Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah

KAJIAN RAMADHAN 13 : Pintu Surga Ar Rayyan bagi Orang yang Berpuasa

Pintu Surga Ar Rayyan bagi Orang yang Berpuasa
Bismillah wassholatu wasalamu 'ala rasuulillah...

Ar Rayyan secara bahasa berarti puas, segar dan tidak haus. Ar Rayyan ini adalah salah satu pintu di surga dari delapan pintu yang ada yang disediakan khusus bagi orang yang berpuasa.

Dari Sahl bin Sa’ad, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” 

(HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).

Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Al Fath menyebutkan, “Ar Rayyan dengan menfathahkan huruf ro’ dan mentasydid ya’, mengikuti wazan fi’il (kata kerja) dari kata ‘ar riyy‘ yang maksudnya adalah nama salah satu pintu di surga yang hanya dikhususkan untuk orang yang berpuasa memasukinya. Dari sisi lafazh dan makna ada kaitannya. Karena kata ar rayyan adalah turunan dari kata ar riyy yang artinya bersesuaian dengan keadaan orang yang berpuasa. Orang yang berpuasa kelak akan memasuki pintu tersebut dan tidak pernah merasakan haus lagi.” 

(Fathul Bari, 4: 131)

Ibnu Hajar menyebutkan, "Dalam lafazh hadits lainnya disebutkan bahwa di surga itu ada delapan buah pintu. Salah satu pintu dinamakan Ar Rayyan. Pintu tersebut tidaklah dimasuki selain orang yang berpuasa."

(Lihat Fathul Bari, 4: 132). 

Hadits yang dimaksud adalah,

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ »

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, ia berkata, 

“Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.”

(HR. Bukhari no. 3257).

Hadits di atas juga menunjukkan al jaza’ min jinsil ‘amal, yaitu balasan dari Allah sesuai dengan jenis amalan. Dan juga menandakan bahwa *siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka akan diganti dengan yang lebih baik,* sebagaimana disebutkan dalam hadits,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً اتِّقَاءَ اللَّهِ جَلَّ وَعَزَّ إِلاَّ أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْراً مِنْهُ

Jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘azza wa jalla, maka Allah akan mengganti padamu dengan yang lebih baik” 

(HR. Ahmad 5: 78, sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Karena orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat hubungan intim, makan dan minum semuanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. 

Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِى

Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku” 

(HR. Bukhari no. 7492 dan Muslim no. 1151).

Karena ia meninggalkan kenikmatan-kenikmatan ini karena Allah, maka Dia akan mengganti dengan yang lebih baik. Bahkan amalan puasa ini dikhususkan untuk Allah, Dialah yang nanti akan membalasnya. 

Dalam hadits qudsi disebutkan,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ ، إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

Setiap amalan manusia adalah untuknya. Kecuali amalan puasa itu untuk Allah dan Dia yang nanti akan membalasnya.” 

(HR. Bukhari no. 5927 dan Muslim no. 1151).

"Mengenai hadits balasan pintu Ar Rayyan di atas mengandung pelajaran tentang keutamaan puasa dan karomah bagi orang yang berpuasa." 

(Demikian kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 8: 31).


Semoga Allah ﷻ memudahkan kita untuk memasuki pintu tersebut dengan amalan puasa kita.


Walhamdulillah, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad.


✒️ Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Msc حغظه الله تعالى 


📚 Referensi :

•• Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.

•• Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Darul Hadits Al Qohiroh, cetakan tahun 1424 H.

•• Romadhon Durusun wa ‘Ibarun – Tarbiyatun wa Usrorun, Dr. Muhammad bin Ibrahim Al Hamad, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan kedua, tahun 1424 H.


🌐 https://muslim.or.id/17579-kajian-ramadhan-13-pintu-surga-ar-rayyan-bagi-orang-yang-berpuasa.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Ramadhan Bulan Diturunkannya Al-Qur'an

Ramadhan Bulan Diturunkannya Al-Qur'an
Bismillah...

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur".

(QS. Al Baqarah ;185)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

(QS. Al Qadr: 1-3)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

(JANGAN SAMPAI) Ramadhan Berlalu (NAMUN) Dosa Tidak Diampuni

(JANGAN SAMPAI) Ramadhan Berlalu (NAMUN) Dosa Tidak Diampuni
Bismillah...

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan bagi orang yang berpuasa ramadhan dan shalat malam dengan penuh keimanan dan mengharapkan balasan dari Allah semata, diampuni dosanya yang telah lalu. 

Ini kesempatan bagi para pendosa (semua orang adalah pendosa, kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam), untuk semaksimal mungkin beramal ibadah di bulan yang penuh kemuliaan ini. 

Celaka sungguh celaka, bagi orang yang mendapati bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah Subhanahu wa ta’ala).” (HR. Ahmad dan Al-Bukhari dalam al-Adabul mufrad. Hadits Shahih). 

Berkata Qatadah rahimahullah, 

من لم يغفر له في رمضان فلن يغفر له فيما سواه

Barangsiapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan, maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan yang lainnya.” (Imam Ibnu Rajab dalam Kitab Latha-iful ma’aarif, hal. 297)

Yang sungguh sangat memprihatinkan, di bulan Ramadhan ini, sebagian orang justru bertambah dosanya, yakni dengan tidak berpuasa ataupun misalkan atau berpuasa, namun maksiat tidak berkurang. 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0VaVr3sWeJKTGyabicFf5W2XNabDENVDRZ5vtb2NvoUrwKjjysPTbcBE9aw1is1Xkl&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

KAJIAN RAMADHAN 12 : Kesempatan untuk Bertaubat

KAJIAN RAMADHAN 12 : Kesempatan untuk Bertaubat
Bismillah wassholatu wasalamu 'ala rasuulillah.. 

Kita sudah ketahui bahwa bulan Ramadhan penuh dengan berbagai kebaikan. Pada bulan tersebut kita diperintahkan untuk saling berlomba dalam kebaikan. Begitu pula bulan Ramadhan adalah kesempatan kembali untuk taat pada Allah. Kembali pada Allah yang dimaksud di sini adalah dengan bertaubat.

Taubat Wajib dan Taubat Sunnah

Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan, "bahwa taubat itu ada dua macam, ada yang wajib dan ada yang sunnah..

Taubat yang wajib adalah taubat karena meninggalkan suatu perintah atau melakukan suatu larangan. Taubat yang wajib di sini dibebankan bagi seluruh mukallaf (yang telah dibebani syariat) sebagaimana yang Allah perintahkan dalam Al Qur’an dan sunnah Rasul-Nya ﷺ. Sedangkan taubat yang sunnah adalah taubat karena meninggalkan perkara yang sunnah dan melakukan yang makruh..

Barangsiapa yang hanya mencukupkan diri dengan taubat pertama (yang wajib), maka dia merupakan bagian dari golongan pertengahan, disebut al abror al muqtashidin. Barangsiapa yang melakukan dua taubat di atas sekaligus, maka ia termasuk golongan terdepan, disebut as saabiqin al muqorribin." 

(Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 40).

Taubatan Nashuha

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” 

(QS. At Tahrim: 8)

Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus (taubatan nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.

(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 323).

Setiap Dosa Bisa Diampuni

Setiap dosa (baik dosa kecil, dosa besar, dosa syirik bahkan dosa kekufuran) bisa diampuni selama seseorang bertaubat sebelum datangnya kematian walaupun dosa itu sepenuh bumi. 

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

(QS. Az Zumar: 53).

Ayat di atas adalah seruan untuk segenap orang yang terjerumus dalam maksiat, baik dalam dosa kekafiran dan dosa lainnya untuk bertaubat dan kembali pada Allah. Ayat tersebut memberikan kabar gembira bahwa Allah mengampuni setiap dosa bagi siapa saja yang bertaubat dan kembali pada-Nya. Walaupun dosa tersebut amat banyak, meski bagai buih di lautan (yang tak mungkin terhitung). 

Sedangkan ayat yang menerangkan bahwa Allah tidaklah mengampuni dosa syirik, itu maksudnya adalah bagi yang tidak mau bertaubat dan dibawa mati. Artinya jika orang yang berbuat syirik bertaubat, maka ia pun diampuni. Lihat keterangan Ibnu Katsir mengenai ayat di atas dalam kitab tafsir beliau.

Dalam ayat lain disebutkan,

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ

Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya?” 

(QS. At Taubah: 104).

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. An Nisa’: 110).

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا (145) إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (146)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”

(QS. An Nisa’: 145-146)

Kepada orang Nashrani yang menyatakan ideologi trinitas, masih Allah seru untuk bertaubat. 

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salahseorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

(QS. Al Maidah: 73).

Kemudian setelah itu, Allah Ta’ala berfirman,

أَفَلا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

(QS. Al Maidah: 74)

Walau mereka (Nashrani) berkata keji dengan mengatakan bahwa Allah adalah bagian dari yang tiga, namun Allah masih memiliki belas kasih dengan menyeru mereka untuk bertaubat jika mereka mau.

Lihatlah orang yang telah membunuh wali Allah, juga diseru untuk bertaubat jika mereka ingin,

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.

(QS. Al Buruj: 10)

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Lihatlah pada orang-orang yang merasa mewah tersebut, mereka telah membunuh wali-wali Allah dan Allah masih menyeru mereka untuk bertaubat.

Ayat semisal di atas teramat banyak yang juga menerangkan tentang hal yang sama bahwa setiap dosa bisa diampuni bagi yang mau bertaubat. Lihatlah sampai dosa kekafiran pun bisa Allah ampuni jika kita benar-benar bertaubat, apalagi dosa di bawah itu. Sehingga tidak boleh seorang hamba berputus asa dari rahmat Allah walau begitu banyak dosanya. Karena ingatlah saudaraku bahwa pintu taubat dan rahmat Allah begitu luas.

Kembalinya Kebaikan Setelah Taubat

Jika dahulu seorang hamba memiliki kebaikan, lalu ia beramal kejelekan yang dapat menutupi kebaikannya, kemudian setelah itu ia taubat lagi, bagaimana kebaikannya dahulu? Jika ia bertaubat yang tulus, maka kebaikannya di masa silam bisa kembali.

Dari Hakim bin Hizam, ia berkata pada Rasulullah ﷺ,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ أُمُورًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صِلَةٍ وَعَتَاقَةٍ وَصَدَقَةٍ ، هَلْ لِى فِيهَا مِنْ أَجْرٍ . قَالَ حَكِيمٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ »

Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu mengenai berbagai perkara kebajikan yang aku lakukan di masa jahiliyah yaitu ada amalan silaturahim, membebaskan budak dan sedekah, apakah semua itu tetap dicatat sebagai kebaikan (ketika aku masuk Islam)?

Hakim kemudian mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 

Jika engkau masuk Islam, maka kebaikanmu di masa silam pun akan dicatat sebagai kebaikan..”

(HR. Bukhari no. 5992 dan Muslim no. 123).

Ibnu Hajar Al Asqolani berkata menjelaskan hadits diatas,

وَأَنَّهُ لَا مَانِعَ مِنْ أَنَّ اللَّهَ يُضِيفُ إِلَى حَسَنَاتِهِ فِي الْإِسْلَامِ ثَوَابَ مَا كَانَ صَدَرَ مِنْهُ فِي الْكُفْرِ تَفَضُّلًا وَإِحْسَانًا

Suatu yang tidak mustahil jika Allah menambah kebaikannya di masa silam ketika dalam kekafiran pada kebaikannya setelah masuk Islam. Itu dilakukan karena karunia dan bentuk berbuat baik padanya.”

(Fathul Bari, 3: 302).

Jangan Tunda Taubat!

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” 

(QS. Az Zumar: 53-54).

"Maksud ayat di atas adalah kembalilah pada Allah dengan berserah diri pada-Nya sebelum datang siksaan yang membuat mereka tidak mendapat pertolongan, yaitu maksudnya bersegeralah bertaubat dan melakukan amalan sholih sebelum terputusnya nikmat." Demikian uraian Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.


Semoga Allah memberi taufik pada kita untuk terus bertaubat.


Walhamdulillah, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad.


✒️ Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Msc حغظه الله تعالى 


📚 Referensi :

•• Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Shalih Ahmad Asy Syami, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1423 H.

•• Romadhon Durusun wa ‘Ibarun – Tarbiyatun wa Usrorun, Dr. Muhammad bin Ibrahim Al Hamad, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan kedua, tahun 1424 H.

•• Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.


🌐 https://muslim.or.id/17568-kajian-ramadhan-12-kesempatan-untuk-bertaubat.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

(JANGAN SAMPAI) Berbuka Puasa Dengan Bangkai Manusia

(JANGAN SAMPAI) Berbuka Puasa Dengan Bangkai Manusia
Bismillah...

Ada seseorang yang mampu berpuasa dari makanan dan minuman dari mulai terbit fajar sampai tenggelam matahari, namun sayang, dia berbuka dengan yang haram, yakni memakan bangkai manusia yang busuk.

Seorang Tabi'in yang mulia Yahya bin Abi Katsir rahimahullah dahulu pernah berkata

يصوم الرجل عن الحلال الطيب ( يعني الطعام والشراب ) ويفطر على الحرام الخبيث : لحم أخيه ( يعني الغيبة والنميمة ). [ الحلية لأبي نعيم 3 / 69 ]

Seseorang (mampu) berpuasa dari yang halal lagi baik (yakni berpuasa dari makanan dan minuman) dan dia berbuka dengan yang haram lagi buruk dengan memakan daging saudaranya (yakni ghibah dan namimah (mengadu domba)). (Al Hilyah Li Abi Nu'aim 3/69).

Ghibah diibaratkan seperti memakan daging bangkai saudaranya, ini merupakan perumpamaan yang sangat rendah, hina lagi jelek.

Allah Ta’ala berfirman :

وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. (Surah Al Hujurat :12).

Jika seseorang menemukan bangkai binatang peranakan kuda dan keledai, lalu memakannya, itu lebih baik daripada makan bangkai saudaranya seorang muslim yakni dengan mengghibahnya.

Berkata Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ قَيْسٍ قَالَ : مَرَّ عَمْرُو بْنُ العَاصِ عَلَى ببَغْلٍ مَيِّتٍ, فَقَالَ : وَاللهِ لأََنْ يَأْكُلَ أَحَدُكُمْ مِنْ لَحْمِ هَذَا (حَتَّى يمْلأَ بَطْنَهُ) خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ (الْمُسْلِمِ)

Dari Qais, dia berkata: ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anh melewati bangkai seekor bighol, lalu beliau berkata: “Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)”. (Riwayat Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang berbuka puasa dengan bangkai manusia.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0HjM6aDSVKVAZHu7wfSmC9V8UMrbKG2QeEaLBNn6K8KibmuMx2qq6p563XV5hBeUsl&id=350205832188183


AFM


Salurkan ZIS antum melalui Peduli Pendidikan Tahfidz Putri Madrosah Al-Muyassar

Rekening BRI no 7072-01-014142-53-9 a/n Madrosah Al-Muyassar. Konfirmasi transfer WA/SMS ke no 0852 1177 6515.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Ulama & Al-Qur'an di Bulan Ramadhan

Ulama & Al-Qur'an di Bulan Ramadhan
Bismillah...

Kita mungkin sudah pernah mendengar ungkapan..

كان خالد بن الوليد يمسك بالمصحف ويقول باكيا:

Dahulu Khalid bin Al-Walid ketika menggenggam Al-Qur'an, sembari menangis beliau berujar,

شغلنا عنك الجهاد 

"Kami terlalaikan darimu lantaran jihad".

ما أجمله من عذر! 

Duhai, betapa bagusnya alasan beliau!

أما نحن الان فنمسك المصحف ونقول:

Adapun kita saat ini di zaman ini, memegang Al-Qur'an dan mengatakan,

شغلنا عنك الجهاز 

"Kita terlalaikan darimu lantaran jihaz (HP/Gadget)"

ما أقبح من عذر!

Duh, alangkah jeleknya alasan ini!

☝🏼BEGINILAH PARA ULAMA BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR'AN

• Al-'Allamah Ibnu 'Utsaimin رحمه الله تعالى berkata,

وكان بعض أهل العلم في رمضان وهو في وقت تلاوة القرآن يجعل معه دفترًا خاصًا ، كلما قرأ شيئًا واستوقفته آية من كتاب الله فيها معانٍ كثيرة أو ما أشبه ذلك قيَّدها بالدفتر ، فلا يخرج رمضان إلا وقد حصل خيرًا كثيرًا من معاني القرآن الكريم .

"Sejumlah ulama saat bulan Ramadhan, di kala mereka membaca Al-Qur'an, mereka membawa suatu catatan khusus. Setiap kali mereka membaca ada sejumlah ayat yang memiliki multimakna atau yang semisal, maka mereka pun berhenti membacanya, lalu mencatatnya di dalam catatan tadi. Ketika Ramadhan berlalu, mereka pun memperoleh kebaikan yang berlimpah dari makna-makna ayat di dalam Al-Qur’an Al-Karim..

ولقد رأيتُ كُتيبًا صغيرًا للشيخ عبدالرحمن السعدي - 

رحمه الله -

Saya pernah melihat sebuah buku kecil milik Syaikh 'Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah..

يقول : إنه كتبه في رمضان وهو يقرأ القرآن ، تمر به آية فيقف عندها، ويتدبرها ، ويكتب عليها فوائد لا تجدها في أي تفسير .

Syaikh As-Sa'di menyampaikan bahwa beliau menulis buku tersebut di bulan Ramadhan saat sedang membaca Al-Qur'an. Setiap berlalu suatu ayat, beliau pun berhenti sejenak, berusaha meresapi maknanya, lalu menuliskan faidah-faidahnya yang tidak ada di dalam buku tafsir..

فلهذا ابن القيم رحمه الله - حَثَّ على تدبر القرآن لمن أراد الهدى.

Karena itulah, Ibnul Qoyyim rahimahullah mendorong untuk mentadabburi (merenungkan) Al-Qur’an bagi siapa saja yang menginginkan petunjuk.. 

 وشيخه ابن تيمية رحمه الله - قال من تدبر القرآن طالبًا للهُدى منه تبين له طريق الحق.

Guru beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengatakan, "Barangsiapa mentadabburi Al-Qur’an dalam rangka mencari petunjuk, niscaya akan menjadi jelas dan terang jalan kebenaran baginya."

فاشترط شيخ الإسلام 

رحمه الله -  شرطين : التدبر ، وطلب الهدى ، لأنه ربما تدبر ، ولم يقصد طلب الهدى ، ولكن يريد معرفة معاني القرآن فقط ،ماتريد أن تَهْدِي به وتجعله نبراسًا لك تسير عليه ، 

Di sini, Syaikhul Islam memberikan dua syarat, yaitu :

1. Tadabbur (merenungkan Al-Qur’an), dan

2. Mencari petunjuk.

Karena, apabila dia hanya merenungkan saja namun tidak bertujuan mencari petunjuk, hanya ingin tahu makna-makna ayat di dalam Al-Qur’an saja, ini tidak ubahnya seperti orang yang tidak mau berpetunjuk dengan Al-Qur'an dan menjadikannya sebagai pelita jalannya..

فإذا تدبرته، وأنت تريد الهدى منه ، وتريد أن تجعل القرآن نبراسًا لك تسير عليه ، تبين لك طريق الحق.

Namun, jika anda mentadabburinya sekaligus bertujuan mencari petunjuk, anda ingin menjadikan Al-Qur’an sebagai pelita jalan anda, maka akan terang bagi anda jalan kebenaran".

```📚 (Syarh Al-Kafiyah asy-Syafiyah fil Intishari Lil Firqatin Najiyah I/503-4)```


Semoga bermanfaat..


ℳـ₰✍

​✿❁࿐❁✿​

@abinyasalma


🌐 https://t.me/alwasathiyah

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

 

Share:

Bekal Ramadhan #10: Ramadhan, Setan dibelenggu Kok Maksiat Tetap Banyak

Ramadhan, Setan dibelenggu Kok Maksiat Tetap Banyak
Bismillah...

Datangnya bulan ramadhan adalah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. Karena ia adalah bulan yang penuh ampunan dan penuh dengan pelbagai kebaikan. Namun walaupun pintu-pintu kebaikan terbuka lebar dibulan ini kitab sering kali merasa heran, kenapa kemaksiatan tetaplah banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin ? Bukankah setanpun dibelenggu dibulan ini ?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079).

Kau tahu kawan..

Karena saat setan dibelenggu, hawa nafsu menghasutmu.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي…

Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Robbku…” (Yusuf: 53)

Maka boleh jadi setan tidak menggoda, namun hawa nafsu manusialah yang mengajak untuk berbuat maksiat sehingga walaupun di bulan ramadhan tetap ada yang berbuat kemaksiatan.

Disisi lain yang menjadikan kemaksiatan tetaplah ada walaupun sudah memasuki bulan ramadhan adalah bisa jadi kemaksiatan tersebut sudah menjadi kebiasaan seseorang, sebagai contoh adalah seorang wanita yang kebiasaannya adalah keluar rumah tidak memakai jilbab maka ketika ramadhan tiba tidak semerta-merta dia akan mengenakan jilbab karena itu sudah menjadi kebiasaan..

Karena sesuatu yg menjadi kebiasaan itu menjadi seperti watak yang tentunya sulit untuk dihilangkan dengan seketika.

Sebagaimana Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitabnya Iqtidha Sirath Al-Mustaqim :

العادة طابعة ثانية

Kebiasaan itu adalah watak kedua (setelah watak asli).”

Imam as-Sindi dalam Hasyiyah-nya (catatan) untuk sunan an-Nasai. Beliau mengatakan,

ولا ينافيه وقوع المعاصي، إذ يكفي وجود المعاصي شرارة النفس وخبائثها، ولا يلزم أن تكون كل معصية بواسطة شيطان، وإلا لكان لكل شيطان شيطان ويتسلسل، وأيضاً معلوم أنه ما سبق إبليس شيطان آخر، فمعصيته ما كانت إلا من قبل نفسه، والله تعالى أعلم

Hadis ‘setan dibelenggu’ tidak berarti meniadakan segala bentuk maksiat. Karena bisa saja maksiat itu muncul disebabkan pengaruh jiwa yang buruk dan jahat. Dan timbulnya maksiat, tidak selalu berasal dari setan. Jika semua berasal dari setan, berarti ada setan yang mengganggu setan (setannya setan), dan seterusnya bersambung. Sementara kita tahu, tidak ada setan yang mendahului maksiat Iblis. Sehingga maksiat Iblis murni dari dirinya. Allahu a’lam. (Hasyiyah Sunan an-Nasai, as-Sindi, 4/126).

Maka dari itu setelah Allah kurangi satu sebab kemaksiatan seorang hamba dengan dibelenggunya setan, maka sepatutnya kita hilangkan pula sebab-sebab lainnya baik itu dengan menjaga hawa nafsu ataupun juga meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita, sehingga kita dapat benar-benar memaksimalkan keberkahan bulan ramadhan ini.

Dan akhir kata..

Semoga pada bulan ramadhan ini kita dapat berbenah dan menjadi pribadi muslim yang apik nan taat kepada Robb semesta, dan semoga Allah mudahkan kita untuk mampu menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan kedurhakaan di bulan ini dan hari-hari yang akan kita lewati disisa umur kita.


Amiin..


Madinah, 1 Ramadhan 1439 Hijriyyah


https://hamalatulquran.com/ramadhan-setan-dibelenggu-kok-maksiat-tetap-banyak/

•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

Ditulis oleh : Muhammad Fatwa Hamidan

(Alumni PP. Hamalatul Quran dan Mahasiswa Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Madinah)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

KAJIAN RAMADHAN 11 : Maksud Ibadah I’tikaf

KAJIAN RAMADHAN 11 : Maksud Ibadah I’tikaf
Bismillah wassholatu wasalamu 'ala rasuulillah...

Di akhir-akhir bulan Ramadhan, ada amalan mulia yang bisa dipraktekkan. Di antara tujuan melakukan amalan ini adalah kemudahan untuk meraih Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan, selain itu juga untuk mudah berkonsentrasi dalam ibadah pada Allah Ta’ala. Amalan itu adalah amalan i’tikaf.

(Baca : Amalan I'tikaf)

Dalam hadits muttafaqun ‘alaih disebutkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, "bahwa Rasulullah ﷺ biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan."

(HR. Bukhari no. 2025 dan Muslim no. 1171).

Dalil diatas menunjukkan disyari’atkannya i’tikaf. 

Yang dimaksud i’tikaf adalah menetap di masjid yang diniatkan untuk beribadah yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu. Perlu diketahui bahwa hukum i’tikaf itu sunnah dan bukan wajib. 

Ibnul Qayyim rahimahullah telah menjelaskan maksud i’tikaf dalam kitab Zaadul Ma’ad (2: 82-83), “Maksud i’tikaf adalah mengkonsentrasikan hati supaya beribadah penuh pada Allah. I’tikaf berarti seseorang menyendiri dengan Allah dan memutuskan dari berbagai macam kesibukan dengan makhluk. Yang beri’tikaf hanya berkonsentrasi beribadah pada Allah saja. Dengan hati yang berkonsetrasi seperti ini, ketergantungan hatinya pada makhluk akan berganti pada Allah. Rasa cinta dan harapnya akan beralih pada Allah. Ini tentu saja maksud besar dari ibadah mulia ini. Jika maksud i’tikaf memang demikian, maka berarti i’tikaf semakin sempurna jika dilakukan dengan ibadah puasa. Dan memang lebih afdhol dilakukan di hari-hari puasa..

Semoga Allah memberi taufik pada kita untuk melakukan amalan mulia ini.

Walhamdulillah, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad.


✒️ Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Msc حغظه الله تعالى 


📚 Referensi :

•• Romadhon Durusun wa ‘Ibarun – Tarbiyatun wa Usrorun, Dr. Muhammad bin Ibrahim Al Hamad, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan kedua, tahun 1424 H.

•• Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tahqiq: Syu’aib Al Arnauth dan ‘Abdul Qadr Al Arnauth, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, tahun 1425 H.


🌐 https://muslim.or.id/17566-kajian-ramadhan-11-maksud-ibadah-itikaf.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


 

Share:

Bolehkah Wudhu di Kamar Mandi?

Bolehkah Wudhu di Kamar Mandi?
Bismillah...

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Tidak mengapa berwudhu di dalam kamar mandi apalagi ada hajat ketika itu. 

Ketika itu tetap wajib bismillah di awal wudhu. Karena membaca bismillah di awal wudhu adalah suatu kewajiban menurut sebagian ulama. 

Sebagian lain menganggap hukumnya sunnah muakkad. Jadi tetap membaca bismillah dan tidak dianggap makruh. Karena hukum makruh jadi tiada saat butuh. 

Jadi, setiap muslim tetap diperintahkan membaca bismillah di awal wudhu dan menyempurnakan wudhu setelah itu.

Adapun doa setelah wudhu, hendaklah membacanya setelah keluar dari kamar mandi.

Adapun jika kamar mandi hanyalah tempat untuk berwudhu saja, tidak ada untuk buang air besar maupun air kecil, maka tidak mengapa mengucapkan bismillah kala itu karena tempat tersebut bukan lagi tempat menunaikan hajat". (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah, jilid ke-10)

Dalam fatwa IslamWeb disebutkan, “Memang tidak mengapa berwudhu di kamar mandi karena tidak ada dalil yang melarangnya. 

Namun baiknya tidak berwudhu di kamar mandi karena di dalamnya dimakruhkan untuk berdzikir pada Allah.

Orang yang berwudhu disunnahkan untuk membaca bismillah di awal wudhu. 

Demikian pendapat dari mayoritas ulama. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa membaca bismillah di awal wudhu dihukumi wajib. 

Itulah sebabnya mengapa dikatakan makruh berwudhu di kamar mandi sebagaimana pendapat sebagian ulama menyangkut permasalahan bismillah tadi. 

Untuk meninggalkan hal yang makruh ini, hendaklah berwudhu di luar kamar mandi, tempat khusus untuk wudhu.

Kalau menganggap membaca bismillah di awal wudhu adalah sunnah (bukan wajib), maka tidak masalah meninggalkan membaca bismillah untuk berwudhu di kamar mandi. 

Hanya Allah yang memberi taufik.


Diselesaikan menjelang Ashar di Pesantren Darush Sholihin, 15 Dzulqo’dah 1435 H


Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/LbbpmCmupLTBzKFHG2jkW4

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

KAJIAN RAMADHAN 10 : Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Shalat Tarawih

Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Shalat Tarawih
Bismillah wassholatu wasalamu 'ala rasuulillah...

Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.”

(HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkan hadits ini. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih) 

Ada dua jihad yang mesti kita perjuangkan di bulan Ramadhan. Yang pertama, berpuasa di siang hari. Yang kedua, melaksanakan shalat malam di malam harinya.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah bahwa seorang mukmin melakukan dua jihad di bulan Ramadhan. Jihad pertama adalah jihad pada diri sendiri di siang hari dengan berpuasa. Sedangkan jihad kedua adalah jihad di malam hari dengan shalat malam. Siapa yang melakukan dua jihad dan menunaikan hak-hak berkaitan dengan keduanya, lalu terus bersabar melakukannya, maka ia akan diberi ganjaran di sisi Allah dengan pahala tanpa batas (tak terhingga).” (Lathoiful Ma’arif, hal. 306)

Ka’ab bin Malik berkata, “Setiap yang menjaga amalannya akan dipanggil pada hari kiamat dan akan diberi balasan. Adapun ahli Qur’an dan puasa, mereka akan dibalas dengan pahala tak terhingga.

(Disebutkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3928)

Ahli Al Qur’an itu dapat digapai oleh orang-orang yang menghidupkan shalat malam dengan bacaan Al Qur’an mereka.

Adapun mengenai keutamaan shalat malam di bulan Ramadhan disebutkan dalam hadits-hadits berikut,

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” 

(HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi sebagaimana disebutkan dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6: 39. 

Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat dilakukan karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya.

(Lihat Fathul Bari, 4: 251).

Yang dimaksud “pengampunan dosa” dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Mundzir. Namun An Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa kecil. (Idem) 

Adapun pengampunan dosa di situ didapati jika bulan Ramadhan telah usai yaitu ketika ia menyempurnakan puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih).

(Lathoiful Ma’arif, hal. 365-366).

Dari Abu Dzar, Nabi ﷺ pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau ﷺ bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” 

(HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkan hadits ini. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hal ini sekaligus merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjama’ah dan mengikuti imam hingga selesai. Semakin banyak ayat yang dibaca dalam shalat malam, maka semakin banyak ganjaran yang diperoleh. 

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الغَافِلِيْنَ وَ مَنْ قَامَ بِمِائَة آيَةٍ كُتِبَ مِنَ القَانِتِيْنَ وَ مَنْ قَرَأَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ المقَنْطِرِيْنَ

Barangsiapa yang shalat malam dengan 10 ayat, maka ia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai. Barangsiapa yang shalat malam dengan membaca 100 ayat, maka ia dicatat sebagai orang-orang yang taat. Barangsiapa yang shalat malam dengan 1000 ayat, maka ia dicatat sebagai orang-orang yang diberi pahala yang melimpah.”

(HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya no. 662. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 642)


Demikian penjelasan ringkas mengenai keutamaan shalat malam, semoga kita bisa terus merutinkannya. Hanya Allah yang memberi taufik..


Walhamdulillah, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad.


✒️ Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Msc حغظه الله تعالى 


📚 Referensi :

•• Lathoif Al Ma’arif fii Maa Limawasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, terbitan Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.


🌐 https://muslim.or.id/17538-kajian-ramadhan-10-menghidupkan-malam-ramadhan-dengan-shalat-tarawih.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

KAJIAN RAMADHAN 9 : Bulan Ramadhan adalah Bulan Al Qur’an

Bulan Ramadhan adalah Bulan Al Qur’an
Bismillah wassholatu wasalamu 'ala rasuulillah...

Dalam hadits Ibnu ‘Abbas yang disebutkan sebelumnya, terdapat pelajaran bahwa bulan Ramadhan adalah bulan perhatian penuh pada Al Qur’an. Sehingga seharusnya sebagian besar waktu kita dicurahkan pada perenungan Al Qur’an.

Kita lihat hadits sebelumnya.

Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Nabi ﷺ adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al Qur’an kala itu. Dan Rasul ﷺ adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” 

(HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307).

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa dianjurkan bagi kaum muslimin untuk banyak mengkaji Al Qur’an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk mempelajarinya. Hafalan Al Qur’an pun bisa disetorkan pada orang yang lebih hafal darinya. Dalil tersebut juga menunjukkan dianjurkan banyak melakukan tilawah Al Qur’an di bulan Ramadhan.”

(Lathoiful Ma’arif, hal. 302).

Juga disebutkan dalam hadits bahwa Nabi ﷺ bisa menyetorkan Al-Qur’an pada Jibril di setiap tahunnya sekali dan di tahun diwafatkan, Beliau ﷺ menyetorkannya sebanyak dua kali. Dan yang paling bagus Al Qur’an disetorkan di malam hari karena ketika itu telah lepas dari kesibukan. Begitu pula hati dan lisan semangat untuk merenungkannya. 

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

Sesungguhnya di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” 

(QS. Al Muzammil: 6).

Beberapa dalil lainnya juga menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan khusus untuk Al Qur’an karena Al Qur’an turun ketika itu. 

Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran” 

(QS. Al Baqarah: 185). 

Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Al Qur’an itu diturunkan sekaligus di Lauhul Mahfuzh di Baitul ‘Izzah pada malam Lailatul Qadar.

Yang membenarkan perkataan Ibnu ‘Abbas dalah firman Allah Ta’ala di ayat lainnya,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan

(QS. Al Qadar: 1).

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” 

(QS. Ad Dukhon: 3).

Diantara alasan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur’an yaitu dibuktikan dengan bacaan ayat Al Qur’an yang begitu banyak dibaca di shalat malam bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Nabi ﷺ pernah shalat bersama Hudzaifah di malam Ramadhan, lalu beliau membaca surat Al Baqarah, surat An Nisa’ dan surat Ali ‘Imron. Jika ada ayat yang berisi ancaman neraka, maka beliau berhenti dan meminta perlindungan pada Allah dari neraka.

Begitu pula ‘Umar bin Khattab pernah memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari untuk mengimami shalat tarawih. Dahulu imam shalat tersebut membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Sampai-sampai ada jama’ah yang berpegang pada tongkat karena saking lama berdirinya. Dan shalat pun selesai dikerjakan menjelang fajar. 

Di masa tabi’in yang terjadi, surat Al Baqarah dibaca tuntas dalam 8 raka’at. Jika dibaca dalam 12 raka’at, maka berarti shalatnya tersebut semakin diperingan. Lihat Lathoiful Ma’arif, hal. 303.

Hal-hal di atas yang menunjukkan kekhususan bulan Ramadhan dengan Al Qur’an. Semoga kita dimudahkan untuk mengisi hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan Al Qur’an dan rajin mentadabburi (merenungkannya). Hanya Allah yang memberi taufik.


Walhamdulillah, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad.


✒️ Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Msc حغظه الله تعالى 


📚 Referensi :

•• Lathoif Al Ma’arif fii Maa Limawasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, terbitan Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.


🌐 https://muslim.or.id/17415-kajian-ramadhan-9-bulan-ramadhan-adalah-bulan-al-quran.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Yang Terindah Di Bulan Berkah

Yang Terindah Di Bulan Berkah
Bismillah...

Saudaraku rahimakumullah.. 

Perbanyaklah do'a dan amal ketaatan di bulan Ramadhan, agar menjadi hamba yang terbebas dari api neraka..

Allah ﷻ berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka katakanlah bahwa Aku dekat, Aku mengabulkan do'a hamba apabila ia berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapatkan petunjuk.”

```(Qs Al-Baqorah: 186)```

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ مِنَ النَّارِ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، وَلِكُلِّ مُسْلِمٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka di setiap siang dan malam Ramadhan, dan bagi setiap muslim di setiap malam dan siangnya ada do'a yang pasti dikabulkan.” 

```(HR. Ath-Thobrani dalam Al-Mu’jam Al-Aushat dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 1002)```

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ، دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

Ada tiga do'a yang tidak akan ditolak: Do'a orang tua (untuk anak), do'a orang yang berpuasa dan do'a musafir.” 

```(HR. Al-Baihaqi dari Anas radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1797)```


وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


✒️Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc حفظه الله تعالى


🌐 https://www.instagram.com/p/CN0xbzehiP2/

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Bekal Ramadhan #9: Kebiasaan Ulama Ketika Ramadhan

Kebiasaan Ulama Ketika Ramadhan
Bismillah...

Diantara cara terbaik memaksimalkan keberkahan di bulan Ramadhan tersebut adalah dengan memperbanyak membaca Al Quran dan mentadaburinya, begitulah cara yang telah dipraktekkan oleh para pendahulu kita dari kalangan salaf shaleh dalam memaksimalkan keberkahan Ramadhan.

Ibnu Rajab berkata, “Didalam hadits Fathimah radhiyallahu ‘anha dari bapaknya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengatakan,

أنّ جبريل عليه السلام كان يعارضه القرآن كل عام مرةً وأنّه عارضه في عام وفاته مرتين

Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam biasanya menyetorkan Al-Qur’an dengan Rasulullah sekali dalam setiap tahun. Akan tetapi, ia menyetorkan Al-Qur’an dua kali di tahun wafatnya Rasulullah.’ (Muttafaqun ‘alaih). Didalam hadits Ibnu ‘Abbas,

أنّ المدارسة بينه وبين جبريل كانت ليلاً

Sesungguhnya setoran Nabi dan Jibril dilakukan pada malam hari.’ (Muttafaqun ‘alaih).

Hadits tersebut menunjukkan dianjurkannya memperbanyak tilawah Al-Qur’an di malam bulan Ramadhan. Karena pada dalam hari terhentilah semua kesibukan, terkumpullah semangat, dan dan bersatulah hati dan lisan dalam mentadabburi Al-Qur’an sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

Sesungguhnya bangun di waktu malam itu lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.’ (QS. Al-Muzzammil: 6).

Syeikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

وكان بعض أهل العلم في رمضان وهو في وقت تلاوة القرآن يجعل معه دفترًا خاصًا ، كلما قرأ شيئًا واستوقفته آية من كتاب الله فيها معانٍ كثيرة أو ما أشبه ذلك قيَّدها بالدفتر ، فلا يخرج رمضان إلا وقد حصل خيرًا كثيرًا من معاني القرآن الكريم .

Diantara kebiasaan para ahli ilmu ketika memasuki bulan Ramadhan yautu saat membaca Al Quran maka mereka akan membawa buku khusus, dan setiap membaca dan berhenti pada suatu ayat maka mereka dapati makan-makna (agung dalam ayat tersebut) yang kemudian mereka tulis dalam buku tersebut. dan tidaklah Ramadhan pergi melainkan mereka telah mendapatkan banyak makna agung yang terkandung dalam Al Quran.

Beliau menajutkan,

ولقد رأيتُ كُتيبًا صغيرًا للشيخ عبدالرحمن السعدي

Dan sungguh aku telah melihat buku kecil milik Syeikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah

يقول إنه كتبه في رمضان وهو يقرأ القرآن ، تمر به آية فيقف عندها، ويتدبرها ، ويكتب عليها فوائد لا تجدها في أي تفسير

Ia (syeikh Abdurrahman As Sa’di) berkata bahwa ia menulisnya saat dia membaca Al Quran di bulan ramadhan jika berlalu suatu ayat maka dia berhenti kemudian mentadaburinya dan menuliskan faidah-faidah yang tidak ditemukan dalam kitab tafsir manapun.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah beliau berkata:

من تدبر القرآن طالبًا للهُدى منه تبين له طريق الحق

Barangsiapa yang mentadaburi Al Quran dengan niat untuk mendapatkan petunjuk maka akan dinampakkan baginya jalan kebenaran.”

Syeikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin rahimahullah berkata :

Jika engkau ingin mendapatkan petunjuk maka tadaburrilah Al Quran, jangan kau membacanya dengan cepat dan tergesa-gesa. Dewasa ini banyak orang yang membaca Al Quran hanya sekedar membaca saja atau sekedar mencari berkah bacaan tersebut, namun mereka tidak membaca dengan niat untuk mentadaburinya, oleh karena itu mereka terhalang dari faidah ilmu yang amat banyak, padahal Al Quran adalah “harta simpanan” nan agung yang Allah turunkan kepada hamba-hamba-Nya.”


Baca juga : https://rumaysho.com/11162-kisah-menakjubkan-para-ulama-mengkhatamkan-al-quran-dalam-sehari.html


https://hamalatulquran.com/kebiasaan-ulama-ketika-ramadhan/

•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

Referensi :

Syarh Al Kafiyah Asy Syafiyah 1/503

•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

Ditulis oleh : Muhammad Fatwa Hamidan

(Alumni PP. Hamalatul Quran dan Mahasiswa Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Madinah)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

KAJIAN RAMADHAN 8 : Bertambah Semangat untuk Sedekah di Bulan Ramadhan

Bertambah Semangat untuk Sedekah di Bulan Ramadhan
Bismillah wassholatu wasalamu 'ala rasuulillah...

Suri teladan kita, Nabi Muhammad ﷺ mencontohkan kepada kita untuk banyak bersedekah dan berderma pada orang lain di bulan Ramadhan. Bahkan ada berbagai faedah jika seseorang bertambah semangat bersedekah ketika berpuasa di bulan penuh berkah tersebut..

Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Nabi ﷺ adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al Qur’an kala itu. Dan Rasul ﷺ adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” 

(HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” 

(Lathoiful Ma’arif, hal. 291). 

Jadi maksud hadits adalah Rasulullah ﷺ rajin memberi sedekah pada orang lain ketika bulan Ramadhan.

Ibnu Rajab juga menyebutkan, “Nabi ﷺ adalah yang punya sifat paling rajin berderma daripada yang lainnya. Begitu pula beliau punya sifat kemuliaan, lebih berilmu, lebih pemberani, dan lebih sempurna dalam sifat-sifat mulia. Sedangkan kedermawanan beliau mencakup seluruh kedermawanan baik dalam ilmu maupun harta.” 

(Lathoiful Ma’arif, hal. 293).

Rasulullah ﷺ lebih bersemangat lagi dalam memberi di bulan Ramadhan daripada bulan-bulan lainya, sebagaimana kata Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’arif, hal. 295.

Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari berlipat gandanya semangat Rasul ﷺ di bulan Ramadhan daripada bulan lainnya :

1. Hal itu menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahala berlipat ganda pada bulan tersebut.

2. Rajin berderma pada bulan Ramadhan berarti membantu orang yang berpuasa, orang yang melakukan shalat malam dan orang yang berdzikir supaya mereka mudah dalam beramal. 

3. Orang yang membantu di sini akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka yang beramal. Seperti Nabi ﷺ menyebutkan keutamaan orang yang memberi makan buka puasa, 

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.

(HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

4. Di bulan Ramadhan, Allah juga berderma dengan memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, lebih-lebih lagi di malam Lailatul Qadar.

5. Menggabungkan antara puasa dan sedekah adalah sebab seseorang dimudahkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, 

عَنْ عَلِىٍّ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »

Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 

Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” 

Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” 

Beliau ﷺ bersabda, 

Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur 

(HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1: 155. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Kata Ibnu Rajab Al Hambali, "Sifat-sifat yang disebutkan di atas semuanya terdapat pada orang yang berpuasa. Karena orang yang berpuasa mengerjakan puasa itu sendiri, melakukan shalat malam dan berkata yang baik di mana ketika berpuasa dilarang berkata kotor dan sia-sia."

(Lihat Lathoiful Ma’arif, hal. 298)

6. Menggabungkan antara sedekah dan puasa adalah sebab kemudahan meraih ampunan dari dosa dan selamat dari siksa neraka. Lebih-lebih jika kedua amalan tersebut ditambah dengan amalan shalat malam. Disebutkan bahwa puasa adalah tameng (pelindung) dari siksa neraka, 

الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ

Puasa adalah pelindung dari neraka seperti tameng salah seorang dari kalian ketika ingin berlindung dari pembunuhan.

(HR. Ibnu Majah no. 1639 dan An Nasai no. 2232. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Mengenai sedekah dan shalat malam disebutkan dalam hadits,

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan dengan air, begitu pula shalat seseorang di pertengahan malam.”

(HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

7. Dalam puasa pasti ada cacat dan kekurangan, sedekah itulah yang menutupi kekurangan tersebut. Oleh karenanya di akhir Ramadhan, kaum muslimin disyari’atkan menunaikan zakat fithri. Tujuannya adalah mensucikan orang yang berpuasa. 

Disebutkan dalam hadits, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, 

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga untuk memberi makan kepada orang miskin.” 

(HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa Sanad hadits ini hasan)

8. Disyari’atkan banyak berderma ketika puasa, seperti saat memberi makan buka puasa adalah supaya orang kaya dapat merasakan orang yang biasa menderita lapar sehingga mereka pun dapat membantu orang yang sedang kelaparan. 

Oleh karenanya sebagian salaf ditanya, “Kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa?” 

Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar. Karenanya jangan sampai melupakan menolong mereka yang sedang kelaparan.”

(Lathoiful Ma’arif, hal. 300).

Demikian faedah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab yang mendorong kita supaya rajin membantu, memberi dan berderma di bulan Ramadhan. Sehingga itulah mengapa bulan Ramadhan disebut bulan muwasaah, yaitu bulan banyak berderma.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mengedepankan orang lain dari diri sendiri), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” 

(Lathoiful Ma’arif, hal. 300).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat suka jika ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena mencontohi Rasulullah ﷺ, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan kala itu di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka.”

(Lathoiful Ma’arif, hal. 301).


Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan di bulan Ramadhan.


Walhamdulillah, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad.


✒️ Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Msc حغظه الله تعالى 


📚 Referensi :

•• Lathoif Al Ma’arif fii Maa Limawasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, terbitan Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.


🌐 https://muslim.or.id/17356-kajian-ramadhan-8-bertambah-semangat-untuk-sedekah-di-bulan-ramadhan.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Memohon Ampun Kepada Allah, Perbanyak Istighfar

Memohon Ampun Kepada Allah, Perbanyak Istighfar
Bismillah...

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui".

[QS. Ali Imran: 135]

 مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

"Siapa yang senantiasa kontinyu beristighfar maka Allah jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitannya, kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka".

(HR. Abu Dawud no.1297, Ibnu Majah no. 3809)

مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ

Tidaklah aku berada di pagi hari kecuali aku beristigfar kepada Allah sebanyak 100 kali”.

(HR. Ibnu Abi Syaibah, Syaikh Al-Albani menyatakan Shahih di Silsilah Al-Shahihah, no. 1600)

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, 

"Sungguh, aku beristighfar dan bertobat kepada Allah 'Azza wa Jalla seratus kali dalam sehari."

(HR. Imam Ahmad no. 9431 , shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth)

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ كَثِيرِ بْنِ دِينَارٍ الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عِرْقٍ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بُسْرٍ يَقُولُ

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Utsman bin Sa'id bin Katsir bin Dinar Al Himshi, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman bin 'Irq, ia berkata, Aku mendengar Abdullah bin Busr berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, 

"Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan di dalam catatan amalnya istighfar yang banyak."

(HR. Imam Ibnu Majah no. 3808 , shahih menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Apakah Benar Buka Puasa Bersama Di Masjid Itu Bid'ah?

Apakah Benar Buka Puasa Bersama Di Masjid Itu Bid'ah?
Bismillah...

Jika ada masjid mengumumkan ajakan untuk buka puasa bersama-sama di masjid, maka hal ini bukan perkara bid'ah. 

Abu as-Sawwar al-Adawiy radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi dari Bani ‘Adi, beliau mengatakan:

كان رجالٌ مِن بني عدي يصلُّون في هذا المسجد، ما أفطر أحدٌ منهم على طعامٍ قطُّ وحده، إن وجد مَن يأكل معه أكل، وإلَّا أخرج طعامه إلى المسجد، فأكله مع النَّاس، وأكل النَّاس معه

Dahulu para lelaki dari Bani ‘Adi biasa shalat di Masjid ini. Dan tidak ada diantara mereka yang berbuka puasa sendirian sama sekali. Jika mereka dapati ada orang di Masjid, ia akan berbuka puasa bersamanya. Namun jika tidak ada orang di Masjid, ia akan keluar dari Masjid membawa makanan buka puasanya, lalu memakannya bersama orang-orang di luar Masjid. Dan orang-orang pun makan bersamanya” (Al-Karam wal Juud, karya Al-Barjalani hal. 53).

✅️ Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya, 

أعلن في أحد المساجد أنه يوجد إفطار لكل من يريد الصيام في كل يوم خميس فما حكم ذلك ؟

"Diumumkan dalam salah satu masjid bahwa di masjid tersebut disedikan makanan berbuka puasa bagi siapa yang ingin berpuasa pada setiap hari Kamis. Apa hukum hal tersebut?"

Beliau menjawab, 

هذا الإعلان لا بأس به ؛ لأنه إعلان فيه دعوة للخير وليس المقصود به بيعا ولا شراءً ، المحرم أن يعلن عن البيع وشراء أو تأجير واستئجار ، مما لم تبن المساجد من أجله وأما الدعوة إلى الخير وإطعام الطعام والصدقة فلا بأس به .

وأمّا بالنسبة لكونه هل هو اجتماع غير مشروع على العبادة ، فإنهم في الحقيقة لم يعلنوا عن الصيام الجماعي ، وإنما أعلنوا عن الإفطار فقط فلا بأس به ، والله أعلم " انتهى .

"Pengumuman seperti itu, tidak mengapa. Karena dia merupakan pengumuman ajakan kepada kebaikan, bukan bertujuan jual beli, yang diharamkan mengumumkan jual beli dan sewa menyewa. Karena masjid tidak dibangun untuk tujuan seperti itu. Adapun ajakan pada kebaikan dan memberi makan dan sadaqah, tidak mengapa.

*Memberi makan buka puasa akan mendapatkan pahala dari orang yang berpuasa*

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192)

Adapun terkait apakah hal tersebut termasuk perkumpulan yang tidak disyariatkan atas sebuah ibadah tertentu, pada hakekatnya mereka tidak mengumumkan puasa berjamaah, akan tetapi hanya mengumumkan buka puasa saja, maka tidak mengapa dengan hal itu. Wallahu a'lam.

Sumber : https://islamqa.info/id/answers/3468/pengumuman-buka-puasa-bersama-di-masjid-bagi-yang-berpuasa

Buka puasa bersama di masjid atau ditempat lain bukan perkara bid'ah selama tidak meyakininya sebagai sebuah ibadah.

✅️ Syaikh Shalih bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah ditanya tentang buka puasa bersama, beliau menjawab, 

هذا محدث، هذا محدث، الإفطار الجماعي، والصيام الجماعي، وقيام الليل الجماعي كما يفعله بعض الشُّباب هذا كلّه مُحْدَث، لا أصل له. فكلٌّ يُفطر في مكانه، وفي بيته إلا إذا كان واحد يبذل فطور للَّصائمين، تحضر وتُفطِر معهم، مِن مُحسنٍ من المحسنين يعمل افطار؛ فهذا لا بأس. أمَّا أنَّكم تتعمَّدون الجماعي تعمُّدًا؛ فهذا لا أصل له. اهـ

"Ini perkara yang diada adakan, buka berjamaah (bersama), puasa bersama, shalat malam bersama, sebagaimana yang dilakukan sebagian anak remaja ini semua adalah perkara yang di ada adakan, tidak ada asal usulnya, maka hendaklah semua berbuka puasa di tempatnya masing masing, dirumahnya, kecuali kalau ada seseorang yang menyumbang buka puasa untuk orang yang berpuasa, hadir dan makan bersama mereka dari salah satu muhsinin menyediakan makanan buka puasa maka hal ini baik, adapun bersengaja sekedar berjamaah maka hal ini tidak ada asal usulnya". 

Sumber : https://rsalafs.com/?p=1990

https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/7548

https://www.youtube.com/watch?v=LjNyHyYxv2Y

✅️ Al Lajnah Ad Daimah ditanya, 

سمعت من بعض الإخوة أن الإفطار الجماعي – أكان ذلك في شهر رمضان أو في صيام النافلة – بدعة. فهل هذا صحيح؟

Saya mendengar dari sebagian ikhwah bahwa acara buka bersama baik di bulan ramadhan atau pada puasa sunnah adalah perkara bid’ah. Apakah ini benar? 

Mereka menjawab, 

لا بأس بالإفطار جماعيًا في رمضان وفي غيره، ما لم يعتقد هذا الاجتماع عبادة؛ لقوله تعالى: ﴿لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا﴾ [النور: 61] ، لكن إن خيف بالإفطار جماعيًا في النافلة الرياء والسمعة؛ لتميز الصائمين عن غيرهم كره لهم بذلك.

Tidak mengapa untuk berbuka bersama baik pada bulan ramadhan atau selainnya, selama tidak meyakininya sebagai sebuah ibadah.

Sebagaimana firman Allah: “Tidak ada dosa bagi kalian untuk makan bersama-sama ataupun secara terpisah.”

Akan tetapi, untuk puasa sunnah, jika dikhawatirkan timbulnya riya dan sum’ah yang membedakan antara orang-orang yang berpuasa dan tidak dengan adanya buka bersama tersebut, maka ini dimakruhkan

Sumber : https://al-maktaba.org/book/21772/5831 

Intinya kalau buka puasa bersama dengan tujuan agar memperat persaudaraan, tercipta saling menyayangi dan mencintai di antara yang hadir, maka ini diperbolehkan. Dan tidak ada ikhtilath campur baur laki-laki dan perempuan dan tentunya ada muhsinin yang memberikan buka puasa. 

✅️ Berkata Syekh Muhammad Sholeh Al Munajed rahimahullah, 

إذا كان القصد بالاجتماع على الإفطار ، إشاعة الألفة والمحبة بين المجتمعين ، خاصة إذا كانوا ذوي رحم ، أو كانوا مغتربين ، ويشجع ذلك على تواصلهم وتراحمهم ، وزيادة الترابط بين الأسر المسلمة وأبنائها ، أو كان في ذلك إعانة على إطعام الطعام ، وتفطير الصائمين ، أو نحو ذلك من المقاصد الصحيحة : فلا بأس به ، بل هو أمر محمود ، يرغب فيه ، بحسب المقصد منه ، على ألا يعتقد أن ذلك سنة من حيث الأصل ، أو يتخذ المجتمعون لهم عيدا غير الأعياد الشرعية ، فيجتمعون في يوم معين ، أو بوصف معين يظنون أن له فضيلة خاصة في الشرع .

"Jika tujuannya adalah berkumpul untuk berbuka puasa, agar tercipta saling menyayangi dan mencintai diantara yang hadir, khususnya jika mereka adalah kerabat, atau mereka sesama perantau di negeri orang dan dengan acara itu akan memotivasi untuk saling berkomunikasi dan bersilaturrahim, menguatkan hubungan antar keluarga, atau jika hal tersebut ditujukan untuk memberi makan berbuka bagi orang-orang yang berpuasa, atau tujuan-tujuan lain yang serupa dan memiliki tujuan yang baik, maka semua itu tidak mengapa dan merupakan perkara terpuji serta dianjurkan sesuai tujuannya. Hanya, hal tersebut jangan diyakini sebagai sebuah sunah secara dasar, atau orang-orang yang berkumpul tersebut menjadikannya sebagai Id mereka selain Id yang telah disyariatkan,yaitu dengan menetapkan hari tertentu, atau dengan cara tertentu dan mengira bahwa hal tersebut memiliki keutamaan khusus dalam syariat". 

Sumber Al Islam Sual Wa Jawab No 146296.

✅️ Syekh DR. Masyhur Fawwaz hafizhahullah ditanya, 

ما حكم الإفطار الجماعي؟ 

Apa hukum buka puasa bersama? 

Beliau menjawab, 

يجوز الإفطار  الجماعي بشرط عدم الإختلاط بين الرّجال والنساء الأجنبيات - غير المحارم - فإن كان هنالك اختلاط بين الرّجال والنساء فيحرم المشاركة في مثل هذه الإفطارات .والله تعالى اعلم

"Boleh buka puasa bersama dengan syarat tidak ada ikhtilath antara laki-laki dan perempuan asing - yang bukan mahram. Jika disana ada ikhtilath antara laki-laki dan perempuan, maka haram hukumnya berkumpul, dalam buka puasa seperti ini". 

Sumber : http://www.fatawah.net/Questions/13461.aspx 


https://www.facebook.com/903924823277358/posts/pfbid02qvjGFB7aEvGJZYSWvaU7t9yRTJ48cbumfb1a9eTxkUiAoLYKq5VsqPRMmCxVZR6Hl/


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

KAJIAN RAMADHAN 7 : Dua Tingkatan Orang yang Berpuasa

KAJIAN RAMADHAN 7 : Dua Tingkatan Orang yang Berpuasa
Bismillah wassholatu wasalamu 'ala rasuulillah...

Ada dua tingkatan orang yang berpuasa sebagaimana kesimpulan para ulama dari berbagai dalil.

Tingkatan Pertama:

Orang yang melakukan puasa yang diperintahkan di bulan Ramadhan dan puasa sunnah dengan menjauhi larangan saat puasa yaitu makan, minum, hubungan intim dan menghindarkan diri dari berbagai perkara yang diharamkan juga meninggalkan berbagai maksiat. Puasa tingkatan pertama ini akan mendapatkan karunia dan pahala yang besar.

Nabi ﷺ pernah mengatakan pada seseorang,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً اتِّقَاءَ اللَّهِ جَلَّ وَعَزَّ إِلاَّ أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْراً مِنْهُ

Jika engkau menjaga diri dari sesuatu karena Allah, maka tentu Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” 

(HR. Ahmad 5: 78. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Karena orang yang berpuasa meninggalkan makan, minum, dan hubungan intim karena Allah, maka Allah akan menganti dengan kenikmatan di surga seperti disebut dalam ayat,

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

(kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” 

(QS. Al Haqqah: 24)

Mujahid mengatakan bahwa, "Ayat ini turun kepada orang-orang yang berpuasa."

(Lihat Lathoiful Ma’arif, hal. 21)

Juga terkhusus bagi orang yang berpuasa disediakan pintu Ar Rayyan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang muttafaqun ‘alaih, dari Sahl bin Sa’ad, Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مَعَهُمْ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَدْخُلُونَ مِنْهُ فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Sesungguhnya di surga terdapat pintu yang disebut “Ar Rayyan”. Di dalamnya masuklah orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat. Tidak ada orang lain yang memasuki pintu tersebut bersama mereka. Nanti akan dipanggil, “Di mana orang yang berpuasa?” Lalu mereka memasuki pintu tersebut. Jika orang terakhir telah memasukinya, pintu tersebut tertutup dan tidak satu pun  yang bisa memasukinya lagi.” 

(Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).

Tingkatan Kedua:

Berpuasa atau menahan diri dari berbagai hal yang Allah haramkan baik di bulan Ramadhan, juga bulan-bulan lainnya. Jadi berpuasanya bukan di bulan Ramadhan saja, tetapi setiap waktu. Ia terus konsisten dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ia pun tidak melampaui batasan Allah. Tingkatan kedua ini tentu lebih tinggi daripada tingkatan pertama.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Siapa yang berpuasa menahan syahwatnya di dunia, ia akan dapati kenikmatan tersebut di jannah (surga). Siapa yang meninggalkan ketergantungan pada selain Allah, maka ia akan menantikan balasannya ketika berjumpa dengan-Nya."

مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآَتٍ

Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang.” (QS. Al ‘Ankabut: 5)

(Lathoiful Ma’arif, hal. 285)

Penjelasan di atas diringkas dari pembahasan Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’arif dan penjelasan dari Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dari kitab Wazhoif Ramadhan karya ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim.

Ya Allah, berilah kami kemudahan untuk memasuki pintu surga Ar Rayyan dan mendapatkan kenikmatan lainnya di surga. Wallahu waliyyut taufiq.


Walhamdulillah, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad.


✒️ Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Msc حغظه الله تعالى 


📚 Referensi :

•• Lathoif Al Ma’arif fii Maa Limawasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, terbitan Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.

•• Syarh Samahatusy Syaikh Al ‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz ‘ala Kitab Wazhoif Ramadhan (kitab ringkasan dari Lathoiful Ma’arif Ibnu Rajab dan tambahan dari ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim, terbitan Muassasah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, cetakan pertama, tahun 1432 H.


🌐 https://muslim.or.id/17352-kajian-ramadhan-7-dua-tingkatan-orang-yang-berpuasa.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts