Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah

Pembagian 3 Tauhid

Pembagian 3 Tauhid
Bismillah...

Para ulama untuk memudahkan pembelajaran, maka dibuatlah istilah-istilah yang tidak ada di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan tiga generasi islam terbaik (sahabat, tabi'in dan tabiuttabi'in) dengan dalil-dalil yang mereka pahami. Dan perkara ini adalah perkara baru (bid’ah) yang diperbolehkan, karena ini hanya pembagian dalam istilah-istilah, bukan inovasi atau kreatifitas dalam beribadah. 

Seperti misalkan ulama membagi dalam masalah hukum menjadi lima bagian ada wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Sunnah juga dibagi menjadi dua bagian, ada sunnah muakkad dan ghairu muakkad. Tentang najis dibagi menjadi tiga bagian, ada Najis Mukhaffafah (ringan), Najis Mutawassitah (sedang) dan Najis Mughalladah (berat).

Uama nahwu membagi kalimat di dalam bahasa arab menjadi 3: Isim, fi’il, dan huruf, berdasarkan penelitian menyeluruh terhadap kalimat-kalimat yang ada di dalam bahasa arab. (Lihat Kitab At-Tahdzir min Mukhtasharat Muhammad Ash-Shabuny fii At-Tafsir karangan Syeikh Bakr Abu Zaid).

Didalam shalat, puasa atau haji ada istilah syarat-syarat, rukun-rukun, wajib-wajib, sunnah-sunnah, makruh-makruh dan pembatal-pembatal. 

Nah selama ini kaum muslimin menerimanya dan tidak ada yang mempersoalkannya istilah-istilah tersebut. Namun kenapa ketika para ulama dalam menjelaskan tauhid dengan cara membagi tauhid menjadi tiga (tauhid rububiyah, tauhid uluhiyyah dan asma wa sifat) dan ada sebagian hanya membagi dua bagian saja (uluhiyyah dan rububiyah) dalam rangka untuk memudahkan dalam pembelajaran, kelompok-kelompok menyimpang mempersoalkannya, bahkan mengatakan ini adalah trinitas seperti Kristen, ini bid'ah yang sesat dan lain sebagainya. Padahal ini hanyalah istilah-istilah dalam pembelajaran untuk memudahkan berdasarkan dalil-dalil dan perkataan-perkataan ulama sebagaimana para ulama membagi istilah-istilah masalah hukum. 

Bahkan mereka sesumbar, "Tolong tunjukkan di kitab apa, ada ulama yang membagi tauhid menjadi tiga!

Seakan-akan perkataannya menunjukkan kehebatannya, bahwa dia telah membaca seluruh kitab ulama. Padahal ini menunjukkan kebodohannya dan kurang pikniknya. 

Tauhid asalnya tidaklah diterima kecuali tauhid yang satu. Karena asalnya (1) Rob yang berhak disembah adalah (2) Rob yang maha Esa dalam penciptaan, dan juga (3) Maha sempurna sifat-sifatnya.

Maksud dari pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu mentauhidkan Allah dalam (1) Rububiyahnya, dalam (2) Uluhiyahnya, dan dalam (3) Asmaa dan SifaatNya.

Tauhid ar-Rubuubiyah artinya Mengesakan Allah dalam hal penciptaan, pemilikan dan pengaturan. Yaitu meyakini bahwa Allah Maha Esa dan tidak ada dzat lain yang ikut nimbrung membantu Allah dalam hal penciptaan, penguasaan, dan pengaturan.

Tauhid al-Uluhiyah : Mengesakan Allah dalam peribadatan hamba kepadaNya. Artinya Allah Maha Esa dalam penyembahan, maka tidak ada dzat lain yang boleh untuk ikut serta disembah disamping penyembahan terhadap Allah

Tauhid al-Asmaa wa as-Sifaat : Mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifatnya. Artinya tidak ada dzat lain yang menyamai sifat-sifat Allah yang maha sempurna.

Pembagian ini terkumpul dalam firman Allah dalam Al Qur’an:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً

Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65).

Perhatikan ayat diatas:

(1). Dalam firman-Nya (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) (Rabb (yang menguasai) langit dan bumi) merupakan penetapan tauhid rububiyah.

(2). Dalam firman-Nya (فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ) (maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya) merupakan penetapan tauhid uluhiyah.

(3). Dan dalam firman-Nya (هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً) (Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?) merupakan penetapan tauhid asma’ wa shifat.

Saya kutip beberapa perkataan ulama saja dibawah ini, karena kalau dikutip semuanya bisa kepanjangan yang membuat para pembaca kelelahan. 

Al Imam Al-Qurthuby (wafat th. 671 H) berkata dalam menafsirkan lafdzul jalalah ( الله) di dalam Al-Fatihah:

فالله اسم للموجود الحق الجامع لصفات الإلهية، المنعوت بنعوت الربوبية، المنفرد بالوجود الحقيقي، لا إله إلا هو سبحانه.

Maka Allah adalah nama untuk sesuatu yang benar-benar ada, yang mengumpulkan sifat-sifat ilahiyyah (sifat-sifat sesuatu yang berhak disembah) , yang bersifat dengan sifat-sifat rububiyyah (sifat-sifat sesuatu yang berkuasa), yang sendiri dengan keberadaan yang sebenarnya, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selainNya. (Tafsir Al Qurthubi). 

Berkata Ibnu Baththah Al-’Akbary (wafat th. 387 H), 

وذلك أن أصل الإيمان بالله الذي يجب على الخلق اعتقاده في إثبات الإيمان به ثلاثة أشياء : أحدها : أن يعتقد العبد ربانيته ليكون بذلك مباينا لمذهب أهل التعطيل الذين لا يثبتون صانعا . الثاني : أن يعتقد وحدانيته ، ليكون مباينا بذلك مذاهب أهل الشرك الذين أقروا بالصانع وأشركوا معه في العبادة غيره . والثالث : أن يعتقده موصوفا بالصفات التي لا يجوز إلا أن يكون موصوفا بها من العلم والقدرة والحكمة وسائر ما وصف به نفسه في كتابه

Dan yang demikian itu karena pokok keimanan kepada Allah yang wajib atas para makhluk untuk meyakininya di dalam menetapkan keimanan kepadaNya ada tiga perkara :

Pertama : Hendaklah seorang hamba meyakini rabbaniyyah Allah ( kekuasaan Allah ) supaya dia membedakan diri dari jalan orang-orang atheisme yang mereka tidak menetapkan adanya pencipta.

Kedua : Hendaklah meyakini wahdaniyyah Allah (keesaan Allah dalam peribadatan) supaya dia membedakan diri dari jalan orang-orang musyrik yang mereka mengakui adanya pencipta alam kemudian mereka menyekutukanNya dengan selainNya.

Ketiga : Hendaklah meyakini bahwasanya Dia bersifat dengan sifat-sifat yang memang harus Dia miliki, seperti ilmu, qudrah (kekuasaan), hikmah (kebijaksanaan) , dan sifat-sifat yang lain yang Dia tetapkan di dalam kitabNya. (Al-Ibanah ‘an Syariatil Firqatin Najiyyah wa Mujanabatil Firaq Al-Madzmumah ( 5 / 475 )). 

Berkata Abu Bakr Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusyi (wafat th. 520 H)

وأشهد له بالربوبية والوحدانية. وبما شهد به لنفسه من الأسماء الحسنى. والصفات العلى. والنعت الأوفى

Dan aku bersaksi atas rububiyyahNya dan uluhiyyahNya, dan atas apa-apa yang Dia bersaksi atasnya untuk dirinya berupa nama-nama yang paling baik dan sifat-sifat yang tinggi dan sempurna. (Muqaddimah kitab beliau Sirajul Muluk (1 / 1)). 


https://www.facebook.com/903924823277358/posts/pfbid02ffc8V447K2dHJj2grSiUTeo2qSSFRh9gK65KprEHxYQMMpH4hhBiLjz8wUzjpzZ8l/


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts