meninggalkan amalan karena takut cemoohan saudara yang lain atau takut ditindak secara hukum.

Apakah seperti itu termasuk riya’? Lalu bagaimana cara berlepas diri darinya?

Jawab dari para ulama Al Lajnah Ad Daimah -Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia-,

Pernyataan, beramal karena manusia termasuk syirik. Pernyataan ini benar adanya karena berdasarkan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan kewajiban ikhlas karena Allah dalam ibadah dan diharamkannya riya’ (pamer amalan).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebut riya’ dengan syirik ashgor dan perbuatan inilah yang paling dikhawatirkan menghidap pada umatnya.

Adapun pernyataan, meninggalkan amalan karena manusia itu riya’, maka itu tidak secara mutlak.

Ada perincian dalam hal itu dan intinya tergantung pada niat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” Jadi niat ini yang jadi patokan, ditambah amalan tersebut harus bersesuaian dengan tuntunnan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini berlaku pada setiap amal.

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang beramal tanpa tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Jika seseorang meninggalkan amalan yang tidak wajib karena menyangka bahwa hal itu dapat membahayakan dirinya, maka tidak termasuk riya’. Ini termasuk strategi dalam beramal.

Begitu pula jika seseorang meninggalkan amalan sunnah di hadapan manusia karena khawatir dipuji yang dapat membahayakan diri atau memudhorotkannya, maka ini bukanlah riya’.

Adapun amalan wajib tidak boleh ditinggalkan karena takut dipuji manusia kecuali jika ada udzur syar’i.

Wa billahit taufiq. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

[Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, 1: 768-769, Fatwa ini ditandatangani oleh: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan selaku anggota, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota]

Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa amalan sunnah hendaknya disembunyikan rapat-rapat, itu lebih baik.

Sedangkan amalan wajib itulah yang ditampakkan. Kalau sengaja seseorang meninggalkan amalan wajib biar tidak disebut riya’, itulah yang bahaya.

Adapun rincian yang menarik …

Imam Al-Iz bin ‘Abdus Salam telah menjelaskan hukum menyembunyikan amalan kebajikan secara lebih terperinci. Beliau berkata, “Ketaatan (pada Allah) ada tiga:

▶️ 1. Pertama: Amalan yang disyariatkan untuk ditampakkan seperti adzan, iqomat, ucapan takbir ketika shalat, membaca Qur’an secara jahr dalam shalat jahriyah (Maghrib, Isya’ dan Shubuh, pen), ketika berkhutbah, amar ma’ruf nahi mungkar, mendirikan shalat jum’at dan shalat secara berjamaah, merayakan hari-hari ‘ied, jihad, mengunjungi orang-orang yang sakit, dan mengantar jenazah, maka amalan semacam ini tidak mungkin disembunyikan.

Jika pelaku amalan-amalan tersebut takut berbuat riya, maka hendaknya ia berusaha keras untuk menghilangkannya hingga dia bisa ikhlas dalam beramal.

Sehingga dengan demikian dia akan mendapatkan pahala amalannya dan juga pahala karena kesungguhannya menghilangkan riya’ tadi, karena amalan-amalan ini maslahatnya juga untuk orang lain.

▶️ 2. Kedua: Amalan yang jika diamalkan secara sembunyi-sembunyi lebih utama daripada jika ditampakkan.

Contohnya seperti membaca Qur’an dengan sir (lirih) dalam shalat siriyah (zhuhur dan ashar, pen), dan berdzikir dalam solat secara perlahan. Maka dengan perlahan lebih baik daripada jika dijahrkan.

▶️ 3. Ketiga: Amalan yang terkadang disembunyikan dan terkadang ditampakkan seperti amalan sedekah. Jika dia kawatir tertimpa riya’ atau dia tahu bahwasanya biasanya kalau dia nampakan amalannya dia akan riya’, maka amalan (sedekah) tersebut disembunyikan lebih baik daripada jika ditampakkan.

Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 271)

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.


Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc


Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 10 Syawal 1435 H

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/LbbpmCmupLTBzKFHG2jkW4

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Ibadah Selalu Walau Ramadhan Berlalu

Ibadah Selalu Walau Ramadhan Berlalu
Bismillah...

Tanpa terasa begitu cepat waktu berlalu, bulan Ramadhan telah meninggalkan kita, dan hal itu bukan berarti selesai sudah perjuangan dan kesungguhan kita dalam menggapai ridha Allah , karena amalan seorang muslim tidak putus dengan berakhirnya Ramadhan akan tetapi putusnya amal seseorang adalah karena putusnya umur. 

Allah Ta’ala berfirman :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ 

Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu kematian” (QS Al Hijr : 99) 

Al-yaqin diartikan dengan kematian didukung oleh firman Allah Ta’ala,

لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ

Mereka menjawab: 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian'.” (QS. Al-Mudattsir: 43-47)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata :

عَمَلُ الْمُؤْمِنِ لَا يَنْقَضِيْ حَتَّى يَأْتِيَهُ أَجَلهُ 

"Amalan seorang mukmin tidak terhenti sehingga datang ajalnya” (Lathoiful Ma’arif, hal. 350) 

Al Hasan Bashri rahimahullah berkata :

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَجْعَلْ لِعَمَلِ الْمُؤْمِنِ أَجَلاً دُوْنَ الْمَوْتِ ثُمَّ قَرَأَ: {وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ} 

Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batasan amalan seorang mukmin selain kematian, lalu beliau membaca Firman Allah : Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu kematian” (QS Al Hijr : 99)” (Lathoiful Ma’arif, hal. 350) 

Bisyir Al Haafi rahimahullah pernah ditanya tentang orang orang yang hanya bersungguh sungguh beribadah dibulan Romadhan saja, maka beliau rahimahullah berkata :

بِئْسَ الْقَوْمُ لَايَعْرِفُوْنَ لِله حَقًّا إِلَّا فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِيْ يَتَعَبَدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهُ 

Alangkah buruknya suatu kaum yang tidak mengenal Allah dengan benar kecuali di bulan Ramadhan, sesungguhnya orang shalih itu adalah yang beribadah dan bersungguh sungguh di sepanjang tahun (bukan hanya Ramadhan)” (Lathoiful Ma’arif, hal. 349) 

Semoga dianugerahkan keistiqamahan diatas ketaatan.


April 23, 2023

Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie   


https://abughozie.com/?p=1181

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Hakikat Mudik

Hakikat Mudik Yang Sesungguhnya Dalam Islam
Bismillah...

Diantara kesamaan wasiat seluruh para Nabi dan para pengikutnya adalah wasiat tentang hakikat MUDIK yang sesungguhnya, yaitu perjalanan pulang menuju kampung akhirat. 

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ 

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’, dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur (pasti akan mati).” 

Dan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan, “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Bukhari no. 6416; at-Tirmidzi, no. 2333; Ibnu Mâjah no. 4114; Ahmad, II/24 dan 41; al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, XIV/230, no. 4029; Ibnu Hibbân, at-Ta’lîqâtul Hisân– no. 696)

Ibnu Rajab al Hanbali –rahimahullah- berkata tentang hadits diatas :

وَهَذَا الْحَدِيثُ أَصْلٌ فِي قِصَرِ الْأَمَلِ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَتَّخِذَ الدُّنْيَا وَطَنًا وَمَسْكَنًا، فَيَطْمَئِنَّ فِيهَا، وَلَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِيهَا كَأَنَّهُ عَلَى جَنَاحِ سَفَرٍ: يُهَيِّئُ جِهَازَهُ لِلرَّحِيلِ. وَقَدِ اتَّفَقَتْ عَلَى ذَلِكَ وَصَايَا الْأَنْبِيَاءِ وَأَتْبَاعِهِمْ، قَالَ تَعَالَى حَاكِيًا عَنْ مُؤْمِنِ آلِ فِرْعَوْنَ أَنَّهُ قَالَ: {يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ} [غافر: 39] . «وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا لِي وَلِلدُّنْيَا إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ قَالَ فِي ظِلِّ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا» 

Hadits diatas sebagai dalil tentang disyari’atkannya untuk tidak panjang angan-angan (dalam hidup) di dunia, dan seorang mukmin tidak sepantasnya untuk menjadikan dunia sebagai tempat tinggal dan tempat menetapnya yang merasa tentram didalamnya, namun hendaknya menjadikannya hidup di dunia seolah dalam tengah perjalanan safar yang senantiasa mempersiapkan bekalnya untuk perjalanan. Sungguh telah bersepakat atas hal ini wasiatnya para Rasul dan pengikut mereka. Allah berfirman menceritakan tentang seorang mukmin dari keluarga Fir’aun, yang berkata : “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal”. (QS Ghofir : 39). Dan Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Apa urusanku dengan dunia ini, sesungguhnya perumpaanku dengan dunia adalah seperti seorang Pengendara (yang tengah dalam safar) yang sedang beristirahat siang dibawah pohon kemudian pergi meninggalkannya” (Jaami’ul ‘Ulum Wal Hikam 2/377) 

Kemudian beliau pun membawakan perkataan Ali bin Abi Thalib : 

وَكَانَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: إِنَّ الدُّنْيَا قَدِ ارْتَحَلَتْ مُدْبِرَةً، وَإِنَّ الْآخِرَةَ قَدِ ارْتَحَلَتْ مُقْبِلَةً، وَلِكُلٍّ مِنْهُمَا بِنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ، وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ. 

Ali bin Abi Thalib berkata, Sesungguhnya dunia ini telah bergerak pergi dan sesungguhnya akhirat telah bergerak datang, dan masing-masing keduanya memiliki pengikut, maka jadilah kalian menjadi para pengikut akhirat, dan jangan kalian menjadi para pengikut dunia, karena hari ini adalah amal tidak ada hisab, sedangkan hari esok adalah hisab dan tidak ada lagi amal” (HR Bukhari) 

Inilah hakikat pulang kampung kita, karena dunia bukan tempat tinggal kita yang hakiki, tempat mudik kita adalah akhirat dan negeri harapan kita adalah surga. Maka jangan sia-sia kan umur dan waktu luang yang sangat berharga, ia ibarat modal hidup kita, namun sangat disayangkan kebanyakan manusia lalai dan tertipu dengan nikmat yang besar ini, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ 

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat SEHAT dan WAKTU LUANG”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas). 

Demikian semoga bermanfaat. 

Wallahu waliyyut Taufiq


April 17, 2023 

Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie   


https://abughozie.com/?p=1141

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

"What's Next" (Mau Apa Selanjutnya)?

"What's Next" (Mau Apa Selanjutnya)?
Bismillah...

Lebaran sudah, mudik juga sudah selesai, lalu apa selanjutnya?

Tinggal bagaimana kita menjaga nilai-nilai Ramadhan yang sudah didapat..

Kita jaga puasanya dengan menjalankan puasa-puasa sunnahnya, mentadaburi al-Qur'an nya, perbanyak dzikirnya, jaga lisannya dan jadilah pema'af..

Semoga Allah mempertemukan kembali kita dengan Ramadhan yang akan datang dengan kualitas takwa yang semakin baik..

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami..

Dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".

```(QS. Ali Imron: 8)```

Marilah senantiasa menjaga hati, lisan dan tangan untuk bertakwa hanya kepada Allah semata..

Kerjakan perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya..

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم


🔰 @IslamAdalahSunnah


🌐 https://t.me/joinchat/SPFGWMuhLqwMxy99

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Niat Melahirkan Amalan

Niat Melahirkan Amalan
Bismillah...

Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mendidik kita bahwasannya Niat (dalam hati) melahirkan tindakan (amal) sebagaimana hadits seseorang itu tergantung niatnya, dan tindakan (amal) yang berkesinambungan melahirkan kebiasaan. Jadi kita ngga perlu ajaran Kafir Aristoteles yang mengatakan Pikiran melahirkan tindakan.

Dari Umar bin Khathab, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيِهِ

Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.”

[HR Bukhari (hadits no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953) dan Muslim no. 1907. An-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin dan kitab Arba’in dan Ibnu Rajab dalam kitab Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam]

Makna Ungkapan Hadits

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat.

Imam An-Nawawi berkata, “Jumhur ulama berkata, ‘Menurut ahli bahasa, ahli ushul dan yang lain lafadz إِنَّمَا digunakan untuk membatasi, yaitu menetapkan sesuatu yang disebutkan dan menafikan selainnya. Jadi, makna hadits di atas adalah bahwa amalan seseorang akan dihisab (diperhitungkan) berdasarkan niatnya; dan suatu amalan tidak akan dihisab bila tidak disertai niat.” (Kitab Syarah Shahih Muslim XIII/47).

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“من كانت الدنيا همه فرق الله شمله”. و في لفظه, “أمره, و جعل فقره بين عينيه, و لم يأته من الدنيا إلا ما كتب له, و من كانت الأخرة نيته جمع الله له أمره و جعل غناه في قلبه و أتته الدنيا و هي راغمة”

Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran ada di hadapannya, padahal ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Dan barangsiapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menghimpun urusannya dan akan menjadikan kekayaan (rasa cukup) di hatinya, dan dia akan melihat harta dunia dalam keadaan rendah.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْـحَسَنَاتِ وَالسَّيِّـئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِـهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهُ اللّـهُ عَزَّوَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّـئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ؛ كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِهَـا فَعَمِلَهَا ، كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً ». رَوَاهُ الْـبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ فِـيْ صَحِيْحَيْهِمَـا بِهَذِهِ الْـحُرُوْفِ

Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan  barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” [al-Bukhâri (no. 6491), Muslim (no. 131 [207]) dan Ahmad (I/310, 361)]

Saking bodohnya dalam mengenal Allah Azza Wa Jalla dan (Sunnah) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sampai harus banget mengutip ajaran Kafir.


Atha bin Yussuf


https://t.me/AthaBinYussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Amalan Tergantung Pada Penutupnya

Amalan Tergantung Pada Penutupnya
Bismillah...

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ

نَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى رَجُلٍ يُقَاتِلُ الْمُشْرِكِينَ وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنْهُمْ فَقَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا فَتَبِعَهُ رَجُلٌ فَلَمْ يَزَلْ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى جُرِحَ فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَقَالَ بِذُبَابَةِ سَيْفِهِ فَوَضَعَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ فَتَحَامَلَ عَلَيْهِ حَتَّى خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Dari Sahal bin Sa'ad As Sa'idi, ia berkata, Nabi ﷺ pernah mengarahkan pandangannya kepada seseorang yang memerangi kaum Musyrikin, sementara ia adalah salah seorang prajurit kaum Muslimin yang gagah berani, namun anehnya beliau justru berujar, 

"Siapa yang ingin melihat salah seorang penduduk neraka, silakan lihat orang ini". 

Sebelumnya ada seseorang yang telah menyertainya, dan terus menyertainya hingga prajurit tersebut terluka dan ingin menyegerakan kematiannya. Serta merta ia letakkan ujung pedangnya di antara kedua dadanya dan lantas ia hunjamkan hingga menembus kedua bahunya. 

Selanjutnya Nabi ﷺ bersabda, 

"Sesungguhnya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya, ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sesungguhnya (hasil) amalan itu tergantung pada penutupnya (akhirnya)"

(HR. Shahih Bukhari no 6012)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts