Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah

Janji Manis Para Caleg Menjelang Pemilu

Janji Manis Para Caleg Menjelang Pemilu
Bismillah...

Oh ternyata janji para Caleg Pemilu begitu manis. Janji demi janji diberi menjelang pesta rakyat, Pemilu yang dihadapi sebentar lagi. 

Inilah yang digaungkan oleh para penggila kekuasaan. Awalnya ingin mengatasnamakan rakyat ketika berkampanye. 

Namun kala mereka mendapatkan kursi panas, janji tinggallah janji. Janji manis mereka sudah mereka lupakan.

Inilah realita yang terjadi pada para penggila kekuasaan. 

Benarlah kata Rasul kita -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa kekuasaan bisa jadi ambisi setiap orang. Namun ujungnya selalu ada penyesalan. 

Beliau bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, ujungnya hanya penyesalan pada hari kiamat. Di dunia ia mendapatkan kesenangan, namun setelah kematian sungguh penuh derita” (HR. Bukhari no. 7148)

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata bahwa ucapan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- diatas menceritakan tentang sesuatu sebelum terjadinya dan ternyata benar terjadi.

Hadits diatas semakin jelas jika dilihat dari riwayat lainnya yang dikeluarkan oleh Al Bazzar, Ath Thobroni dengan sanad yang shahih dari ‘Auf bin Malik dengan lafazh,

أَوَّلهَا مَلَامَة ؛ وَثَانِيهَا نَدَامَة ، وَثَالِثهَا عَذَاب يَوْمَ الْقِيَامَة ، إِلَّا مَنْ عَدَلَ

Awal (dari ambisi terhadap kekuasaan) adalah rasa sakit, lalu kedua diikuti dengan penyesalan, setelah itu ketiga diikuti dengan siksa pada hari kiamat, kecuali bagi yang mampu berbuat adil.”

Dan disebutkan oleh Thobroni dari hadits Zaid bin Tsabit yang marfu’,

نِعْمَ الشَّيْء الْإِمَارَة لِمَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَحِلِّهَا ، وَبِئْسَ الشَّيْء الْإِمَارَة لِمَنْ أَخَذَهَا بِغَيْرِ حَقّهَا تَكُون عَلَيْهِ حَسْرَة يَوْم الْقِيَامَة

Sebaik-baik perkara adalah kepemimpinan bagi yang menunaikannya dengan cara yang benar. Sejelek-jelek perkara adalah kepemimpinan bagi yang tidak menunaikannya dengan baik dan kelak ia akan merugi pada hari kiamat.

Terdapat pula dalam riwayat Muslim dari hadits Abu Dzar,

قُلْت يَا رَسُول اللَّه أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي ؟ قَالَ : إِنَّك ضَعِيف ، وَإِنَّهَا أَمَانَة ، وَإِنَّهَا يَوْم الْقِيَامَة خِزْي وَنَدَامَة إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, kenapa engkau enggan mengangkatku (jadi pemimpin)?' Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjawab, 'Engkau itu lemah. Kepemimpinan adalah amanat. 

Pada hari kiamat, ia akan menjadi hina dan penyesalan kecuali bagi yang mengambilnya dan menunaikannya dengan benar'.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ini pokok penting yang menunjukkan agar kita menjauhi kekuasaan lebih-lebih bagi orang yang lemah. Orang lemah yang dimaksud adalah yang mencari kepemimpinan padahal ia bukan ahlinya dan tidak mampu berbuat adil. 

Orang seperti ini akan menyesal terhadap keluputan dia ketika ia dihadapkan pada siksa pada hari kiamat. Adapun orang yang ahli dan mampu berbuat adil dalam kepemimpinan, maka pahala besar akan dipetik sebagaimana didukung dalam berbagai hadits. 

Akan tetapi, masuk dalam kekuasaan itu perkara yang amat berbahaya. Oleh karenanya, para pembesar (orang berilmu) dilarang untuk masuk ke dalamnya. Wallahu a’lam.”

Lantas bagaimana akibat tidak amanat dalam menunaikan kepemimpinan? 

Dalam hadits diatas sudah disebutkan akibatnya,

فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

Di dunia ia mendapatkan kesenangan, namun setelah kematian sungguh penuh derita”. Ad Dawudi berkata mengenai maksud kalimat tersebut adalah kepemimpinan bisa berbuah kenikmatan di dunia, namun bisa jadi penghidupan jelek setelah kematian karena kepemimpinan akan dihisab dan ia bagaikan bayi yang disapih sebelum ia merasa cukup lalu akan membuatnya sengsara. Ulama lain berkata mengenai maksud hadits, kekuasaan memang akan menghasilkan kenikmatan berupa kedudukan, harta, tenar, kenikmatan duniawi yang bisa dirasa, namun kekuasaan bisa bernasib jelek di akhirat.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.


Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal MSc


[Disarikan dari Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqolani, 13: 125-126]

Tulisan lawas di Riyadh-KSA, 23 Rabi’ul Awwal 1434 H

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> https://chat.whatsapp.com/JnqiVOnUo7ZD2BE0YULzLL

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang Agung

Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang Agung
Bismillah...

Sebagian dari suami ketika memberikan nafkah kepada anak dan istrinya, bisa jadi ia merasa tidak sedang melakukan amal ibadah kepada Allah.

Padahal memberikan nafkah kepada anak dan istri adalah salah satu amal ibadah yang agung.

Merupakan amal ibadah yang wajib bagi seorang suami sekaligus ayah. Amal ibadah yang wajib jauh lebih besar pahalanya daripada amal ibadah sunah.

Perhatikan nasihat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berikut ini,

بعض الناس ينفق على أهله ، ولكنه لا يشعر بأنه يتقرب إلى الله بهذا الإنفاق و لو جاءه مسكين و أعطاه ريالا واحدا يشعر بأنه متقرب إلى الله بهذه الصدقة  و لكن الصدقة الواجبة على الأهل أفضل و أكثر أجرا

Sebagian manusia ketika memberikan nafkah kepada keluarganya, ia tidak merasa bahwa ia sedang beribadah kepada Allah dengan nafkah ini. Ketika datang seorang yang miskin lalu ia memberikan satu rial, maka ia merasa sedang beribadah kepada Allah.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 4: 389)

Kita perlu benar-benar memperhatikan nasihat ini. Yang perlu kita ketahui bahwa memberi nafkah kepada anak dan istri itu hukumnya wajib. Apabila ayah menyia-nyiakan hal ini, maka ia berdosa.

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

Harusnya kita lebih berbahagia dan lebih berharap pahala ketika memberi nafkah kepada anak dan istri, karena ini adalah ibadah wajib.

Secara umum, ibadah wajib lebih Allah cintai dan lebih banyak pahalanya daripada ibadah sunah.

Perhatikanlah hadits berikut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهُِ

Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengobarkan peperangan dengannya. Dan tidaklah ada seorang hamba-Ku yang mendekatkan dirinya kepada-Ku, dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya’.” (HR. Bukhari no. 6502)

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadits ini,

فكانت الفرائض أكمل فلهذا كانت أحب إلى الله تعالى وأشد تقريبا

Amalan-amalan yang wajib itu lebih sempurna. Oleh karena itu, lebih dicintai oleh Allah dan lebih mendekatkan diri (taqarrub).” (Fathul Baari, 11: 343, Darul Ma’rifah)

Sungguh ironis apabila ada seorang ayah pelit kepada anak-istri dan keluarga, sedangkan ia sangat baik kepada teman-temannya seperti sering mentraktir teman-temannya.

Oleh karena itu, salah satu cara mengetahui akhlak yang sebenarnya pada seseorang adalah bagaimana sikap dia ketika bermuamalah dengan keluarganya.

Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa yang paling baik adalah mereka yang paling baik kepada keluarganya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Demikian, semoga bermanfaat.

