Al-Imam al-Muzany, murid Imam Syafii (wafat 264H) dalam muqaddimah Syarh as-Sunnah beliau menyebutkan bahwa beliau hendak menjelaskan sebagian perkara Sunnah (baca: Aqidah/Manhaj); yang mana, perkara Aqidah/Manhaj tersebut adalah hal yang kita harus BERSABAR diri di atasnya. Perkataan beliau:
فَإنَّك أصلحك الله سَأَلتنِي أَن أوضح لَك من السّنة أمرا تصبر نَفسك على التَّمَسُّك بِهِ
"Sesungguhnya engkau memintaku untuk menjelaskan padamu di antara materi Sunnah (masa'il Aqidah/Manhaj), suatu hal yang engkau (harus) mensabarkan dirimu dalam berpegang teguh padanya."
Syaikh Abdurrazzaq al-Badr dalam "Ta'liqah" beliau menjelaskan bahwa tashabbur (sikap bersabar yang berlipat dan konstan) itu hanyalah bisa didapat dengan cara menempuh sebab-sebab menujunya terlebih dahulu. Muqaddimah sebab-sebab tersebut adalah dua (hal asasi):
[1] DOA. Meminta kepada Allah secara terus menerus. Meminta taufiq dan penjagaan (ishmah) dari fitnah. Selalu meminta kepada-Nya ketetapan di atas agama dan sunnah.
[2] MEMPELAJARI kitab-kitab aqidah yang telah ditulis oleh para Ulama Ahlus Sunnah. Kitab-kitab tersebut menjelaskan nash-nash dua wahyu dan apa yang disepakati oleh sebaik-baik generasi. Kemudian bertanya kepada Ulama tentang hal yang menjadi permasalahan.
Selesai kutipan ringkas penjelasan beliau -hafizhahullah-.
Jika kita refleksikan ke kenyataan, *sebab besar kaum muslimin terjatuh ke kesesatan dalam masalah aqidah ataupun keterombang-ambingan di masalah fitnah,* hanyalah dua:
[1] Kurang, atau kurang tulus, atau kurang mendalami, atau kurang konsisten terhadap doa-doa memohon taufiq dan penjagaan.
Atau:
[2] Tidak mempelajari kitab-kitab aqidah Ahlus Sunnah. Juga tidak merujuk kepada ulama Ahlus Sunnah.
Mungkin yang pertama adalah urusan pribadi. Tapi ketahuilah sekali lagi, tidak tergambar di benak kita: seseorang tengah malam mendoakan hidayah dan taufiq bagi pemimpin muslim, kemudian paginya membongkar aib dan kesalahan mereka di depan rakyatnya. Moga ini jadi pertimbangan.
Adapun yang kedua. Di sinilah point yang sangat zahir kita lihat di lapangan. Kitab-kitab aqidah ditelantarkan oleh sebagian. Pembahasan berkaitan dengan itu pun dianggap kurang menarik, kecuali jika berkaitan dengan jin, atau apa yang ada aura konfliknya, seperti masalah kuburan dan seterusnya.
Sehingga sangat rapuh ketika seorang muslim bersikap namun tanpa didahulukan mempelajari kitab-kitab aqidah. Terlebih kurang bertanya pada ulama atau membaca penjelasan ulama. Terkadang bahkan memiliki sikap sendiri, sesuai keselarasan masyarakat. Atau mungkin: sesuai selera mad'u.
Oleh karenanya, sangat jelas kita melihat diri-diri kita sangat tidak sabaran ketika menghadapi fitnah. Kadang emosi meledak. Disebabkan tidak memiliki muqaddimah yang selamat. Sesiapa yang tak memiliki muqaddimah yang selamat, maka akhirannya adalah 'kiamat'.
Semoga Allah berikan hidayah bayan kepada kaum Muslimin tanah air, kemudian setelah diperlihatkan kebenaran, semoga Allah berikan hidayah taufiq.
Allahumma aamiin.
https://www.instagram.com/p/CmxX7NQhozS/?igshid=MDM4ZDc5MmU=
===============================
🖋️ Ditulis oleh : Ustadz Hasan al Jaizy
Web: https://www.hasanaljaizy.com
IG: http://bit.ly/hasanaljaizyig
FB: http://bit.ly/hasanaljaizyfb
Youtube: http://bit.ly/hasanaljaizyyt
Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
------------------------------
> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link
> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO
===============================
Wallahu a'lam bishawab.
Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].
Jazaakumullahu khairan.







