Saudaraku, berhati-hatilah. Pada zaman ini semakin banyak manusia yang tidak lagi peduli dan perhatian dalam menukil tulisan, dan pembicaran di WA, Telegram, Facebook, Instagram dan lain-lain, tanpa memastikan dahulu akan kebenarannya.
Mereka seringkali dengan mudah untuk menshare hadits-hadits yg palsu, bathil, tidak ada asal usulnya, munkar, dho'iifun jiddan dll. Perkara ini termasuk dari dosa besar yang dapat menyesatkan manusia, & memfitnah mereka dalam kedustaan.
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :
(1). "Barangsiapa yg telah berdusta atas (nama)ku dgn sengaja maka hendaklah dia pun mengambil tempat tinggalnya di api Neraka" (HR. Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3, hadits dari Abu Hurairah)
(2). "Sesungguhnya orang yang berdusta atas (nama)ku, nanti akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di Neraka" (HR. Ahmad II/22, 103, 144, hadits dari Ibnu Umar, lihat Shahiihul Jaami’ no. 1694 )
(3). "Sesungguhnya (orang yang telah) berdusta atas (nama)ku tidaklah sama dengan (dia) berdusta kepada orang lain. Karena barangsiapa yang berdusta atas (nama)ku dgn sengaja, maka hendaklah dia pun mengambil tempat tinggalnya di api Neraka" (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4, hadits dari al-Mughiirah)
(4). "Cukuplah seseorang itu dianggap pendusta, (yaitu) saat dia menceritakan (menyebarkan) setiap apa saja yang dia dengar" (HR. Muslim no. 5, hadits dari Abu Hurairah)
Imam Ibnu Hibban رحمه الله berkata :
"Didalam hadits telah ada ancaman bagi seseorang yg menyampaikan setiap apa yang dia dengar, sampai dia mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits atau riwayat itu adalah shahih" (Majruhin minal Muhadditsiin I/16-17)
✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar
Instagram : @najmiumar_official
Youtube : najmi umar official
===============================
Wallahu a'lam bishawab.
Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].
Jazaakumullahu khairan.