***

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Ustadz dr Raehanul Bahraen MSc SpPK

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> https://chat.whatsapp.com/HdziGSljjeu7mXYdPxEDu8

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Menutup Aib dan Tidak Menyebarkannya

Menutup Aib dan Tidak Menyebarkannya
Bismillah...

Islam sungguh-sungguh berupaya mengisolasi kekejian, bahkan memutus semua jalan yang mengarah kepadanya. 

Diantara upaya itu adalah dengan melarang penyebaran kekejian, baik berupa perbuatan, perkataan ataupun isyarat. 

Islam juga memerintahkan untuk menutup aib-aib kaum muslimin. 

Allah Taala berfirman,

Sesungguhnya orang-orang yang senang agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. An-Nuur: 19) 

Ini adalah ancaman dan peringatan keras bagi siapa saja yang mendengar perkataan jelek, lalu muncul sesuatu pada pikirannya kemudian berbicara. 

Maka janganlah ia banyak berbicara dan menyebarkan kejelekan itu kemana-mana. 

Barangsiapa terjatuh pada perkara ini sehingga akhirnya ia menuduh seorang muslim berbuat keji, maka ia diberi hukuman had di dunia, atau disiksa di akhirat dengan siksaan yang pedih.

Senang dengan tersebarnya kejelekan di kalangan orang beriman memiliki dua makna.

✅ Pertama:

- Senang dengan tersebarnya kejelekan di tengah-tengah masyarakat muslim. 

- Diantara contohnya adalah orang-orang yang mengedarkan film-film porno dan majalah-majalah cabul. 

- Mereka ini jelas termasuk orang-orang yang senang dengan tersebarnya kejelekan di tengah masyarakat muslim. Mereka ingin membuat fitnah terhadap agama kaum muslimin melalui majalah dan film tersebut. 

- Dan diikutkan kepada mereka ini, orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mencegah penyebaran film dan majalah itu, akan tetapi membiarkannya tersebar di tengah masyarakat muslim. 

✅ Kedua:

- Senang dengan tersebarnya berita kejelekan tentang seorang muslim.

- Menutup Aib Diri Sendiri

- Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, 

Semua umatku akan dimaafkan kecuali orang- yang terang-terangan (melakukan maksiat). Termasuk orang yang terang-terangan adalah orang yang melakukan perbuatan (jelek) di malam hari, sedangkan Allah telah menutupi perbuatannya itu, akan tetapi di pagi hari ia berkata, "Hai fulan, tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.” 

Padahal sungguh Allah telah menutupi perbuatannya sepanjang malam, namun keesokan harinya ia membuka aib yang telah Allah tutupi itu.

(Muttafaqun alaih).

Pada hadits ini, Nabi shallallahu alaih wa sallam mengatakan bahwa orang yang terang-terangan berbuat maksiat tidak dimaafkan. 

Orang yang seperti ini ada dua macam:

✅ Pertama:

Orang yang berbuat maksiat secara terang-terangan di depan orang lain, dan dilihat oleh mereka. 

Orang seperti ini jelas tidak dimaafkan, dan termasuk orang yang terang-terangan berbuat maksiat karena dengan perbuatannya itu ia telah menyeret dirinya dan orang lain kepada kecelakaan. 

Menyeret dirinya sendiri kepada kecelakaan, karena ia telah menzalimi dirinya dengan berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. 

Dan setiap orang yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah zalim kepada dirinya sendiri.

Allah Taala berfirman, 

Dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. al-Baqarah: 57) 

Adapun maksud menyeret orang lain kepada kecelakaan adalah bahwa ketika orang-orang melihatnya berbuat maksiat secara terang-terangan, maksiat itu menjadi tampak ringan di hadapan mereka. 

Sehingga mereka pun akan melakukan seperti yang dia lakukan. Jadilah ia termasuk orang yang menyeru kepada neraka. 

Allah Taala berfirman tentang pengikut Firaun,

Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” (QS. al-Qhashash: 41)

✅ Kedua:

Orang yang berbuat maksiat di malam hari, di dalam rumahnya, dalam keadaan Allah menutupi dirinya dari pandangan manusia sehingga tidak ada seorangpun yang melihat. 

Akan tetapi kemudian di pagi harinya, ia bercerita kepada orang lain tentang maksiat yang telah ia lakukan. 

Ada dua sebab orang melakukan hal ini.

✅ Pertama:

Karena kelalaian dan tanpa maksud buruk. Ia menceritakan perbuatan jeleknya dengan niat yang baik, bukan dengan tujuan yang buruk.

✅ Kedua:

Orang yang menceritakan kemaksiatan karena merasa bangga dan bersikap tidak sepantasnya terhadap keagungan Allah. Ia menceritakan perbuatannya seperti orang yang mendapatkan harta rampasan perang. Ini adalah jenis orang yang paling jelek. 

Wal’iyadzu billah.

Maka sudah selayaknya seseorang menutupi apa yang telah ditutupi oleh Allah Taala, memuji-Nya atas keselamatan dari pandangan manusia, dan bertaubat dari maksiat yang ia lakukan secara sembunyi-sembunyi. 

Apabila ia bertaubat kepada Allah, niscaya Allah akan menutup aib tersebut di dunia dan akhirat.

⬛️ Menutup Aib Orang Lain.

Sesungguhnya manusia itu memiliki dua sifat yang tidak baik. 

Yaitu suka berbuat zalim dan sering berlaku bodoh.

Allah Azza wa Jalla menerangkan hal ini dalam firman-Nya,

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzaab : 72).

Seorang berlaku zalim ketika ia melakukan kesalahan dengan sengaja. Dan ia berlaku bodoh ketika melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Inilah keadaan manusia, kecuali orang yang dijaga oleh Allah Azza wa Jalla, dan diberi taufiq untuk mendapatkan ilmu dan bersikap adil. 

Orang yang demikian ini akan berjalan dengan kebenaran dan membimbing orang lain kepadanya. Akan tetapi sifat dasar/tabiat manusia adalah memiliki kekurangan dan cacat. 

Seorang muslim wajib menutupi aib saudaranya sesama muslim, dan tidak menyebarkannya kecuali dalam keadaan darurat. 

Karena bisa jadi saudaranya sesama muslim itu berbuat kesalahan karena syahwat (keinginan buruk) atau syubhat (pandangan keliru).

Dan orang yang beriman diperintahkan untuk menutup aib saudaranya.

Misalnya, ketika Anda melihat seseorang berdagang dengan cara menipu dan berdusta, janganlah langsung menyebarkan hal itu kepada orang banyak. 

Nasihatilah ia dan tutuplah aibnya. Apabila kemudian ia diberi taufiq, mendapat hidayah dan meninggalkan perbuatan tersebut, itulah yang diharapkan. 

Akan tetapi kalau ia tetap pada kebiasaannya, Anda wajib menjelaskan keburukannya pada orang banyak agar mereka tidak tertipu dengannya. 

Intinya, selama aib seorang muslim masih mungkin untuk ditutupi, dan tidak ada maslahat atau kondisi darurat yang mendesak untuk disebarkan, tutuplah aibnya dan jangan sebarkan.

Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda,

Tidaklah seorang hamba menyembunyikan aib hamba yang lain di dunia, kecuali Allah akan menyembunyikan aibnya di akhirat.” (HR. Muslim)

Menutup aib orang lain kadang terpuji dan kadang tercela, sesuai dengan keadaannya. 

Terpuji, apabila berkenaan dengan seseorang yang lurus agamanya, tidak biasa melakukan kekejian dan kezaliman, kecuali sedikit sekali. 

Orang seperti ini sepantasnya disembunyikan aibnya, dinasihati dan diterangkan kepadanya bahwa dia salah. Menutup aib orang seperti ini termasuk yang dipuji. 

Adapun orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, meremehkan segala perkara, jahat, dan suka berbuat zalim kepada orang lain, aibnya tidak pantas untuk ditutupi. 

Bahkan disyariatkan agar ia diadukan kepada pihak berwenang agar mereka bisa mencegah perbuatan buruknya itu, dan ia dapat menjadi pelajaran bagi yang lain.

Dengan ini, menutup aib orang lain tergantung maslahat yang diperoleh. Apabila menutup aib orang lain lebih bermaslahat, itulah yang utama. Namun apabila menjelaskan aib orang lain lebih bermaslahat, itulah yang utama. 

Jika seseorang ragu antara menyembunyikan atau membongkar aib orang lain, yang lebih utama adalah menyembunyikannya.

(Referensi: Syarh Riyadh ash-Shalihin , Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; Bahjah an-Nadhirin Syarh Riyadh ash-Shalihin ).


Sumber: Buletin Dakwah Jumat AS-SUNNAH Ed.121

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> https://chat.whatsapp.com/JnqiVOnUo7ZD2BE0YULzLL

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Nafkah itu Utang

Nafkah itu Utang
Bismillah...

✅ Pertanyaan :

Assalamualaikum..saya merupakan seorang isteri kedua. Suami saya tidak pernah memberikan nafkah kepada isteri pertama walaupun telah diperintahkan mahkamah syariah untuk melakukannya.

selama hayat isteri pertama saya yang menanggung nafkah yaitu sebanyak RM1,500 nafkah bulanan + RM1,500.00 nafkah tunggakan setiap bulan sehingga beliau wafat.

Sekarang suami saya telah menjual rumah beliau , bolehkah saya meminta wang nafkah yg sepatutnya dibayar suami saya kepada isteri pertama beliau dari hasil penjualan rumah beliau..?

wassalam

✅ Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sering kami tegaskan bahwa suami memiliki tanggung jawab utama dalam keluarga, menanggung nafkah istri dan anaknya.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan tanggung jawab ini, diantaranya,

Firman Allah,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Lelaki adalah pemimpin bagi wanita, disebabkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian manusia (lelaki) di atas sebagian yang lain (wanita) dan disebabkan mereka memberi nafkan dengan hartanya ….” (Q.S. An-Nisa’:34)

Allah juga berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Merupakan kewajiban bapak (orang yang mendapatkan anak) untuk memberikan nafkah kepada istrinya dan memberinya pakaian dengan cara yang wajar ….” (Q.S. Al-Baqarah:233)

Dalam hadis dari Muawiyah bin Haidah radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Ya Rasulullah, apa hak istri yang menjadi tanggung jawab kami?

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ أَوْ اكْتَسَبْتَ وَلَا تَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ

Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah engkau memukul wajah, jangan engkau menjelek-jelekkannya (dengan perkataan atau cacian), dan jangan engkau tinggalkan kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad 20013, Abu Daud no. 2142, Ibnu Majah 1850, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Anda bisa simak penjelasan al-Khathabi tentang hadis ini, di bawah ini.

Selama anda masih berstatus sebagai suami, ke manapun anda akan mengantongi tanggung jawab dan kewajiban ini. Sampai terjadi perpisahan, karena cerai atau kematian, atau karena anak-anak sudah dewasa.

⬛️⬛️ Suami Tidak Memberi Nafkah itu Dosa

Kepada para suami,

Sekalipun anda harus pergi meninggalkan keluarga untuk ibadah, kewajiban memberi nafkah tidak pernah gugur. Bahkan jika anda membiarkan mereka secara sengaja tanpa nafkah, anda dianggap telah melakukan dosa.

Wahb bin Jabir menceritakan, bahwa mantan budak Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu pernah pamit kepadanya, “Saya ingin beribadah penuh sebulan ini di Baitul Maqdis.”

Sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, langsung bertanya kepada beliau, “Apakah engkau meninggalkan nafkah untuk keluargamu yang cukup untuk makan bagi mereka selama bulan ini?

Belum.” Jawab orang itu.

Kembalilah kepada keluargamu, dan tinggalkan nafkah yang cukup untuk mereka, karena saya mendengar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كفى بالمرء إثماً أن يضيع من يقوت

Seseorang dianggap melakukan dosa, jika dia menyia-nyiakan orang yang orang yang wajib dia nafkahi.” (HR. Ahmad 6842, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam riwayat lain dinyatakan,

إِنَّ الله سائل كل راع عما استرعاه: أحفظ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بيته

Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang rakyatnya, apakah dia jaga ataukah dia sia-siakan. Hingga seorang suami akan ditanya tentang keluarganya. (HR. Ibnu Hibban 4493 dan dihasankan oleh al-Albani).

⬛️⬛️ Nafkah adalah Utang

Kepada para suami, pemimpin rumah tangga.

Anda jangan merasa tenang, ketika anda tidak lagi ditagih dan tidak lagi dikejar untuk memberikan nafkah. Karena kewajiban nafkah ini adalah kewajiban syariat.

Hukum yang selalu mengikat di dunia dan di akhirat.

Karena itu, jika saat ini anda merasa bebas tidak memberikan nafkah kepada keluarga, anda perlu ingat, bahwa ini tidak selesai dan berakhir di dunia. Masalah ini akan berlanjut di akhirat.

Karena nafkah yang tertunda adalah utang, dan anda harus melunasinya.

Imam al-Khithabi (w. 388 H), seorang ulama ahli hadid dan ahli bahasa bermadzhab Syafiiyah, beliau menjelaskan hadis dari Muawiyah bin Haidah tentang tugas-tugas suami,

في هذا إيجاب النفقة والكسوة لها ، وهو على قدر وسع الزوج ، وإذا جعله النبي ( صلى الله عليه وسلم ) حقا لها ، فهو لازم حضر ، أو غاب ، فإن لم يجد في وقته ، كان دينا عليه كسائر الحقوق الواجبة ، سواء فرض لها القاضي عليه أيام غيبته ، أو لم يفرض.

"Dalam hadis ini terdapat pelajaran tentang kewajiban memberi nafkah dan pakaian untuk istri. Besarnya nafkah itu, sesuai dengan kemampuan suami. Jika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikannya sebagai hak istri, maka nafkah itu menjadi wajib ditunaikan, baik dia di rumah atau tidak di rumah. Jika saat ini belum ada, maka itu menjadi utang baginya sebagaimana kewajiban yang terkait hak manusia lainnya. Baik diputuskan oleh hakim ketika dia tidak ada, atau tidak diputuskan hakim.”

Keterangan al-Khitabi ini dinukil oleh al-Baghawi – ulama syafiiyah – (w. 516) dalam Syarh as-Sunnah di bab Hak dan Kewajiban Suami Istri, jilid 9, hlm. 160.

⬛️⬛️ Itsar yang Luar Bisa

Itsar: mendahulukan orang lain, dari pada diri sendiri.

Sikap anda dengan memberikan nafkah kepada istri pertama sangat luar biasa. Tidak semua wanita mampu melakukannya. Semoga Allah memberikan balasan terbaik bagi anda.

Karena sejatinya ini kewajiban suami, anda berhak untuk meminta ganti dari suami.

Allahu a’lam.


Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

WAJIB Belajar Ilmu Agama Sampai Mati

WAJIB Belajar Ilmu Agama Islam Sampai Mati
Bismillah...

Ilmu Syar’i adalah cahaya penerang bagi kehidupan seorang hamba di dunia menuju ke alam akhirat. 

Maka, barangsiapa menuntut ilmu syar’i dengan niat ikhlas karena Allah dan dengan tujuan agar meraih keridhoan-Nya semata, niscaya ia tidak akan berhenti dan merasa bosan dari menuntut ilmu syar’i sebelum kematian menjemputnya. 

Allah Ta’ala berfirman: 

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ اليَقِينُ

Beribadahlah engkau kepada Allah hingga datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah selalu membawa Pena dan Tinta (untuk mencatat hadits dan faedah ilmiyah, pent) meskipun Beliau telah lanjut usia. 

Maka Ada seseorang yang bertanya kepadanya: 

Sampai kapankah engkau berbuat demikian?” 

Beliau jawab: 

Hingga aku masuk ke liang kubur.”

(Lihat Manaaqibu Ahmad, karya Ibnul Jauzi hal.31, dan Talbiisu Ibliis, karya Ibnul Jauzi hal.400) 

Beliau juga pernah berkata: 

"Aku akan terus-menerus menuntut ilmu agama sampai aku masuk ke liang kubur.

(Lihat Syarofu Ashhaabi Al-Hadiits, karya Al-Khothib Al-Baghdadi hal.136) 

Abu Ja’far Ath-Thobari rahimahullah menjelang wafatnya berkata: 

Sepantasnya bagi seorang hamba agar tidak meninggalkan (kewajiban) menuntut ilmu agama sampai ia mati.”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dlm Tarikh Dimasyqo juz.52 hal.199. Lihat pula Al-Jaliisu Ash-Shoolih karya Al-Mu’afi bin Zakariya III/222) 

Ada seseorang bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarok (ulama tabi’in) rahimahullah: 

Sampai kapan engkau menulis (mempelajari) hadits?” 

Beliau jawab: 

Selagi masih ada kalimat bermanfaat yang belum aku catat.”

(Lihat Al-Jaami’ Li Akhlaaqi Ar-Roowi, karya Al-Khothib Al-Baghdadi IV/419)


Oleh: Ustadz Muhammad Wasitho Lc


Sumber http://www.salamdakwah.com/artikel/1307-wajib-belajar-ilmu-agama-sampai-mati

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/JnqiVOnUo7ZD2BE0YULzLL

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Hati-hati Mengambil Sumber Ilmu

Hati-hati Mengambil Sumber Ilmu
Bismillah...

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebagian masyarakat punya prinsip, ketika dia mengikuti amalan dan ajaran seorang guru, maka dia bebas dari tanggung jawab.

Sehingga kalau dia salah mengikuti guru, nanti yang akan menanggung dosanya adalah gurunya.

Prinsip semacam ini tidak benar dan bertentangan dengan penjelasan yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an.

Diantaranya, Allah menceritakan pertengkaran antara tokoh sesat dan pengikutnya

قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآَتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لَا تَعْلَمُونَ

Apabila mereka masuk neraka semuanya berkatalah orang yang masuk neraka belakangan kepada orang yang lebih dahulu masuk neraka, “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”. Allah berfirman: “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.”

Orang yang sudah lebih dulu masuk neraka membalas,

وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ

Dan orang yang masuk neraka lebih awal berkata kepada orang yang masuk belakangan, “Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan.” (Al-A’raf: 38 – 39)

Kita bisa lihat, mereka saling menyalahkan dan bahkan meminta kepada Allah, agar siksaan kawannya ditambah.

Allah juga bercerita, penyesalan sebagian penduduk neraka karena mereka mengikuti tokoh yang sesat,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ( ) يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ( ) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

(ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. ( ) Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). ( ) Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS. al-Furqan: 27 – 29)

Kita bisa perhatikan penyesalan mereka di hari kiamat, hingga mereka gigit jari. Mereka menyesal, mengapa dulu mengikuti guru sesat itu.

Padahal sudah datang peringatan yang sangat jelas yang menunjukkan kesesatannya.

Karena itulah, semua mukmin menyadari, mengambil sumber ilmu, akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.

Prinsip apapun yang terjadi sudah ditanggung guru, harus ditinggalkan. Jika dia jelas menyimpang, membela kekufuran, jangan lagi dijadikan referensi dalam ilmu agama.

Dulu Muhammad biin Sirin – ulama tabi’in muridnya Anas bin Malik – mengingatkan,

إن هذا العلم دين ، فانظروا عمن تأخذون دينكم

Ilmu adalah bagian dari agama, karena itu perhatikan, dari mana kalian mengambil agama kalian. (Siyar A’lam an-Nubala’, 4/606)

Orang yang belajar agama, hakekatnya sedang membangun ideologi. Ketika sumber ilmunya orang sesat, akan terbentuk ideologi sesat dari muridnya.

Karena itu, kita terheran ketika seorang doktor alumni Australi dijadikan referensi ilmu agama…

Kita terheran, ketika manusia liberal, dijadikan rujukan dan dimintai komentar masalah islam…

Kita terheran, ketika pembela orang kafir, dijadikan acuan dalam bidang tafsir al-Qur’an…

Betul apa kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: “السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ”

Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh penipuan. Pendusta dianggap benar, sementara orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat diberi amanat, sedangkan orang amanah dianggap pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.” Ada yang bertanya, “Apa itu Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh (masalah agama) yang turut campur dalam urusan masyarakat.” (HR. Ahmad 7912, Ibnu Majah 4036, Abu Ya’la al-Mushili dalam musnadnya 3715, dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth).

Ya Rab, ampuni kami dan selamatkanlah umat ini dari penyimpangan para tokoh-tokoh sesat…


Ditulis oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> https://chat.whatsapp.com/JnqiVOnUo7ZD2BE0YULzLL

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Manfaatkan Cinta Dunia Untuk Meraih Firdaus-Nya

Manfaatkan Cinta Dunia Untuk Meraih Firdaus-Nya
Bismillah...

🌴🌴🌴

Siapa yang tidak cinta dunia, itu merupakan fitrah manusia. Dia juga merupakan senjata bermata dua, bisa mendatangkan kebaikan, bisa juga mendatangkan keburukan.

Tidak diragukan lagi, setan dengan lihainya menjadikan cinta dunia yang ada pada manusia sebagai senjata agar mereka terlena dan lupa akan akherat..

🌴🌴🌴

Sebaliknya, sebenarnya kita juga bisa melawan setan dengan senjata yang sama agar kita selalu mendekat kepada Allah dan mendapatkan firdaus-Nya.

🌴🌴🌴

Bagaimana caranya..?

Yaitu dengan menyisipkan tujuan akherat pada target dunia yang sangat kita cita-citakan.. Lihatlah beberapa contoh berikut ini:

1️⃣. Jika Anda sangat mencita-citakan kekayaan.. Maka, berdo'alah untuk itu dengan menyisipkan tujuan akherat, misalnya dengan mengatakan: "Ya Allah berikanlah aku harta yang melimpah, berkah, bermanfaat bagi agama-Mu dan bisa memasukkanku ke surga firdaus-Mu.."

2️⃣. Jika Anda masih jomblo dan menginginkan isteri yang cantik dan salehah yang merupakan perhiasan terbaik dunia, maka berdoalah dengan mengatakan: "Ya Rabb, anugerahkan kepadaku isteri yang cantik dan salehah, yang diberkahi, dan bisa mengantarkanku ke firdaus-Mu.."

3️⃣. Jika Anda seorang pelajar, dan menginginkan prestasi yang tinggi, maka berdoalah dengan mengatakan: "Ya Allah, berikanlah aku kesuksesan dalam belajar dan ilmu yang bermanfa'at dan berkah, yang bisa memasukkanku ke dalam surga firdaus-Mu.."

(Silahkan dikembangkan sendiri dengan contoh-contoh lainnya)

🌴🌴🌴

Jika memang itu menjadi cita-cita besar kita, tentu kita akan rajin dan semangat berdo'a kepada Allah untuk itu.. Dengan banyak berdo'a tentunya kita akan semakin dekat kepada Allah.. Dengan semakin dekat kepada Allah, tentunya do'a kita kemungkinan besar akan terkabul..

Dan akhirnya, kita mendapatkan kebaikan dunia dan akherat.. Semoga bermanfa'at, amin.


Ditulis oleh, Ustadz Dr. Musyaffa' Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى 

======🌴🌴🌴🌴🌴======

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/18214

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts