Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah

Menaruh Pelepah Kurma Diatas Kubur

Hukum Menaruh Pelepah Kurma Diatas Kubur
Bismillah...

Sebagian orang meletakkan bunga-bunga atau daun-daun yang masih segar di atas kubur ketika ziarah kubur karena mengikuti perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdasarkan hadits dibawah ini, 

Dari Ibnu Abbas Radhiyallaahu anhuma beliau berkata, 

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua buah kuburan. Lalu Beliau bersabda, ”Sungguh keduanya sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namiimah.” Kemudian Beliau mengambil pelepah basah. Beliau belah menjadi dua, lalu Beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, ”Wahai, Rasulullah. Mengapa Rasul melakukan ini?” Beliau menjawab, ”Semoga mereka diringankan siksaannya, selama keduanya belum kering.” (Riwayat Bukhari dan Muslim). 

Para ulama berbeda pendapat tentang perkara menabur bunga berdasarkan hadits ini. Apakah ini bersifat umum atau khusus bagi Nabi shallallahu alaihi wa sallam. 

Dan pendapat yang kuat adalah bersifat khusus, hanya bagi Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Karena tidak ada riwayat bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya setiap ziarah kubur meletakkan pelepah pohon kurma atau bunga-bunga segar di atas kubur. Ulama yang menguatkan pendapat ini berdasarkan hadits yang lain, bahwa diringankan azab kubur itu karena syafaat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إني مررت بقبرين يعذبان فأحببت بشفاعتي أن يرفه عنهما ما دام الغصنان رطبين

Saya melewati dua buah kubur yang penghuninya tengah diadzab. Saya berharap adzab keduanya dapat diringankan dengan SYAFA'ATKU selama kedua belahan pelepah tersebut masih basah.” (HR. Muslim: 3012).

Disebutkan dalam kitab Ahkamu Al Janaiz, 

Berkata al-Khattabi rahimahullah, 

وأما غرسه أو شق العسيب على القبر وقوله ( ولعله يخفف عنهما ما لم ييبسا ) فإنه من ناحية التبرك بأثر النبي صلى الله عليه وسلم ودعائه بالتخفيف عنهما ، وكأنه جعل مدة بقاء النداوة فيهما حدا لما وقعت به المسألة من تخفيف العذاب عنهما ، وليس ذلك من أجل أن في الجريد الرطب معنى ليس في اليابس ، والعامة في كثير من البلدان تغرس الخوص في قبور موتاهم ، وأراهم ذهبوا إلى هذا ، وليس لما تعاطوه من ذلك وجه . أهـ

Adapun menanam pelepah Kurma atau mematahkan menjadi dua dan sabdanya (mudah-mudahan ini bisa meringankan keduanya selama pelepah ini belum kering), maka sesungguhnya ini diantara aspek mengambil berkah dari apa yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan begitu juga dari doanya agar diringankan adzab keduanya. Seakan-akan beliau menjadikan masa kelembaban kedua pelepah kurma tersebut sebagai batas bagi keringanan adzab. Itu bukan karena pelepah kurma yang basah mempunyai kelebihan dibanding pelepah yang kering. Adapun orang-orang awam di banyak negara Islam yang menanam pelepah kurma di kuburan, saya kira mereka berpendapat seperti itu, tetapi apa yang mereka kerjakan sebenarnya tidak mempunyai dasar.” 

وما قاله الخطابي صحيح ، وهذا هو الذي فهمه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، إذ لم ينقل عن أحد منهم أنه وضع جريدا ولا أزهارا على قبر سوى بريدة الأسلمي ، فإنه أوصى أن يجعل في قبره جريدتانويبعد أن يكون وضع الجريد مشروعا ويخفى على جميع الصحابة ما عدا بريدة

Apa yang dikatakan al-Khattabi benar adanya, dan inilah yang dipahami oleh sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tidak pernah ada riwayat dari seorang sahabatpun, bahwa mereka meletakkan pelepah kurma dan bunga-bungaan di atas kuburan, kecuali dari Buraidah al-Aslami radhiyallahu 'anhu, yang mewasiatkan agar ditanam dua pelapah kurma di atas kuburannya. Dan sangat jauh, kalau meletakkan pelepah kurma ini menjadi hal yang disyariatkan, sedang seluruh sahabat tidak mengetahuinya kecuali Buraidah. “ 

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah, 

قال بن رشيد ويظهر من تصرف البخاري أن ذلك خاص بهما فلذلك عقبه بقول بن عمر إنما يظله عمله

Berkata Ibnu Rasyid : “Apa yang dilakukan oleh al-Bukhari menunjukkan bahwa hal tersebut hanya khusus bagi kedua penghuni kubur tersebut, oleh karena itu al-Bukhari mengomentari perbuatan Buraidah tersebut dengan membawakan perkataan Ibnu Umar (Sesungguhnya seseorang hanya akan dinaungi oleh hasil amalnya).“ (Fathu al-Bari (3/223))


http://abufadhelmajalengka.blogspot.com/2023/01/menaruh-pelepah-kurma-di-atas-kubur.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Doa di Hari Jum'at Setelah Waktu Ashar

Doa di Hari Jum'at Setelah Waktu Ashar
Bismillah...

Mumpung Masih ada waktu....jumat sore..doa2 dikabulkan... ini doa kumplit banget...

Ini ada doa yang Maasyaa Allah luar biasa

‎اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، وَمَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ مِمَّا سَأَلَكَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِمَّا تَعَوَّذَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَمَا قَضَيْتَ لِيْ مِنْ قَضَاءٍ فَاجْعَلْ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا.

‎(رواه الحاكم، وصححه الألباني)

Allohumma innii as aluka minal khoiri kullihi, 'aajilihi wa aajilihi, maa 'alimtu minhu wa maa lam a'lam, wa a'uudzu bika minasy syarri kullihi, 'aajilihi wa aajilihi, wa maa 'alimtu minhu wa maa lam a'lam, wa as alukal jannata wa maa qorroba ilaihaa min qoulin au 'amalin, wa a'uudzu bika minannaari wa maa qorroba ilaihaa min qoulin au 'amalin, wa as aluka mimmaa sa-alaka bihi muhammadun -shallallahu 'alaihi wa sallam-, wa a'uudzu bika mimmaa ta'awwadza bihi muhammadun -shallallahu 'alaihi wa sallam-, wa maa qodhoita lii min qodhoo-in faj'al 'aaqibatahuu rusydaa.

Artinya:

"Ya Allah, aku meminta seluruh kebaikan, baik yang cepat maupun yang lambat, yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui, dan aku berlindung dari seluruh keburukan, yang cepat maupun yang lambat, yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. 

Dan aku meminta surga dan yang mendekatkan kepadanya dari perkataan atau perbuatan, dan aku berlindung dari neraka dan yang mendekatkan kepadanya dari perkataan atau perbuatan. 

Dan aku meminta segala sesuatu yang diminta oleh Nabi Muhammad-shallallahu 'alaihi wa sallam- dan berlindung dari segala yang diminta perlindungannya oleh Nabi Muhammad -shallallahu 'alaihi wa sallam-.

Dan apapun yang Engkau takdirkan untukku, maka jadikanlah kebaikan pada akhirnya."

(HR. Hakim dan di shahihkan Syeikh Albani)


Semoga kita semua bisa menghafal dan membacanya dimanapun juga. Aamiin.


Ditulis oleh: Ust Muhammad Nuzul Dzikri

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


 

Share:

Batasan Waktu Dzikir Pagi Petang

Batasan Waktu Dzikir Pagi Petang
Bismillah...

Assalamualaykum Ustadz izin bertanya dan mohon maaf kalao sebelumnya pernah ada yg bertanya hal serupa…

Ustadz, batasan waktu untuk mengamalkan dzikir petang bagaimana ustadz? 

Apakah sampai matahari terbenam? Atau boleh sampai hampir pertengahan malam?

Dari : Agung Wahyu Rohmanto

✅ Jawaban :

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah walhamdulillah, wassholaah was salam’ala Rasuulillah, wa ba’du.

Seperti namanya dzikir pagi dan petang, demikian pula waktunya, dzikir pagi diucapkan di pagi hari, dzikir petang di petang hari.

Allah ta’ala berfirman

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

"Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam". (QS. Qaf : 39)

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

"Bertasbihlah kepada Allah pada petang hari dan pada pagi hari (waktu subuh),

(QS. Ar-Rum : 17)

وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

dan bertasbihlah kepada-Nya pada saat bukroh dan ashiil".

(QS. Al-Ahzab : 42)

Bukroh maknanya adalah awal hari, yaitu antara subuh sampai terbit matahari.

Adapun ashil adalah, sore hari, antara asar sampai tiba waktu maghrib.

(Lihat : Al -Wabil As Shoyyib, Ibnul Qayyim, hal. 93)

🟩 Waktu Afdhol

Dua waktu diatas (Bukroh dan Ashiil), adalah waktu yang paling afdhol untuk berdzikir pagi dan petang. 

Antara subuh dan terbit matahari, waktu afdhol untuk dzikir pagi. Dan antara asar sampai maghrib adalah waktu afdhol untuk berdzikir sore.

🟩 Waktu Longgar

Adapun di luar waktu afdhol, di sana ada waktu longgar untuk berdzikir pagi petang.

Yaitu pagi dimulai dari setengah malam terakhir sampai sebelum tergelincir matahari ke barat (waktu dhuhur/zawal).

Kemudian sore dimulai sejak zawal sampai akhir pertengahan malam awal.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyyah dijelaskan,

وقت الصباح يبدأ من نصف الليل الأخير إلى الزوال ، وأفضل وقت لأذكار الصباح الإتيان بها بعد صلاة الصبح حتى تطلع الشمس ، كما أن وقت المساء يبدأ من زوال الشمس إلى نهاية نصف الليل الأول ، وأفضل وقته من بعد صلاة العصر حتى تغرب الشمس.

Waktu pagi dimulai sejak setengah malam yang akhir sampai waktu waktu zawal. Namun waktu afdhol untuk dzikir pagi adalah membacanya setelah subuh sampai terbit matahari. Sebagaimana waktu petang dimulai sejak zawal sampai akhir setengah malam awal. Namun waktu yang afdhol untuk dzikir petang adalah setelah asar sampai tenggelamnya matahari.” (Fatawa Syabakah Islamiyyah no.106945)

Artinya saat seorang lupa, ketiduran atau faktor halangan lainnya, untuk dapat berdzikir pagi dan petang di waktu yang afdhol, maka dia masih berkesempatan membaca dzikir-dzikir itu di waktu longgar di atas.

Wallahualam bis showab.


Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/HdziGSljjeu7mXYdPxEDu8

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Shirath Jembatan Diatas Neraka

Shirath Jembatan Diatas Neraka
Bismillah...

وَإِن مِّنكُمۡ إِلَّا وَارِدُهَاۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتۡمٗا مَّقۡضِيّٗا

"Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan".

(QS. Maryam ; 71)

 وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ إِلَّا الرُّسُلُ وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَفِي جَهَنَّمَ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ هَلْ رَأَيْتُمْ السَّعْدَانَ قَالُوا نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مَا قَدْرُ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ تَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ

"Dan shirath (jembatan) pun dibentangkan di dua sisi Jahannam, sementara aku dan ummatkulah yang pertama kali menyebranginya, tidak ada seorangpun yang angkat bicara selain para rasul.."

Sedangkan do'a para rasul waktu itu adalah "Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah."

Dan di neraka jahannam terdapat besi-besi pengait seperti duri pohon Sa'dan, "Apakah kalian tahu pohon Sa'dan?"

Para sahabat menjawab; "Ya, wahai Rasulullah".

Beliau ﷺ bersabda, 

"Sesungguhnya pengait-pengait tersebut seperti pohon Sa'dan, hanya tidak ada yang tahu ukuran besarnya selain Allah. Ia akan menyambar siapa saja menurut amalan mereka".

(HR. Shahih Muslim no. 267)

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."

(QS. Al Ahzab ; 56)

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

Perbanyaklah shalawat kepadaku  pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” 

(HR. Baihaqi,Hadits Hasan lighoirihi dalam Sunan Al Kubro)

إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين

Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, maka ia akan disinari oleh cahaya di antara dua Jum’at

(HR. An Nasa’i dan Baihaqi hadits Shahih / Shohihul Jami' no 6470)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan. 

Share:

Pendakwah Memang Bukan Penentu Surga dan Neraka...

Pendakwah Memang Bukan Penentu Surga dan Neraka...
Bismillah...

Kita memang bukan penentu Surga Dan Neraka seseorang. Tugas kita hanya menjelaskan hukum-hukum-Nya yang jika ditaati adalah jalan menuju Surga, adapun jika dilanggar maka jalan menuju Neraka.

Jika telah menjelaskan hukum, namun masih dibilang

"Siapa anda ? Anda bukan penentu Surga Dan Neraka seseorang !"

Lantas apa fungsinya Allah Azza Wa Jalla menurunkan hukum-Nya dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskannya, kemudian diuraikan oleh Para Ulama kemudian kita jelaskan dan sampaikan kepada orang yang membutuhkan ? Berkacalah.

Ketahuilah ! Peringatan itu hanya berfungsi kepada orang yang beriman (mukmin), selain dari itu maka tanyakan lagi kepada diri sendiri dimana letak keimanannya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَّذَكِّرْ فَاِ نَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ

"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin." (QS. Az-Zariyat [51] : 55)

Keimanan itu bukan hanya sekedar beriman bahwa Allah Sang Pencipta dan Pemberi Rezeki dalam hati dan lisan namun juga harus dibarengi menjalankan konsekuensinya dalam pengamalan anggota tubuh yaitu menaati segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena Pengakuan Rububiyah-Nya itu berkonsekuensi menegakkan Hak Uluhiyah-Nya.

Menaati perintah Allah artinya menjalankan rukun Islam dan amalan yg di sunnahkan.

Menjauhi larangan Allah artinya tidak berbuat syirik, bid'ah dan maksiat.

Kalau masih belum paham, belajar lagi perkara Tauhid dari dasar lagi.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid028Xw3HSDqQKHqKXw5nBvHfJ5pdYndLsvf2zbcgAUbhKfj2w7bqeSaz4vGZrPBqPt2l&id=100081182600047


Atha bin Yussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Ancaman Bagi Seseorang Yang Berdusta Atas Nama Nabi ﷺ

Ancaman Bagi Seseorang Yang Berdusta Atas Nama Nabi Muhammad ﷺ
Bismillah...

Saudaraku, berhati-hatilah. Pada zaman ini semakin banyak manusia yang tidak lagi peduli dan perhatian dalam menukil tulisan, dan pembicaran di WA, Telegram, Facebook, Instagram dan lain-lain, tanpa memastikan dahulu akan kebenarannya.

Mereka seringkali dengan mudah untuk menshare hadits-hadits yg palsu, bathil, tidak ada asal usulnya, munkar, dho'iifun jiddan dll. Perkara ini termasuk dari dosa besar yang dapat menyesatkan manusia, & memfitnah mereka dalam kedustaan.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :

(1). "Barangsiapa yg telah berdusta atas (nama)ku dgn sengaja maka hendaklah dia pun mengambil tempat tinggalnya di api Neraka" (HR. Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3, hadits dari Abu Hurairah)

(2). "Sesungguhnya orang yang berdusta atas (nama)ku, nanti akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di Neraka" (HR. Ahmad II/22, 103, 144, hadits dari Ibnu Umar, lihat Shahiihul Jaami’ no. 1694 )

(3). "Sesungguhnya (orang yang telah) berdusta atas (nama)ku tidaklah sama dengan (dia) berdusta kepada orang lain. Karena barangsiapa yang berdusta atas (nama)ku dgn sengaja, maka hendaklah dia pun mengambil tempat tinggalnya di api Neraka" (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4, hadits dari al-Mughiirah)

(4). "Cukuplah seseorang itu dianggap pendusta, (yaitu) saat dia menceritakan (menyebarkan) setiap apa saja yang dia dengar" (HR. Muslim no. 5, hadits dari Abu Hurairah)

Imam Ibnu Hibban رحمه الله berkata : 

"Didalam hadits telah ada ancaman bagi seseorang yg menyampaikan setiap apa yang dia dengar, sampai dia mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits atau riwayat itu adalah shahih" (Majruhin minal Muhadditsiin I/16-17)


Ustadz Najmi Umar Bakkar

https://telegram.me/najmiumar

Instagram : @najmiumar_official

Youtube : najmi umar official

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Allah Butuh Arsy?

Benarkah Allah Butuh Arsy?
Bismillah...

Ketika Allah Ta'ala berfirman, bahwa Dia beristiwa di atas Arsy, lantas orang-orang ahlul hawa mengatakan, "Kalau begitu Allah Ta'ala butuh dengan Arsy, butuh dengan makhluk-Nya?"

Kalau begitu logikanya, berarti Allah Ta'ala menciptakan Malaikat dan yang lainnya, berarti Allah Ta'ala butuh dengan Malaikat dan yang lainnya ? Seperti malaikat yang memikul Arsy misalkan. 

Allah Ta'ala berfirman, 

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ... 

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya...“ (QS. Ghafir: 7). 

Dan Allah Ta'ala berfirman, 

وَالْمَلَكُ عَلَىٰ أَرْجَائِهَا ۚوَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat memikul ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka.” (QS. Al-Haaqqah: 17). 

Allah Ta'ala menciptakan makhluk-Nya berupa Arsy, malaikat dan yang lainnya, ingin menunjukkan keagungan dan kuasaanNya, bukan karena membutuhkan makhluk-Nya. 

Allah Ta’ala berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya ALLAH MAHA KUASA atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12). 

Allah Ta'ala berfirman, 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15). 

Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dia­lah Yang Mahakaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji“. (QS. Fathir 15).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, 

يخبر تعالى بغنائه عما سواه ، وبافتقار المخلوقات كلها إليه ، وتذللها بين يديه ، فقال : ( يا أيها الناس أنتم الفقراء إلى الله ) أي : هم محتاجون إليه في جميع الحركات والسكنات ، وهو الغني عنهم بالذات; ولهذا قال : ( والله هو الغني الحميد ) أي : هو المنفرد بالغنى وحده لا شريك له ، وهو الحميد في جميع ما يفعله ويقوله ، ويقدره ويشرعه . 

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitakan tentang kemahakayaan-Nya dari selain Dia, semua makhluk berhajat kepada-Nya dan hina di hadapan-Nya. Untuk itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

Hai manusia, kamulah yang berhajat kepada Allah“. (Fathir: 15)

Yakni semuanya berhajat kepada Allah dalam semua gerakan dan diamnya, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak memerlukan sesuatu pun dari mereka. Karenanya dalam firman selanjutnya disebutkan:

dan Allah, Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji“. (Fathir: 15)

Yakni hanya Dia sematalah yang benar-benar Mahakaya, tiada sekutu bagi-Nya dalam sifat-Nya ini, dan Dia Maha Terpuji dalam semua apa yang diperbuat dan dikatakan-Nya, juga dalam semua apa yang ditakdirkan dan yang disyariatkan-Nya. Tafsir Ibnu.

Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,

خَلَقَ الخَلْقَ بِمَشِيْئَتِهِ عَنْ غَيْرِ حَاجَةٍ كَانَتْ بِهِفَخَلَقَ اْلملاَئِكَةَ جَمِيْعًا لِطَاعَتِهِ وَجَبَلَهُمْ عَلَى عِبَادَتِهِ فَمِنْهُمْ مَلاَئِكَةٌ بِقُدْرَتِهِ لِلْعَرْشِ حَامِلُوْنَ وَطَائِفَةٌ مِنْهُمْ حَوْلَ عَرْشِهِ يُسَبِّحُوْنَ وَآخَرُوْنَ بِحَمْدِهِ يُقَدِّسُوْنَ وَاصْطَفَى مِنْهُمْ رُسُلاً إِلَى رُسُلِهِ وَبَعْضٌ مُدَبِّرُوْنَ لِأَمْرِهِ

Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya, bukan karena Allah butuh pada makhluk. Allah menciptakan malaikat seluruhnya untuk taat kepada-Nya. Dan Allah menjadikan tabiat (malaikat) itu adalah beribadah kepada-Nya. Di antara malaikat itu ada yang (bertugas) dengan kemampuannya memikul ‘Arsy. Sebagian lagi bertasbih di sekitar ‘Arsy. Yang lain mensucikan-Nya dengan memuji-Nya. Allah memilih di antara mereka (malaikat) sebagai utusan kepada utusanNya. Sebagian lagi mengatur urusan-urusan lain sesuai perintah-Nya.” Syarhus Sunnah. 

Untuk itu imani saja Ayat-ayat Allah tentang Allah Ta'ala beristiwa di atas Arsy, tidak usah menolak, tidak usah memalingkan maknanya, tidak usah bertanya bagaimananya dan tidak usah disamakan dengan makhlukNya.


https://www.facebook.com/903924823277358/posts/pfbid0FLcpms6Q817SKsz228DYseiqeU24UaYEKLsNJmmJBFEJUwAi9Lx18VKmVtrQ39V5l/


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts