Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah

Mari Mendoakan Kebaikan bagi Para Pemimpin Kita

Mari Mendoakan Kebaikan bagi Para Pemimpin Kita
Bismillah...

Akhir-akhir ini, banyak kita jumpai saudara-saudara kita kaum muslimin yang tanpa sadar banyak menghujat dan mendoakan jelek para pemimpin di negeri ini. 

Ketika mereka melihat (menganggap) pemimpin atau pemerintah melakukan kesalahan atau kekeliruan (menurut prasangka mereka), begitu mudahnya kata-kata celaan, hujatan, bahkan doa jelek pun keluar dari ucapan mereka. 

Padahal sebagai seorang muslim, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bagaimanakah sikap yang benar sebagai rakyat kepada para pemimpin dan pemerintah. 

Melalui tulisan singkat dan sederhana ini, kami bermaksud untuk mengingatkan diri kami sendiri dan juga saudara-saudara kami kaum muslimin untuk senantiasa mendoakan kebaikan bagi mereka, bukan menghujat dan mendoakan kejelekan bagi mereka.

⬛️⬛️ Ketaatan pada Pemimpin, Salah Satu Prinsip Penting Aqidah Ahlus Sunnah

Ketika menjelaskan prinsip-prinsip pokok aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah (wafat tahun 321H) berkata dalam kitab beliau, Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah,

وَلَا نَرَى الْخُرُوجَ عَلَى أَئِمَّتِنَا وَوُلَاةِ أُمُورِنَا

Dan kami (ahlus sunnah) tidak berpendapat (bolehnya) keluar (memberontak) dari pemimpin dan penguasa kami (yaitu kaum muslimin, pen.)”.

Ini adalah salah satu prinsip aqidah ahlus sunnah, yaitu tidak boleh keluar (memberontak) dari penguasa dan pemerintah kaum muslimin. 

Allah Ta’ala berfirman,

Darulhaq Tengah Artikel

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri diantara kamu.” (QS. An-Nisa [4]: 59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي

Dan barangsiapa yang menaati pemimpin, maka sungguh dia telah menaatiku. Dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin, maka dia telah durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari no. 2957 dan Muslim no. 1835)

Oleh karena itu, tidak boleh durhaka (memberontak) kepada mereka, meskipun mereka adalah pemimpin yang jahat atau zalim sekalipun.

⬛️⬛️ Bersabar, Itu yang Utama 

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah melanjutkan prinsip aqidah ahlus sunnah berikutnya,

وإن جاروا

Meskipun mereka (pemimpin) itu (berbuat) zalim.”

Maksudnya, meskipun pemimpin itu zalim dan melampaui batas, misalnya dengan mengambil harta atau membunuh kaum muslimin, maka ahlus sunnah tidaklah berpendapat bolehnya keluar dari ketaatan kepada mereka. 

Hal ini berdasarkan perintah tegas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu,

تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

Engkau mendengar dan Engkau menaati pemimpinmu. Meskipun hartamu diambil dan punggungmu dipukul. Dengarlah dan taatilah (pemimpinmu)” (HR. Muslim no. 1847).

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersabar, bukan memberontak mengangkat senjata atau melakukan demonstrasi. 

Karena dengan memberontak dan demonstrasi, akan menimbulkan (lebih) banyak kerusakan. Inilah aqidah ahlus sunnah, yaitu senantiasa menimbang dengan mengambil bahaya yang lebih ringan dibandingkan dua bahaya yang ada.

⬛️⬛️ Janganlah Mendokan Mereka dengan Kejelekan. 

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah melanjutkan lagi prinsip-prinsip aqidah ahlus sunnah,

ولا ندعوا عَلَيْهِمْ

Dan tidak mendoakan kejelekan bagi mereka (pemimpin atau pemerintah).

Maka jelaslah bahwa aqidah ahlus sunnah menyatakan, tidak boleh mendoakan kejelekan bagi pemimpin atau pemerintah, tidak boleh menghujatnya, menjelek-jelekkannya di muka umum, dan sebagainya. 

Karena pada hakikatnya, hal ini sama halnya dengan durhaka dan memberontak secara fisik. Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah mengatakan,

Tidak boleh mendoakan kejelekan bagi pemimpin. Karena ini adalah pemberontakan secara abstrak, semisal dengan memberontak kepada mereka dengan menggunakan senjata (pemberontakan secara fisik, pen.). 

Yang mendorongnya untuk mendoakan jelek bagi penguasa adalah karena dia tidak mengakui (menerima) kekuasaannya. Maka kewajiban kita (rakyat) adalah mendoakan pemimpin dalam kebaikan dan agar mereka mendapatkan petunjuk, bukan mendoakan jelek mereka. 

Maka ini adalah salah satu prinsip di antara prinsip-prinsip aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. 

Jika Engkau melihat seseorang yang mendoakan jelek untuk pemimpin, maka ketahuilah bahwa aqidahnya telah rusak, dan dia tidak di atas manhaj salaf. Sebagian orang menganggap hal ini sebagai bagian dari rasa marah dan kecemburuan karena Allah Ta’ala, akan tetapi hal ini adalah rasa marah dan cemburu yang tidak pada tempatnya. 

Karena jika mereka lengser, maka akan timbul kerusakan (yang lebih besar, pen.).” (At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, hal. 171)

Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

لو أني أعلم أن لي دعوة مستجابة لصرفتها للسلطان

Seandainya aku tahu bahwa aku memiliki doa yang mustajab (yang dikabulkan), maka aku akan gunakan untuk mendoakan penguasa.”

Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata,

Maka orang-orang yang mendoakan jelek pemimpin kaum muslimin, maka dia tidaklah berada di atas madzhab ahlus sunnah wal jama’ah. 

Demikian pula, orang-orang yang tidak mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya, maka ini adalah tanda bahwa mereka telah menyimpang dari aqidah ahlus sunnah wal jama’ah.” (At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, hal. 172).

Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah juga berkata,

Maka kesemburuan bukanlah dengan mendoakan kejelekan atas pemerintah, meskipun Engkau menghendaki kebaikan. 

Maka doakanlah bagi mereka agar mendapatkan kebaikan. Allah Ta’ala Maha Kuasa untuk memberikan hidayah kepada mereka dan mengembalikan mereka kepada jalan yang benar. 

Maka Engkau, apakah Engkau berputus asa dari (turunnya) hidayah untuk mereka? Ini adalah berputus asa dari rahmat Allah.” (At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, hal. 173).

⬛️⬛️ Selain Berdoa, Apalagi yang Harus Kita Lakukan (sebagai Rakyat)?

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata ketika memberikan komentar terhadap kitab Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah,

وفي هذا بيان لطريق الخلاص من ظلم الحكام الذين هم ” من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا ” وهو أن يتوب المسلمون إلى ربهم ويصححوا عقيدتهم ويربوا أنفسهم وأهليهم على الإسلام الصحيح تحقيقا لقوله تعالى: (إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم) [الرعد: 11] وإلى ذلك أشار أحد الدعاة المعاصرين (اا) بقوله: ” أقيموا دولة الإسلام في قلوبكم تقم لكم على أرضكم “. وليس طريق الخلاص ما يتوهم بعض الناس وهو الثورة بالسلاح على الحكام. بواسطة الانقلابات العسكرية فإنها مع كونها من بدع العصر الحاضر فهي مخالفة لنصوص الشريعة التي منها الأمر بتغيير ما بالأنفس وكذلك فلا بد من إصلاح القاعدة لتأسيس البناء عليها (ولينصرن الله من ينصره إن الله لقوي عزيز) [الحج: 40]

Maka poin ini merupakan penjelasan (tentang) jalan keluar dari kedzaliman penguasa, yang mereka itu pada hakikatnya adalah berasal dari kulit-kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita (maksudnya, pemimpin itu pada hakikatnya berasal dari rakyat, pen.), yaitu hendaknya kaum muslimin bertaubat kepada Allah dan memperbaiki aqidahnya, dan mendidik dirinya sendiri dan keluarganya di atas agama Islam yang shahih. 

Hal ini untuk mewujudkan firman Allah Ta’ala yang artinya,”Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah suatu kaum, sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 11)

Atas dasar ini, salah seorang juru dakwah di zaman ini mengisyaratkan dalam sebuah perkataannya,”Tegakkanlah negara (daulah) Islam dalam diri (dada) kalian, niscaya akan tegak (daulah Islam) di negeri kalian.” 

Dan bukanlah jalan untuk keluar dari kedzaliman penguasa adalah memberontak kepada penguasa, dengan jalan kudeta (militer). 

Maka hal ini disamping bid’ah pada zaman ini, juga merupakan tindakan yang menyelisihi dalil-dalil syari’at, yang di antaranya memerintahkan untuk memperbaiki (mengubah) diri sendiri (terlebih dahulu). 

Demikian pula, wajib untuk memperbaiki pondasi kaidah agar kuatlah bangunan diatasnya. (Allah Ta’ala berfirman yang artinya),”

"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa.” (QS. Al-Hajj [22]: 40)” (Takhrij Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, hal. 69)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada pemimpin dan pemerintah kaum muslimin.


***

🟥 Referensi:

At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah ‘ala Matni Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, cetakan pertama, Daarul ‘Ashimah, tahun 1422.

Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, Abu Ja’far Ath-Thahawi, syarh wa ta’liq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, cetakan ke dua, Al-Maktab Al-Islami, tahun 1414 (Maktabah Asy-Syamilah)

Selesai disusun di malam hari, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 28 Rabiul Akhir 1436

Yang selalu mengharap ampunan Rabb-nya,


Penulis: M. Saifudin Hakim


▶️ Sumber: https://muslim.or.id/24654-mari-mendoakan-kebaikan-bagi-para-pemimpin-kita.html

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> https://chat.whatsapp.com/JnqiVOnUo7ZD2BE0YULzLL

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Rukun-rukun, Kewajiban dan Sunnah-sunnah Shalat

Rukun-rukun, Kewajiban dan Sunnah-sunnah Shalat
Bismillah...

Rekaman Kajian Islamadina, Kajian Kitab Sifat Wudhu dan Shalat Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassalaam 


Sebagian Rukun Shalat

- Takbiratul ihram

- Berdiri bila mampu

- Rukuk dengan thuma’ninah

- I’tidal sampai tegak seperti sedia kala

- Sujud dengan thuma’ninah diatas tujuh anggota badan

(Wajah dan dahi serta hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, kedua ujung kaki)

- Duduk diantara dua sujud sambil berdoa, dengan thuma’ninah

- Duduk Tasyahud (duduk tahiyat)

- Membaca shalawat pada tasyahud akhir

- Ucapan Salam. 


Sebagian Kewajiban Shalat

(meninggalkannya akan membatalkan shalat)

- Adanya sutrah

- Takbiratul intiqal (takbir perpindahan)

- Duduk tasyahud awal


Sebagian Sunnah Sunnah Perbuatan Dalam Shalat

- Mengangkat tangan saat takbiratul ihram 

- Meletakkan tangan didada. 

- Melihat kepada tempat sujud

- Saat Rukuk tangan harus menggenggam da menekan rukuk

- Turun sujud dengan tangan dahulu dibanding lutut

- Meletakkan kedua tangan dan kaki ke arah kiblat

- Meletakkan kedua tangan sejajar dengan pundak dan telinganya

- Meletakkan kedua telapak tangan dan siku. 

- Merenggangkan kedua tangan saat sujud

- Menghadapkan tumit ke arah kiblat


Oleh Ustadz Salim Qibas


Simak Kajian lengkapnya - serta tanya jawab di link berikut:

▶️ Click https://youtu.be/CXz1i8tVVBg?si=rTmPheR2tCgFeZES


Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA. Click https://chat.whatsapp.com/JnqiVOnUo7ZD2BE0YULzLL

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Yahudi BUKAN Israel

Yahudi BUKAN Israel
Bismillah...

Sungguh sangat memprihatinkan, banyak diantara kaum muslimin sering tidak sadar dan lepas kontrol ketika berbicara. 

Tidak hanya terjadi pada orang awam, bisa kita katakan juga terjadi pada sebagian besar pelajar atau bahkan mereka yang merasa memiliki banyak tsaqafah islamiyah. 

Sahabat muslim, yahudi bukan israel, inilah penamaan yang tepat sesuai dengan yang Allah berikan.

Barangkali mereka lupa atau mungkin tidak tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, diucapkan tanpa kontrol akan tetapi menjerumuskan dia ke neraka. (HR. Al Bukhari 6478)

Al Hafidz Ibn Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadis ini, yang dimaksud diucapkan tanpa kontrol adalah tidak direnungkan bahayanya, tidak dipikirkan akibatnya, dan tidak diperkirakan dampak yang ditimbulkan.

Hal ini semisal dengan firman Allah ketika menyebutkan tentang tuduhan terhadap Aisyah:

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْد اللَّه عَظِيم

Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah.” (QS. An-Nur: 15)

Oleh karena itu, pada artikel ini -dengan memohon pertolongan kepada Allah- penulis ingin mengingatkan satu hal terkait dengan ayat dan hadis diatas, yaitu sebuah ungkapan penamaan yang begitu mendarah daging di kalangan kaum muslimin, sekali lagi tidak hanya terjadi pada orang awam namun juga terjadi pada mereka yang mengaku paham terhadap tsaqafah islamiyah. 

Ungkapan yang kami maksud adalah penamaan YAHUDI dengan ISRAEL

Tulisan ini banyak kami turunkan dari sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidzhahullah yang berjudul “Penamaan Negeri Yahudi yang Terkutuk dengan Israel”.

Tidak diragukan bahkan seolah telah menjadi kesepakatan dunia termasuk kaum muslimin bahwa negeri yahudi terlaknat yang menjajah Palestina bernama Israel. 

Bahkan mereka yang mengaku sangat membenci yahudi -sampai melakukan boikot produk-produk yang diduga menyumbangkan dana bagi yahudi- turut menamakan yahudi dengan israel. 

Akan tetapi sangat disayangkan tidak ada seorang pun yang mengingatkan bahaya besar penamaan ini.

Perlu diketahui dan dicamkan dalam benak hati setiap muslim bahwa ISRAIL adalah nama lain dari seorang Nabi yang mulia, keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yaitu Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. 

Allah ta’ala berfirman:

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ

Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan.” (QS. Ali Imran: 93)

Israil yang pada ayat diatas adalah nama lain dari Nabi Ya’qub ‘alaihis salam

Dan nama ini diakui sendiri oleh orang-orang yahudi, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu: 

Sekelompok orang yahudi mendatangi Nabi untuk menanyakan empat hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi. Pada salah satu jawabannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Apakah kalian mengakui bahwa Israil adalah Ya’qub?” Mereka menjawab: “Ya, betul.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, saksikanlah.” (HR. Daud At-Thayalisy 2846)

Kata “Israil” merupakan susunan dua kata israa dan iil yang dalam bahasa arab artinya shafwatullah (kekasih Allah). 

Ada juga yang mengatakan israa dalam bahasa arab artinya ‘abdun (hamba), sedangkan iil artinya Allah, sehingga Israil dalam bahasa arab artinya ‘Abdullah (hamba Allah). (lihat Tafsir At Thabari dan Al Kasyaf ketika menjelaskan tafsir surat Al Baqarah ayat 40)

Telah diketahui bersama bahwa Nabi Ya’qub adalah seorang nabi yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah ta’ala. Allah banyak memujinya di berbagai ayat al Qur’an. 

Jika kita mengetahui hal ini, maka dengan alasan apa nama Israil yang mulia disematkan kepada orang-orang yahudi terlaknat. 

Terlebih lagi ketika umat islam menggunakan nama ini dalam konteks kalimat yang negatif, diucapkan dengan disertai perasaan kebencian yang memuncak; Biadab Israil… Israil bangsat… Keparat Israil… Atau dimuat di majalah-majalah dan media massa yang dinisbahkan pada islam, bahkan dijadikan sebagai Head Line News; Israil membantai kaum muslimin… Agresi militer Israil ke Palestina… Israil penjajah dunia…. Dan seterusnya… namun sekali lagi, yang sangat fatal adalah ketika hal ini diucapkan tidak ada pengingkaran atau bahkan tidak merasa bersalah.

Mungkin perlu kita renungkan, pernahkah orang yang mengucapkan kalimat-kalimat diatas merasa bahwa dirinya telah menghina Nabi Ya’qub ‘alaihis salam? 

Pernahkah orang-orang yang menulis kalimat ini di majalah-majalah yang berlabel islam dan mengajak kaum muslimin untuk mengobarkan jihad, merasa bahwa dirinya telah membuat tuduhan dusta kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis salam? 

Mengapa mereka tidak membayangkan bahwasanya bisa jadi ungkapan-ungkapan salah kaprah ini akan mendatangkan murka Allah – wal ‘iyaadzu billaah – karena isinya adalah pelecehan dan tuduhan bohong kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. 

Mengapa tidak disadari bahwa Nabi Ya’qub ‘alaihis salam tidak ikut serta dalam perbuatan orang-orang yahudi dan bahkan beliau berlepas diri dari perbuatan mereka yang keparat. Pernahkah mereka berfikir, apakah Nabi Israil ‘alaihis salam ridha andaikan beliau masih hidup?!

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 58)

Allah menyatakan, menyakiti orang mukmin biasa laki-laki maupun wanita sementara yang disakiti tidak melakukan kesalahan dianggap sebagai perbuatan dosa, bagaimana lagi jika yang disakiti adalah seorang Nabi yang mulia, tentu bisa dipastikan dosanya lebih besar dari pada sekedar menyakiti orang mukmin biasa.

Satu hal yang perlu disadari oleh setiap muslim, penamaan negeri yahudi dengan Israel termasuk salah satu diantara sekian banyak konspirasi (makar) yahudi terhadap dunia

Mereka tutupi kehinaan nama asli mereka YAHUDI dengan nama Bapak mereka yang mulia Nabi Israil ‘alaihis salam. 

Karena bisa jadi mereka sadar bahwa nama YAHUDI telah disepakati jeleknya oleh seluruh dunia, mengingat Allah telah mencela nama ini dalam banyak ayat di Al-Qur’an.

Kita tidak mengingkari bahwa orang-orang yahudi merupakan keturunan Nabi Israil ‘alaihis salam, akan tetapi ini bukan berarti diperbolehkan menamakan yahudi dengan nama yang mulia ini. 

Bahkan yang berhak menyandang nama dan warisan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan para nabi yang lainnya adalah kaum muslimin dan bukan yahudi yang kafir. 

Allah ta’ala berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

إن أولى الناس بإبراهيم للذين اتبعوه وهذا النبي والذين آمنوا والله ولي المؤمنين

Sesungguhnya orang yang paling berhak terhadap Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini, beserta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 68)

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk mengucapkan dan melakukan perbuatan yang dicintai dan di ridai oleh Allah ta’ala.

⬛️⬛️ Tidak Berniat Menghina Nabi Ya’qub

Sedikitpun kami tidak berniat menghina Nabi Ya’qub ‘alaihis salam dalam penggunaan kalimat-kalimat ini sebaliknya, yang kami maksud adalah yahudi…

Barangkali ini salah satu pertanyaan yang akan dilontarkan oleh sebagian kaum muslimin ketika menerima nasihat ini. 

Maka jawaban singkat yang mungkin bisa kita berikan: Justru inilah yang berbahaya, seseorang melakukan sesuatu yang salah namun dia tidak sadar kalau dirinya sedang melakukan kesalahan. 

Bisa jadi hal ini tercakup dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu diatas. Bukankah semua pelaku perbuatan bid’ah tidak berniat buruk ketika melakukan kebid’ahannya, namun justru inilah yang menyebabkan dosa perbuatan bid’ah tingkatannya lebih besar dari melakukan dosa besar.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di Mekkah, Orang-orang musyrikin Quraisy mengganti nama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam (manusia tercela) sebagai kebalikan dari nama asli Beliau Muhammad (manusia terpuji).

Mereka gunakan nama Mudzammam ini untuk menghina dan melaknat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. misalnya mereka mengatakan; “terlaknat Mudzammam”, “terkutuk Mudzammam”, dan seterusnya. 

Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merasa dicela dan dilaknat, karena yang dicela dan dilaknat orang-orang kafir adalah “Mudzammam” bukan “Muhammad”, 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ألا تعجبون كيف يصرف الله عني شتم قريش ولعنهم يشتمون مذمماً ويلعنون مذمماً وأنا محمد

Tidakkah kalian heran, bagaimana Allah mengalihkan dariku celaan dan laknat orang Quraisy kepadaku, mereka mencela dan melaknat Mudzammam sedangkan aku Muhammad.” (HR. Ahmad & Al Bukhari)

Meskipun maksud orang Quraisy adalah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun karena yang digunakan bukan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Beliau tidak menilai itu sebagai penghinaan untuknya. 

Dan ini dinilai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk mengalihkan penghinaan terhadap dirinya. 

Oleh karena itu, bisa jadi orang-orang Yahudi tidak merasa terhina dan dijelek-jelekkan karena yang dicela bukan nama mereka namun nama Nabi Ya’qub ‘alaihis salam.

Disamping itu, Allah juga melarang seseorang mengucapkan sesuatu yang menjadi pemicu munculnya sesuatu yang haram. 

Allah melarang kaum muslimin untuk menghina sesembahan orang-orang musyrikin, karena akan menyebabkan mereka membalas penghinaan ini dengan menghina Allah ta’ala. Allah berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu.” (QS. Al An’am: 108)

Allah ta’ala melarang kaum muslimin yang hukum asalnya boleh atau bahkan disyari’atkan – menghina sesembahan orang musyrik – karena bisa menjadi sebab orang musyrik menghina Allah subhanahu wa ta’ala. 

Dan kita yakin dengan seyakin-yakinnya, tidak mungkin para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang menyaksikan turunnya ayat ini memiliki niatan sedikitpun untuk menghina Allah ta’ala. 

Maka bisa kita bayangkan, jika ucapan yang menjadi sebab celaan terhadap kebenaran secara tidak langsung saja dilarang, bagaimana lagi jika celaan itu keluar langsung dari mulut kaum muslimin meskipun mereka tidak berniat untuk menghina Nabi Israil ‘alaihis salam.

⬛️⬛️ Cuma Sebatas Istilah

Cuma sebatas istilah, yang pentingkan esensinya… bahkan para ulama’ memiliki kaidah “Tidak perlu memperdebatkan istilah.”

Diatas telah dipaparkan bahwa menamakan negeri yahudi dengan Israil merupakan celaan terhadap Nabi Israil ‘alaihis salam, baik langsung maupun tidak langsung, baik diniatkan untuk mencela maupun tidak, semuanya dihitung mencela Nabi Israil ‘alaihis salam tanpa terkecuali. 

Dan kaum muslimin yang sejati selayaknya tidak meremehkan setiap perbuatan dosa atau perbuatan yang mengundang dosa. Karena dengan meremahkannya akan menyebabkan perbuatan yang mungkin nilainya kecil menjadi besar. 

Sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa diantara salah satu penyebab dosa kecil menjadi dosa besar adalah ketika pelakunya meremehkan dosa kecil tersebut.

Bahkan kita telah memahami bahwa mencela, menghina, melakukan tuduhan dusta kepada seorang Nabi adalah dosa besar. 

Akankah hal ini kita anggap ini biasa?! Sekali lagi, akan sangat membahayakan bagi seseorang, ketika dia mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, sementara dia tidak sadar. Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah. (QS. An-Nur: 15)

Untuk kaidah “Tidak perlu memperdebatkan istilah”, kita tidak mengingkari keabsahan kaidah ini mengingat ungkapan tersebut merupakan kaidah yang masyhur di kalangan para ulama’. 

Akan tetapi maksud kaidah ini tidaklah melegalkan penamaan Yahudi dengan Israel. 

Karena kaidah ini berlaku ketika makna istilah tersebut sudah diketahui tidak menyimpang, sebagaimana yang dipaparkan oleh Abu Hamid Al Ghazali dalam bukunya Al Mustashfaa fi Ilmil Ushul.

Istilah Israil untuk negeri yahudi telah menjadi konsensus (kesepakatan) dunia. Kita cuma ikut-ikutan…

Setiap kaum muslimin selayaknya berusaha menjaga syi’ar-syi’ar islam, misalnya dengan belajar bahasa arab (baik lisan maupun tulisan), menghafalkan Al Qur’an, dan termasuk dalam hal ini adalah membiasakan diri untuk menggunakan istilah-istilah yang Allah gunakan dalam Al Qur’an atau dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama istilah tersebut dapat dipahami orang lain.

Sebagai bentuk pemeliharaan terhadap syi’ar islam, para sahabat terutama Umar Ibn Al Khattab radhiyallahu ‘anhu sangat menekankan agar umat islam mempelajari bahasa arab. 

Beliau pernah mengatakan: “Pelajarilah bahasa arab, karena itu bagian dari agama kalian.” Beliau juga mengatakan: “Hati-hati kalian dengan bahasa selain bahasa arab.” 

Umar radhiyallahu ‘anhu membenci kaum muslimin membiasakan diri dengan berbicara selain bahasa arab tanpa ada kebutuhan, dan ini juga yang dipahami oleh para sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. 

Mereka (para sahabat radhiyallahu ‘anhum) menganggap bahasa arab sebagai konsekuensi agama, sedangkan bahasa yang lainnya termasuk syi’ar kemunafikan. 

Karena itu, ketika para sahabat berhasil menaklukkan satu negeri tertentu, mereka segera mengajarkan bahasa arab kepada penduduknya meskipun penuh dengan kesulitan. (lihat Muqaddimah Iqtidla’ Shirathal Mustaqim, Syaikh Nashir al ‘Aql)

Dalam bahasa arab, waktu sepertiga malam yang awal dinamakan ‘atamah. Orang-orang arab badui di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kebiasaan menamai shalat Isya’ dengan nama waktu pelaksanaan shalat isya’ yaitu ‘atamah. 

Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan menamakan shalat isya’ dengan shalat ‘atamah. 

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka melalui sabdanya:

لا يغلبنكم الأعراب على اسم صلاتكم فإنها العشاء إنما يدعونها العتمة لإعتامهم بالإبل لحلابها

Janganlah kalian ikut-ikutan orang arab badui dalam menamai shalat kalian, sesungguhnya dia adalah shalat Isya’, sedangkan orang badui menamai shalat isya dengan ‘atamah karena mereka mengakhirkan memerah susu unta sampai waktu malam.” (HR. Ahmad, dinyatakan Syaikh Al Arnauth sanadnya sesuai dengan syarat Muslim)

Al Quthuby mengatakan: “Agar nama shalat isya’ tidak diganti dengan nama selain yang Allah berikan, dan ini adalah bimbingan untuk memilih istilah yang lebih utama bukan karena haram digunakan dan tidak pula menunjukkan bahwa penggunaan istilah ‘atamah tidak diperbolehkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggunakan istilah ini dalam hadisnya…” (‘Umdatul Qori Syarh Shahih Al Bukhari karya Al ‘Aini)

Demikianlah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam menjaga syi’ar islam. 

Sampai menjaga istilah-istilah yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal penggunaan istilah asing dalam penamaan shalat isya’ tidak sampai derajat haram, karena tidak mengandung makna yang buruk.

⬛️⬛️ Lalu dengan apa kita menamai mereka?

Lalu dengan apa kita menamai mereka?! Kita menamai mereka sebagaimana nama yang Allah berikan dalam Al-Qur’an, YAHUDI dan bukan ISRAEL. Dan sebagaimana disampaikan di atas, hendaknya setiap muslim membiasakan diri dalam menamakan sesuatu sesuai dengan yang Allah berikan. 

Hendaknya kita namakan orang-orang yang mengaku pengikut Nabi Isa ‘alahis salam dengan NASRANI bukan KRISTIANI, kita namakan hari MINGGU dengan AHAD bukan MINGGU, kita namakan shalat dengan SHALAT bukan SEMBAHYANG dan seterusnya selama itu bisa dipahami oleh orang yang diajak bicara, sebagai bentuk penghormatan kita terhadap syi’ar-syi’ar agama islam. 

Wallaahu waliyyut taufiiq


Ditulis oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> https://chat.whatsapp.com/JnqiVOnUo7ZD2BE0YULzLL

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Derita Palestina Akibat Kekejaman Yahudi

Derita Palestina Akibat Kekejaman Yahudi Laknatullah
Bismillah...

Yahudi dan orang-orang musyrik. Dua kelompok inilah musuh Islam yang paling keras dalam berupaya untuk menghancurkan umat Islam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh akan kalian dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik).” (QS. al-Maa’idah [5]: 82).

Oleh sebab itu haram hukumnya bagi umat Islam memberikan loyalitas kepada musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir justru berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, meskipun orang-orang itu adalah ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau kerabat mereka…” (QS. al-Mujadilah [58]: 22).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kecintaan, berkasih sayang, dan hubungan perasaan di antara sesama mereka adalah laksana satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang kesakitan, maka semua anggota tubuh yang lain pun akan saling membantunya dengan merasakan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari [6011] dan Muslim [2586], dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ini lafazh Muslim).

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, 

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin akan turut merasa susah dan sedih karena sesuatu yang membuat susah dan sedih saudaranya sesama mukmin yang lain.” (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 163).

Sesungguhnya bumi Palestina merupakan bagian dari tanah air kaum muslimin. 

Kaum muslimin yang berada di sana adalah saudara-saudara kita seaqidah. 

Musibah yang menimpa mereka akibat kekejaman Yahudi merupakan musibah yang menimpa kita pula. 

Doa dan bantuan kita untuk mereka adalah wujud persaudaraan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Jika Allah menolong kalian, maka niscaya tidak akan ada yang dapat mengalahkan kalian. Namun, jika Allah membiarkan kalian (tidak memberikan pertolongan), maka siapakah lagi yang dapat menolong kalian setelah-Nya. Maka kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin itu bertawakal.” (QS. Ali Imran [3]: 160).

Penulis: Ustadz Ari Wahyudi, S.Si.


Sumber: https://muslim.or.id/21542-derita-palestina-akibat-kekejaman-yahudi.html

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> https://chat.whatsapp.com/JnqiVOnUo7ZD2BE0YULzLL

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Kelicikan Kaum Yahudi

Kelicikan Kaum Yahudi
Bismillah...

Sesungguhnya Al-Quran merupakan kitab yang berisikan petunjuk, penjelasan, nasehat, dan arahan. 

Didalamnya terdapat cerita orang-orang sebelum kita, dan berita orang-orang setelah kita, dan hikmah-hikmah/pelajaran-pelajaran bagi kita. 

Barangsiapa yang beramal dengannya, maka akan diberi pahala. Barangsiapa berhukum dengannya, niscaya dia telah berbuat adil. Dan barangsiapa berdakwah kepadanya, maka dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Diantara dalil yang jelas dan petunjuk mulia yang ada dalam al-Quran, ialah penyingkapan jalan orang-orang yang gemar melakukan dosa, dan penjelasan terhadap orang-orang yang dibenci lagi sesat; supaya kaum mukminin mengetahuinya kemudian mereka menjauhinya; dan tersingkap bagi mereka keadaanya, kemudian mereka menjaga diri darinya; dan jelas bagi mereka musuh-musuh mereka, kemudian memperingatkan manusia darinya. 

Allah Ta’ala berfirman :

{وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ}

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran, supaya jelas jalan orang-orang yang berdosa” (QS. al-An’am : 55)

yaitu supaya jelas jalan mereka, dan tersingkap perkara mereka, dan jelas keadaan mereka, sehingga kaum muslimin memperingatkan manusia dari mereka.

⬛️⬛️ Yahudi merupakan umat yang dimurkai oleh Allah

Telah datang dalam Al-Quran berupa dalil dan petunjuk yang jelas, bahwasanya orang-orang yang paling licik tipu-dayanya terhadap kaum mukminin, paling besar permusuhannya, dan paling kotor makar dan kebenciannya; ialah orang-orang Yahudi. 

Mereka adalah umat yang dimurkai, yang – karena jeleknya amal perbuatan mereka – mendapat kemarahan, laknat, dan kemurkaan dari Allah Ta’ala. 

Maka, mereka adalah umat yang terlaknat lagi dimurkai, karena kejelekan yang mengakar pada diri mereka, kekejian yang bertumpuk-tumpuk, dan kerusakan yang besar, 

Allah Ta’ala berfirman :

{ قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ }

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus” (QS. al-Maidah : 60)

Allah Ta’ala juga berfirman :

{تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ}

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan” (QS. al-Maidah : 80)

Dia Ta’ala juga berfirman :

{ بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ }

Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan” (QS. al-Baqarah: 90)

⬛️⬛️ Orang-orang yahudi memiliki hati yang keras

Dan Allah telah mensifati mereka dalam al-Quran, bahwasanya hati-hati mereka keras.

{ ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً }

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi” (QS. al-Baqarah : 74)

⬛️⬛️ Pengingkaran yahudi terhadap Taurat

Ketika dihadapkan kepada mereka Taurat – yang merupakan firman Allah, wahyu-Nya, dan diturunkan dari-Nya – mereka menolaknya, dan menutup diri dari menerimanya. 

Kemudian Allah memerintahkan Jibril ‘alaihis salaam untuk mencabut sebuah gunung sampai akarnya dari bumi, sesuai dengan ukuran/jumlah mereka, kemudian mengangkatnya di atas kepala mereka, dan dikatakan kepada mereka, “Jika kalian tidak menerimanya, maka akan Kami jatuhkan gunung ini kepada kalian.” Maka mereka menerimanya dalam keadaan terpaksa. 

Allah Ta’ala berfirman :

{وَإِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوا أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}

Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka): “Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut didalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa”” (QS. al-A’raf : 171)

Allah Ta’ala juga berfirman :

{وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ – ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ}

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa”. Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi” (QS. al-Baqarah : 63 – 64)

⬛️⬛️ Kelancangan yahudi terhadap Allah dan rasul-Nya

Dan ketika Nabi Musa ‘alaihis salaam mengajak mereka untuk beriman kepada Allah dan wahyu-Nya, mereka menolaknya, seraya berkata, “Kami tidak akan beriman hingga kami melihat Allah dengan mata kepala kami.” 

Maka Allah menurunkan api dari langit, lalu membunuh mereka dengan api tersebut karena sebab dosa mereka. Kemudian, Allah menghidupkan mereka setelah kematian mereka tersebut supaya mereka bersyukur. 

Allah Ta’ala berfirman :

{وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ – ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ}

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur” (QS. al-Baqarah : 55 – 56)

Dan diantara keculasan mereka adalah mereka menjadikan patung anak sapi sebagai sesembahan selain Allah, padahal mereka telah melihat sendiri bagaimana Allah menimpakan hukuman yang dahsyat kepada kaum Musyrikin. 

Padahal Nabi mereka masih hidup, belum mati. Padahal mereka juga melihat sendiri dengan mata kepala mereka bagaimana tukang patung membuat patung sapi tersebut. 

Ia membuat adonan bahannya, memasukannya ke dalam api, menempanya dengan palu, lalu didinginkan, lalu dibolak-balik oleh tangan si pematung, walaupun mereka tahu semua ini namun mereka tetap menyembahnya selain juga menyembah Allah. 

Tidak cukup sampai di situ, mereka juga mengklaim secara dusta bahwa patung tersebut adalah sesembahannya Musa ‘Alaihissalam.

{فَقَالُوا هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى فَنَسِيَ} [طه:88]

Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”” (QS. Thaha: 88)

Dan Allah juga berfirman:

{وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ (51) ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ} [البقرة:51-52]

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang lalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur” (QS. Al Baqarah: 51-52)

Walaupun hujjah-hujjah senantiasa ditunjukkan kepada mereka dan mereka senantiasa dilimpahkan kenikmatan dari Allah berkali-kali, mereka tetap saja meminta untuk dibuatkan sesembahan selain Allah. 

Terkadang mereka menyembah patung sapi selain menyembah Allah. Terkadang mereka mengatakan, “Wahai Musa, kami belum bisa membenarkanmu sebelum kami melihat Allah dengan nyata”. 

Dan ketika Allah menyelamatkan mereka dari kekuasaan Fir’aun dan kezhalimannya, dan mereka dipisahkan dengan laut, mereka sudah melihat ayat-ayat Allah, keajaiban-keajaiban serta pertolongan dari-Nya, namun ketika Nabi mereka (Musa) mengajak mereka untuk berperang mereka malah enggan dan berkata

{فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ} [المائدة:24]

Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al Maidah: 24).

Dan diantara ulah mereka juga, ketika dikatakan mereka, dan ketika mereka bersama Nabi mereka lalu wahyu dari Allah turun:

{وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ}[البقرة:58]

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “hithah (Bebaskanlah kami dari dosa)”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Baqarah: 58).

Al qaryah maksudnya Baitul Maqdis. Mereka diperintahkan masuk ke dalamnya dengan cara yang demikian, yaitu cara yang penuh ketundukan dan perendahan diri kepada Allah, namun mereka malah enggan. 

Mereka ingkar dan sombong, mereka pun masuk ke sana lewat pintu belakang, mereka kembali ke belakang, dan berkata: “hinthah” (padahal yang disuruh adalah “hithah”), artinya biji-bijian. 

Maka Allah Ta’ala pun berfirman:

{فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ} [البقرة:59]

Lalu orang-orang yang lalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik” (QS. Al Baqarah: 59)

Dan diantara keculasan mereka adalah mereka membunuhi para Nabi yang sesungguhnya hidayah tidak sampai kepada mereka kecuali oleh sebab para Nabi tersebut. Dan mereka menjadikan para rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah. 

Mereka juga menuduh Nabi Isa dan ibu telah berbuat dosa besar. Dan mereka juga mengklaim bahwa mereka telah berhasil membunuh keduanya.

{فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا (155) وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا } [النساء:155-158]

Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina). dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An Nisaa’: 155-158)

Dan diantara keculasan mereka adalah menisbatkan hal-hal yang tidak layak kepada Allah. Dan mereka menyifati Allah dengan sifat-sifat yang Allah disucikan darinya. 

Diantara perkataan mereka, bahwa Allah lelah dan beristirahat setelah menciptakan langit dan bumi. Kemudian Allah menurunkan ayat untuk membantah mereka:

{وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ} [ق:38]

Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan” (QS. Qaaf: 38)

lughuw maknanya lelah. Dan diantara perkataan mereka juga, “Allah itu faqir dan kami itu kaya”. 

Maka Allah pun menurunkan ayat:

{لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ} [آل عمران:181]

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang membakar”” (QS. Al Imran: 181)

Allah juga berfirman:

{ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ } [المائدة:64]

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki” (QS. Al Maidah: 64)

Kemudian, dengan semua kekufuran yang besar dan kedustaan yang nyata ini, mereka mengklaim diri mereka ahli surga dan juga mengklaim diri mereka adalah makhluk Allah yang paling terbaik dan makhluk terpilih.

{وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ } [البقرة:111]

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”” (QS. Al Baqarah: 111)

{وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ} [المائدة:18]

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan:”Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya” (QS. Al Maidah: 18)

Dan yang semestinya kita ketahui bersama, bahwa kaum Yahudi itu setelah mencoba membunuh Al Masih Isa bin Maryam, dan Allah menjaga Nabi Isa dari usaha mereka tersebut, ternyata makar mereka sama sekali tidak berkurang sampai Allah memecah mereka menjadi banyak golongan dan menyempitkan mereka sesempit-sempitnya.

Dan mereka tidak memiliki kekuasaan sampai diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Merekapun kufur kepada beliau dan mendustakannya. 

Kemudian Allah menyempurnakan adzab-Nya kepada mereka dan menhancurkan mereka sehancur-hancurnya, serta menghinakan mereka sehina-hinanya. 

Kehinaan ini terus ada pada mereka hingga diturunkannya Nabi Isa ‘Alaihissalam di akhir zaman kelak. Akan dihentikan semua ulah mereka dan dibunuh semua dari mereka yang tersisa. Dan bumi dibersihkan dari para penyembah salib.

Inilah sebagian kabar yang datang dari Al Qur’an Al Karim mengenai keadaan kaum Yahudi yang dimurkai dan dilaknat ini. Agar kaum Muslimin mengetahu sejarah hitam dari kaum tersebut. Kehidupan mereka itu kelam dan penuh dengan kekufuran, permusuhan, kezaliman dan kedustaan.

Mereka tidak merasa aman terhadap kejahatan mereka sendiri, dan mereka tidak henti-hentinya berbuat keji hingga tidak ada perasaan aman di setiap waktu dan keadaan karena kesesatan dan permusuhan yang mereka perbuat. 

Selain itu, hikmah Al Qur’an mengabarkan hal ini juga agar setiap Muslim menyadari kadar nikmat Allah yang diberikan kepadanya yang berupa agama yang hanif dan juga berupa nikmat ilmu dan iman. Maka sungguh segala puji bagi Allah dari awalnya hingga akhirnya.

Sesungguhnya seorang Mukmin dalam setiap keadaannya dan setiap perkaranya, baik di kala sulit maupun lapang, dikala senang maupun susah, ia tidak merasa takut kecuali kepada Allah dan tidak meminta jalan keluar kecuali kepada Rabb-nya sebagai penghulunya dan penolongnya.

Wahai Allah, Engkau lah tempat mengadu dan Engkau lah yang mencukupi kami. Wahai Dzat yang mengabulkan doa orang kesulitan ketika ia berdoa, dan menguatkan hati orang yang rapuh ketika ia menengadahkan tangannya dan menghilangkan kegelisahan orang yang gelisah ketika ia menundukkan diri kepada-Nya dan berharap pada-Nya.

Wahai Rabb kami, sesungguhnya kaum Yahudi berbuat makar terhadap saudara-saudara kami di Palestina, berupa pembunuhan dan pengusiran. 

Kaum Yahudi menghancurkan dan menyabotase rumah-rumah mereka, mencoreng dan merusak kehormatan mereka. 

Betapa banyak rumah yang telah hancur dan betapa banyak kehormatan yang dicoreng. Betapa banyak wanita yang diperkosa, betapa banyak darah yang telah mengucur, dan betapa banyak anak-anak yang telah menjadi yatim. 

Sungguh arogansi kaum Yahudi semakin menjadi-jadi, semakin bertambah kesombongan dan kejahatan mereka, serta semakin besar pula perlawanan dan permusuhan mereka.

Wahai Rabb kami, wahai Dzat yang memiliki pertolongan dan kemuliaan, kepada-Mu pertolongan diminta. Wahai Dzat yang pintu-pintu-Nya dan khizanah-Nya dibuka bagi orang yang berdoa, wahai Dzat yang menggoyangkan singgasananya orang-orang zalim, wahai Dzat yang menghancurkan kekuasaan para penguasa hebat, wahai Dzat yang membatalkan tipu daya orang-orang jahat. 

Ya Allah, hancurkanlah kaum Yahudi yang mereka itu melampaui batas. Ya Allah, kami jadikan Engkau penolong untuk membinasakan mereka dan kami memohon perlindungan dari-Mu dari kejahatan mereka.


Sumber: https://muslim.or.id/22148-kelicikan-kaum-yahudi.html

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> https://chat.whatsapp.com/JnqiVOnUo7ZD2BE0YULzLL

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Bahaya Bangsa Yahudi

Bahaya Bangsa Yahudi
Bismillah...

خطر اليهود

إنّ من يتأمَّل التاريخ على طول مداه ويتأمل في أحوال الأمم وأخلاقها ومعاملاتها يجد أن أسوء الأمم خُلقا وأشرَّها معاملة أمّةُ اليهود تلك الأمة الغضبية الملعونة ؛ أمّة الكذب والطغيان والفسوق والعصيان والكفر والإلحاد ، أمّةٌ ممقوتة لدى الناس لفظاظة قلوبهم وشدّة حقدهم وحسدهم ولعِظم بغيهم وطغيانهم ، أهل طبيعة وحشية وهمجيّة لا يباريهم فيها أحد ، كلّما أحسوا بقوةٍ ونفوذٍ وتمكنٍ وقدرة هجموا على من يعادونه هجوم السبُع على فريسته ، لا يرقبون في أحد إلا ولا ذمة ، ولا يعرفون ميثاقاً ولا عهدا ، لا يُعرف في الأمم جميعها أمةٌ أقسى قلوبا ولا أغلظ أفئدة من هذه الأمة ، قد التصق بهم الإجرام والظلم والعدوان والجور والبهتان من قديم الزمان يقول الله تعالى: {فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً} ويقول الله تعالى: {ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً}.

Barang siapa yang mengerti perjalanan sejarah yang panjang dan merenungkan keadaan, akhlak, dan kehidupan sosial berbagai umat manusia, niscaya dia akan mendapati bahwa umat yang paling buruk dan yang paling jelek akhlak dan muamalahnya diantara mereka adalah bangsa Yahudi.

Merekalah umat yang dimurkai dan terkutuk. Bangsa pendusta, tirani, fasik, durhaka, dan kafir lagi ingkar. 

Bangsa yang dibenci oleh umat manusia karena hati mereka yang keras dan buruknya kebencian mereka serta hasad dalam diri mereka, di samping parahnya penindasan dan kezaliman yang mereka lakukan.

Bangsa ini tabiatnya keras dan serakah hingga tidak ada seorang pun yang lebih keras dan serakah daripada mereka. 

Setiap kali mereka mendapatkan kekuatan, pengaruh, kedudukan, dan kemampuan, mereka akan segera menyerang lawan mereka seperti binatang buas yang menyergap mangsanya. 

Tidaklah mereka menguasai seseorang melainkan dia kehilangan jaminan keselamatannya dan tidaklah mereka menyepakati perjanjian melainkan akan terjadi pengingkaran. 

Ditengah semua bangsa yang ada, tidak dikenal bangsa yang lebih keras dadanya dan lebih kasar hatinya melebihi bangsa ini. Kriminalitas, kezaliman, agresi, tirani, dan kedustaan telah melekat erat pada mereka sejak zaman dahulu. 

Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al-Maidah: 13). 

Allah Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras, sehingga (hati kalian) seperti batu, bahkan lebih keras daripadanya.” (QS. Al-Baqarah: 74).

ومن قسوة قلوب هؤلاء أنهم قتلوا بعض أنبياء الله الذين جاءوا يحملون إليهم الهدى والصلاح والسعادة والفلاح ، قال الله تعالى : {لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ} [المائدة:??] ، وقال تعالى : {فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا} [النساء:???] ، وقال تعالى : {إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ} [آل عمران:??] ، وهذه القسوة التي وصمهم الله بها في القرآن ملازمةٌ لهم على مر العصور واختلاف الأزمان إلى زماننا هذا.

Diantara bentuk kerasnya hati mereka adalah bahwa mereka berani membunuh beberapa nabi Allah yang datang untuk mereka membawa petunjuk, kesalehan, kebahagiaan, dan kemenangan. 

Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami Mengutus kepada mereka rasul-rasul. Namun setiap rasul datang kepada mereka dengan membawa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, (maka) sebagian (dari rasul itu) mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Maidah: 70). 

Allah Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Maka (Kami Menghukum mereka), karena mereka melanggar perjanjian itu, karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, dan karena mereka telah membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, serta karena mereka mengatakan, ‘Hati kami telah tertutup.’ Sebenarnya Allah telah Mengunci hati mereka karena kekafirannya, karena itu hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 155). 

Dia Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu azab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imran: 21). 

Inilah kekerasan hati yang digambarkan oleh Allah dalam al-Qur’an yang masih melekat pada diri mereka meskipun masa yang lama telah berlalu dan zaman telah berganti sampai di zaman kita ini.

ثم هم مع ذلك أهل مكرٍ وخديعة وخُبث وكيد ، وقد عانى المسلمون الأُوَل من صفة اليهود هذه الشيء الكثير ، ولا يزال المسلمون يعانون الويل من جرَّاء مكر اليهود وكيدهم والله يقول : {إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ}

Disamping itu, mereka adalah orang-orang yang penuh makar, tipu daya, culas, dan tipuan. Umat Islam di masa-masa awal telah menderita karena sering menjadi korban karakter Yahudi ini. 

Pun kaum Muslimin sekarang masih merasakan penderitaan akibat tipu daya Yahudi dan muslihat mereka. 

Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120). 

وقد دأَب اليهود من قديم الزمان على الغدر والخيانة ونقض العهود والوعود ، قال تعالى : {إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (55) الَّذِينَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لَا يَتَّقُونَ}، لقد عاش اليهود طوال حياتهم بؤرة فساد في المجتمعات وأساس كل منكر وفحشاء ، ينشرون الرذيلة ويشيعون الفساد ، وقد كانوا عبر التاريخ مصدراً للمنكر والفحشاء ؛ فهم أصحاب بيوت الدعارة في العالم وناشرو الانحلال الجنسي في كل مكان ، يبتزُّون أموال الشعوب ثم يسخرونها في إشاعة الرذيلة بينهم ليحطِّموا بذلك قيمهم ويخلخلوا إيمانهم ويضعِفوا قوتهم وليكونوا بذلك فريسةً سهلة لهم ، فما أقبحه من مكر.

Sejak zaman dahulu, bangsa Yahudi sudah biasa memberontak, berkhianat, dan mengingkari janji dan kesepakatan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya makhluk yang berjalan yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman, (yaitu) orang-orang yang terikat perjanjian dengan kamu, kemudian setiap kali berjanji mereka mengkhianati janjinya, sedang mereka tidak takut (kepada Allah).” (QS. Al-Anfal: 55-56). 

Bangsa Yahudi sepanjang hidup mereka adalah kerusakan bagi masyarakat dan pangkal segala kemungkaran dan kekejian. 

Mereka menyebarkan amoralitas dan hidup dengan membawa kerusakan. Sepanjang sejarah mereka, mereka menjadi sumber kemungkaran dan tindakan amoral. 

Mereka adalah pemilik rumah-rumah pelacuran global dan penyebarkan paham pergaulan bebas di mana-mana. Mereka memeras uang orang-orang lalu menggunakannya untuk menyebarkan tindak amoral ke tengah mereka untuk menghancurkan norma-norma mereka, menggerogoti iman mereka, dan melemahkan kekuatan mereka, sehingga mereka menjadi mangsa empuk bagi mereka. 

Sungguh, betapa licik muslihat mereka.

إن عِداء اليهود للإسلام عداءٌ قديم منذ فجر الإسلام الأوّل، وعداءهم وحقدهم على أهله معروف لدى الخاص والعام في قديم الزمان وحديثه ، لأن الإسلام عرَّى حالهم وكشف أمرهم وفضح مخازيهم وأظهر قبائحهم وشنائعهم، فبات أمرهم معلناً بدل أن كان سراً ، وبادياً لكل أحد بعد أن كان خفيّا . وجاءت آيات القرآن الكريم آيةً تلوى الأخرى معرِّية أمر هؤلاء مجلِّية حقيقة أمرهم كاشفةً كل مكرهم وكيدهم وخداعهم ، وصدق الله إذ يقول : {وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ}

Permusuhan bangsa Yahudi terhadap umat Islam adalah permusuhan klasik sejak pertama kali munculnya fajar Islam. 

Permusuhan dan kebencian mereka terhadap orang-orang Islam sudah dikenal oleh para pakar dan orang-orang awam sejak zaman dahulu hingga sekarang. 

Sebabnya adalah karena Islam membeberkan hakikat mereka, menyingkap rahasia mereka, mengungkap aib-aib memalukan mereka, dan menampakkan keburukan dan kekejaman mereka, sehingga perkara agama mereka menjadi dikenal oleh publik dan tidak lagi tersembunyi serta menjadi jelas bagi semua orang setelah sebelumnya dirahasiakan. 

Ada banyak ayat-ayat dalam al-Quran yang Mulia yang diturunkan silih berganti, ayat demi ayat, yang menyingkap perkara mereka dan menjelaskan hakikat masalah mereka serta membeberkan semua rencana jahat, tipu daya, dan muslihat mereka. 

Sungguh, Maha Benar Allah Subẖānahu wa Ta’ālā ketika Berfirman (yang artinya), “Dan demikianlah Kami Terangkan ayat-ayat al-Quran, (agar terlihat jelas jalan orang-orang yang saleh) dan agar terlihat jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am: 55).

لا غرابة أن كان عداء اليهود للإسلام شديداً ؛ فالإسلام جاء هادماً لكل ما لديهم من زيف وبهتان وباطل ، ومناقضا لكل ما عندهم من جنوح وانحراف وضلال. إنَّ الإسلام يدعو إلى الإيمان والتوحيد والإخلاص، واليهود يدعون إلى الكفر والإلحاد والتكذيب والإعراض. إنَّ الإسلام يدعو إلى مُثُلٍ عليا وقِيم رفيعة وإلى الرحمة والخير والإحسان، بينما اليهود يدعون إلى القسوة والإجرام والوحشية والعدوان والظلم والبهتان.

Tidak mengherankan jika permusuhan orang Yahudi terhadap Islam sangat keras, karena Islam datang untuk menghancurkan semua kepalsuan, fitnah, dan kebatilan mereka, serta menentang semua kekejaman, penyimpangan, dan kesesatan mereka. Islam menyerukan kepada keimanan, tauhid, dan keikhlasan, sedangkan orang-orang Yahudi mengajak untuk kafir, ingkar, mendustakan, dan berpaling dari agama. Islam juga menyeru kepada akhlak yang mulia dan nilai-nilai yang luhur, kasih sayang, dan kebaikan, sementara orang-orang Yahudi menyeru kepada kekerasan, kriminalitas, kebrutalan, permusuhan, kezaliman, dan muslihat.

الإسلام يدعو إلى الحياء والستر والحشمة والعفاف ، واليهود يدعون إلى الرذيلة والفساد والمكر والبغي . الإسلام يحفظ الحقوق ويحترم المواثيق ويحرِّم الظلم ، واليهود لا يعرفون حقّا ولا يحفظون عهداً ولا ميثاقاً ولا يتركون الظلم والعدوان . الإسلام يحرِّم قتل النفس بغير الحق ويحرِّم السرقة والزنا ، واليهود يستبيحون سفك دماء غير اليهود وسرقة أموالهم وانتهاك أعراضهم.

Islam menyerukan kepada rasa malu, menutup aurat, kesopanan, dan kesucian diri, sementara orang-orang Yahudi menyerukan perbuatan-perbuatan amoral, kerusakan, tipu muslihat, dan melampaui batas. 

Islam juga menjaga hak-hak yang ada, menghormati perjanjian, dan melarang kezaliman, sementara orang-orang Yahudi tidak menggubris hak-hak yang ada, tidak menepati perjanjian dan kesepakatan, dan tidak meninggalkan perbuatan zalim dan permusuhan. 

Islam melarang membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan dan melarang pencurian serta perzinahan. 

Adapun orang-orang Yahudi, mereka membolehkan menumpahkan darah orang-orang non-Yahudi, mencuri uang mereka, dan menodai kehormatan mereka.

ورغم كلِّ هذا الضلال الذي هم فيه فإنهم يعتقدون في أنفسهم أنهم شعب الله المختار وأنهم أبناء الله وأحباؤه وأن أرواحهم متميزة عن بقية أرواح البشر بأنها جزء من الله وأنه لو لم يُخلق اليهود لانعدمت البركة من الأرض ولما نزلت الأمطار ولا وجدت الخيرات ، ويعتقدون فيمن سواهم أنهم أشبه بالحمير وأن الله خلقهم على صورة الإنسان ليكونوا لائقين لخدمتهم ، ألا شاهت وجوه الأخسرين ولعنة الله على المجرمين.

Dengan semua kesesatan dalam diri mereka, mereka masih meyakini bahwa mereka adalah ‘bangsa Allah’ dan umat pilihan-Nya, bahwa mereka adalah ‘anak-anak-Nya’ dan makhluk yang dicintai-Nya, dan bahwa roh-roh mereka berbeda dengan roh manusia lainnya. 

Roh mereka adalah bagian dari Allah dan bahwa keberkahan akan diangkat dari bumi, hujan tidak akan turun, dan perbuatan baik tidak akan ada jika orang Yahudi tidak diciptakan. 

Mereka juga meyakini bahwa umat lain selain mereka tidak lebih seperti keledai dan bahwa Allah menciptakan mereka dalam rupa manusia agar layak untuk menjadi pelayan mereka!! 

Semoga Allah Memburukkan rupa orang-orang yang merugi tersebut dan Melaknat para durjana tersebut!

يجب أن ندرك جميعاً أنَّ عدوان اليهود على المسلمين في فلسطين ليس مجرد نزاعٍ على أرض ، وأن ندرك أن قضية فلسطين قضيةٌ إسلامية يجب أن يؤرِّق أمرها بال كل مسلم ، ففلسطين بلد الأنبياء وفيها ثالث المساجد الثلاثة المعظمة ، وهي مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقبلة المسلمين الأولى ، وليس لأحدٍ فيها حقّ إلا الإسلام وأهله ؛ والأرض لله يورثها من يشاء من عباده والعاقبة للمتقين.

Kita semua harus menyadari bahwa permusuhan bangsa Yahudi terhadap kaum muslimin di Palestina bukan hanya sekedar masalah sengketa tanah. Kita juga harus memahami bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam yang harus menjadi perhatian setiap muslim. 

Palestina adalah negeri para nabi. Disana ada masjid suci ketiga dari tiga masjid suci, disanalah Rasulullah diperjalankan untuk Isra’, dan di sanalah kiblat pertama umat Islam. Tidak ada yang berhak memilikinya kecuali Islam dan umat Islam. 

Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah dan Dia akan Mewariskannya kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. 

ويجب أن ندرك أنَّ تغلب هذه الشرذمة المرذولة والفئة المخذولة وتسلطهم على المسلمين إنما هو بسبب الذنوب والمعاصي وإعراض كثير من المسلمين عن دينهم الذي هو سبب عِزهم وفلاحهم ورفعتهم في الدنيا والآخرة ، قال تعالى : { وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}، فلا بد من عودةٍ صادقة وأوبة حميدة إلى الله جلّ وعلا فيها تصحيحٌ للإيمان وصلةٌ بالرحمن وحفاظ على الطاعة والإحسان ، وبُعدٌ وحذرٌ من الفسوق والعصيان لينال المؤمنون العزّة والتمكين والنصر والتأييد.

Kita harus tahu bahwa dominasi umat hina ini dan bangsa yang tertipu ini serta kekuasaannya atas kaum muslimin tidak lain dan tidak bukan adalah karena dosa dan maksiat serta berpalingnya banyak kaum muslimin sendiri dari agama mereka, karena agama Islam adalah kunci kejayaan, keberhasilan, dan kedigdayaan mereka di dunia dan di akhirat. 

Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30). 

Oleh sebab itu, perlu untuk sejujur-jujurnya kembali dan sebaik-baiknya bertobat kepada Allah Jalla wa ʿAlā. Hal tersebut akan memperbaiki keimanan, memperbagus hubungan yang baik dengan ar-Rahman, dan menjaga amal ketaatan dan kebajikan, serta menjauhkan dan memunculkan mawas diri terhadap kefasikan dan kemaksiatan agar umat Islam kembali mendapatkan kejayaan dan kekuasaan mereka serta pertolongan dan dukungan dari Allah.

{وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55) وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ } 

Allah telah Menjanjikan kepada orang-orang diantara kalian yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia, sungguh, akan Menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah Menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan Meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia Ridai, dan Dia benar-benar akan Mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) Menyembah-Ku tanpa mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Namun barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik, maka laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kalian mendapat rahmat.” (QS. An-Nur: 55-56).


Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr

Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2565


Sumber: https://konsultasisyariah.com/42939-bahaya-bangsa-yahudi.html

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> https://chat.whatsapp.com/JnqiVOnUo7ZD2BE0YULzLL

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Hukum Memilih Pemimpin Negara Dalam Islam

Hukum Memilih Pemimpin Negara Dalam Islam
Bismillah...

Pertanyaan:

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz, berhubungan dengan pemilu presiden yang sudah dekat. Jika nanti pemimpin yang kita pilih ternyata adalah seorang pemimpin yang dzalim, apakah kita juga mendapatkan dosa-dosa dari kedzaliman pemimpin yang kita pilih?

(Ditanyakan oleh ABN0518_ALDI_Lampung)

✅ Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh, Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Pertanyaan ini dijawab:

» Kalau pemerintah pilihan kita tidak menerapkan hukum Allah Ta’ala apakah kita akan mendapatkan dosa dari perbuatan mereka ?

» Kalau pemerintah pilihan kita tidak memakai sistem khilafah apakah kita akan mendapatkan dosa dari perbuatan mereka ?

» Kalau pemerintah pilihan kita tidak menghapuskan bank-bank riba apakah kita akan mendapatkan dosa dari perbuatan mereka?

» Kalau pemerintah pilihan kita tidak menutup pabrik rokok apakah kita akan mendapatkan dosa dari perbuatan mereka ?

Jawabnya tidak, selama kita sudah berusaha menghindari keburukan semampunya, memilih keburukan yang paling minimal, jika ternyata keliru maka itu di luar kemampuan kita. 

Karena memang tidak ada pemimpin yang maksum tanpa salah sama sekali.

Dan karena manusia tidak memikul beban dosa yang dilakukan oleh orang lain.

Dan karena kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang.

Kewajiban kita adalah memperbaiki diri kita, keluarga dan masyarakat kemudian mendoakan kebaikan bagi pemerintah kita.

Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi mengatakan :

أما لزوم طاعتهم وإن جاروا ، فلأنه يترتب على الخروج من طاعتهم من المفاسد أضعاف ما يحصل من جورهم ، بل في الصبر على جورهم تكفير السيئات ومضاعفة الأجور ، فإن الله تعالى ما سلطهم علينا إلا لفساد أعمالنا ، والجزاء من جنس العمل ، فعلينا الاجتهاد في الاستغفار والتوبة وإصلاح العمل . قال تعالى : وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم ويعفو عن كثير [ الشورى : 30 ] . وقال تعالى : أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أنى هذا قل هو من عند أنفسكم [ آل عمران : 165 ] وقال تعالى : ما أصابك من حسنة فمن الله وما أصابك من سيئة فمن نفسك [ النساء : 79 ] . وقال تعالى : وكذلك نولي بعض الظالمين بعضا بما كانوا يكسبون [ الأنعام : 129 ] . فإذا أراد الرعية أن يتخلصوا من ظلم الأمير الظالم ، فليتركوا الظلم .

Adapun kewajiban menaati para penguasa walaupun mereka zhalim, maka dikarenakan dengan keluar dari ketaatan terhadap mereka akan menimbulkan kerusakan-kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan yang terjadi karena kezholiman mereka.

Bahkan dengan bersabar menghadapi kezhaliman mereka, akan menghapus kesalahan-kesalahan seseorang dikarenakan tidaklah Allah Ta’ala menguasakan mereka atas kita melainkan karena rusaknya amalan-amalan kita.

Dan balasan tentunya sesuai dengan amalan, maka wajib bagi kita bersungguh-sungguh dalam beristighfar dan mentarbiyyah (diri-diri kita dan keluarga kita di atas islam yang benar) serta memperbaiki amalan (kita).

Allah Ta’ala berfirman:

Demikianlah Kami menguasakan sebagian orang-orang yang zholim atas sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka perbuat“. (QS Al ‘Ankabut : 129).

Jika rakyat ingin terbebas dari kezaliman, hendaknya mereka meninggalkan kezaliman.

_________________

(Syarah Aqidah Ath-Thahawiyyah : 2/543).

Wallohu A’lam, Wabillahittaufiq.


Dijawab dengan ringkas oleh: 👤 Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله


_Baca selengkapnya:_ https://bimbinganislam.com/hukum-memilih-pemimpin-negara-dalam-islam/


🟩 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811 


Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> https://chat.whatsapp.com/JnqiVOnUo7ZD2BE0YULzLL

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Nikmat Aman

Nikmat Aman
Bismillah...

Bismillahirrahmanirrahim.

✅ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan bahwa rasa aman adalah suatu nikmat yang besar.

Dari ’Ubaidillah bin  Mihshan  Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Oleh karenanya nikmat ini jangan sampai diingkari.

✅ Gara-gara mengingkari nikmat, akhirnya datanglah musibah. Bentuk dari menginkari nikmat adalah dengan mendustakan ajaran Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam.

وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. An Nahl: 113).  

✅ Banyak orang memilih mencari cari Berita dibanding mencari ilmu. Dalam rangka mencari berita maka kita membuang waktu cukup banyak membuka website membaca dari whatsap grup mencari cari ke sana ke mari.

Sementara undangan kajian ilmu kita sering abaikan dan tidak menganggap penting ilmu.

Padahal sehari hari bilamana ditanya manakah yang lebih penting antara ilmu dengan berita sebagian besar orang menjawab ilmu agama lebih penting, namun faktanya pada kesehariannya mereka lebih banyak membuang waktu untuk menyimak berita dibanding sibuk menyimak ilmu agama.

✅ Padahal banyak berita yang sesungguhnya tidak benar dan sering digemparkan oleh orang orang munafik.

Sebagaimana ciri khas orang munafik adalah gemar menyampaikan berita yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh masyarakat untuk sekedar membuat Gempar masyarakat sebagaimana kisah dahulu beberapa orang munafik sampai akan dusir oleh Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam Karena suka menyampaikan berita ke sana kemari membuat kembar masyarakat di Madinah.

Allah berfirman,

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

Jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar. (QS. al-Ahzab: 60)

Allah dan Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam sangat tidak menyukai penyebar berita yang tidak dibutuhkan masyarakat serta berita bohong.

Terlebih ketika berita itu bisa bikin geger di masyarakat. Allah mencela orang yang suka menyebarkan berita yang membuat masyarakat ribut. Dalam al-Quran, Allah menyebut mereka dengan al-murjifuun (manusia pembuat onar).

Dalam hadis dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Sesungguhnya Allah membenci 3 hal untuk kalian: [1] menyebarkan berita burung (katanya-katanya); [2] menyia-nyiakan harta; dan [3] banyak bertanya. (HR. Bukhari 1477 & Muslim 4582).

Wallahu a’lam bish-showab.


Ditulis oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> https://chat.whatsapp.com/JnqiVOnUo7ZD2BE0YULzLL

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts