Jika engkau tidak ingin tersesat dalam hidupmu dan juga selamat di dunia dan akherat kelak, maka ikutilah petunjuk yang datang dari Allah azza wa jalla serta Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Keterkaitan di antara illat (alasan) dan ma'lul (kejadian berdasarkan alasan) contohnya seperti dibawah ini,
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى
"Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, (ketahuilah bahwa) siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (QS. Thaha [20] : 123-124)
Ma'lul (kejadian berdasarkan alasan) nya adalah tidak akan sesat dan tidak akan celaka, dan Illat (alasan) dari tidak akan sesat dan tidak akan celaka karena mengikuti yang datang dari Allah Azza Wa Jalla, baik itu Al Qur'an dan As Sunnah.
Telah menceritakan Abu Bakar Ahmad bin Ishaq Al Faqih kepada kami : telah memberitakan Al Abbas bin Al Fadhl Al Asfathi (kepada kami) : telah menceritakan Ismail bin Abi Uwais kepada kami : telah mengabarkan Ismail bin Muhammad bin Al Fadhl Asy-Sya'rani kepadaku, kakekku menceritakan kepada kami : telah menceritakan Ibnu Abi Uwais kepada kami : telah menceritakan ayahku kepada kami dari Tsaur bin Zaid Ad-Dili, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpidato di hadapan umat pada haji Wada',
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu sekalian apa-apa yang jika kamu sekalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu : Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya.”
- HR. Al Hakim, Al Mustadrak no. 318. Beliau berkata “Sanadnya Shahih. Bukhari berhujjah dengan Ikrimah sementara Muslim berhujjah dengan Abu Uwais. Dan hadits ini memiliki dasar dalam Ash Shahih.” Al-Baihaqi no. X/114 dan Malik no. 1395 | no. 1707 secara mursal tidak menyebutkan perawi Sahabat dalam sanad dan ia menshahihkannya. Shahih At Targhib wa Tarhib no. I/147 no. 40 dan Shahih Al Jami I/566 no. 2937
Sehingga menjadi syarat bahwa jika tidak ingin sesat maka ikuti segala petunjuk yang datang dari Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam serta menjauhkan segala bentuk yang menyelisihi petunjuk Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Adapun kebalikannya adalah barangsiapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia akan tersesat selama-lamanya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Allah Azza Wa Jalla berfirman,
وَمَنْ كَانَ فِيْ هٰذِهٖٓ اَعْمٰى فَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ اَعْمٰى وَاَضَلُّ سَبِيْلً
"Siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, di akhirat pun dia pasti buta dan lebih tersesat jalannya." (QS. Al Isra [17] : 72)
Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata,
"Allah mengabarkan bahwa siapa saja yang di dunia ini saat ini sesat, maka di akhirat nanti lebih sesat lagi."
- Miftah Dar As Sa'adah, I/172
Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
"{وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى }
dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini. (Al-Isra: 72)
Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah serta Ibnu Zaid mengatakan bahwa yang dimaksud ialah di dalam kehidupan dunia ini. Dan yang dimaksud dengan buta ialah buta terhadap hujjah Allah, tanda-tanda kebesaranNya, dan keterangan-keterangan dari-Nya.
{فَهُوَ فِي الآخِرَةِ أَعْمَى}
niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta. (Al-Isra: 72)
maksudnya, demikian pula keadaannya, yakni buta pula.
{وَأَضَلُّ سَبِيلا}
dan lebih sesat dari jalan (yang benar). (Al-Isra: 72)
Yakni jauh lebih sesat dari apa yang dialaminya di dunia. Semoga Allah melindungi kita dari hal seperti ini.
- Tafsir min Ibnu Katsir, V/192
Firman Allah Ta’ala,
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
"Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali". (Q.S an-Nisaa` : 115).
Jangan Lupakan Ulama
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)
Allah Ta’ala berfirman,
فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ
“Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
Dan segala kesesatan tempatnya di Neraka pada hari akhirat kelak
Telah mengabarkan kepada kami 'Utbah bin 'Abdullah dia berkata; telah memberitakan kepada kami Ibnul Mubarak dari Sufyan dari Ja'far bin Muhammad dari Bapaknya dari Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
“Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al Qur'an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan sejelek jelek perkara adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah Bid'ah dan setiap Bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam Neraka.”
- HR. Nasa’i no. 1560 | no. 1578 Bukhari 867
Atha bin Yussuf
===============================
Wallahu a'lam bishawab.
Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].
Jazaakumullahu khairan.







